Tol Laut, Apa Kabar?

Dua minggu tak dipasok BBM, bensin kemudian benar-benar menghilang dari kios-kios penjualan. Kalaupun masih ada yang penjual, harganya naik menjadi Rp 20.000 per liter, itu tiga kali lipat dibanding harga sehari-hari. Pasar yang biasa menjadi pusat keramaian tak sesibuk biasanya. Beberapa motor mulai dikandangkan pemilik atau pemakaiannya benar-benar dibatasi.

Ketika bensin benar-benar menghilang beberapa hari kemudian, motor-motor juga benar-benar menghilang dari jalanan. Juga tosa yang menjadi tulang punggung angkutan barang. Beberapa diparkir begitu saja di pinggir jalan. Tetap aman, selain kehabisan nafas toh Midai hanya sebuah pulau. Tanpa bahan bakar, apapun dan siapapun tak bisa keluar pulau. Di sini motor roda tiga disebut tosa apapun merek asli bawaan pabriknya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Berjaya di Laut Sendiri, Mungkinkah?

Tak kunjung reda, angin dan gelombang justru makin kencang. Rokok kretek yang biasa terselip di bibir Kane menghilang dan tak terlihat lagi. Dia bahkan tak lagi duduk, kursinya dipakai jongkok dan kepalanya dilongokkan keluar jendela.

Jadwal lisan yang disebut sang nakhoda lewat pesan pendek itu jelas lewat begitu saja. Janji selepas siang kapal berangkat ke Pulau Subi, Natuna molor tak pasti. Satu jam berlalu, juga jam-jam berikutnya.

Baru pada jam kelima, dari Pelabuhan Pemangkat, Sambas, Kalimantan Barat, sebuah titik kecil nampak di horizon dan terus bertambah besar dan membentuk siluet sebuah kapal kayu. Penduduk setempat lazim menyebut kapal kayu model ini dengan nama pongpong.

KM Mulia Baru II juga tak jauh berbeda. Hampir semua terbuat dari kayu, cat biru yang melapis lambung terlihat mengelupas di sana-sini. Juga cat putih di kabin dan atap jelas terlihat sangat kusam. Tak bisa sandar ke dermaga kapal kayu itu hanya buang sauh di tengah laut. Butuh dua kali balik pongpong kecil agar puluhan penumpang dan barang bisa dipindahkan dari darat ke dek kapal. Baca lebih lanjut

Basuki Resobowo, Kesetiaan Sampai Akhir

La vie est la misere…

Bukan kebetulan jika kalimat pendek itu dipilih Basuki Resobowo untuk mewakili pengalaman hidupnya. Hidup baginya adalah samsara. Simpulan itu tentu tak turun dari langit layaknya wahyu. Itu adalah pengalaman Basuki menghadapi kerasnya menjalani kehidupan sepanjang hayatnya.

Meski lahir di Sumatra, seperti ditunjukkan oleh namanya Basuki Reksobowo adalah Jawa tulen. Sifatnya lugu dan apa adanya dengan tutur bicaranya lirih dan halus cenderung klemak-klemek. Watak ‘Jawa’itu musnah jika menengok matanya. Sorotnya tajam menyiratkan watak keras yang jika marah sinar mata itu seperti mendadak menyala. Meski suaranya tetap lirih nadanya bicaranya menjadi tinggi dan kasar. Ia seperti menjadi orang yang lain.

Itu juga yang terjadi setelah membaca surat istrinya. Basuki benar-benar muntab, S. Soedjojono yang dijuluki Bapak Seni Rupa Modern, sahabat sekaligus mentornya untuk kali kesekian kembali melewati batas. Istrinya menulis Soedjojono mengatakan, “melukis dan politik adalah dua hal yang berlainan. Kalau mau melukis di mana saja bisa, tidak usah dikatakan kalau tidak berada di Indonesia sukar melukis.” Baca lebih lanjut

Stalin Makin Populer, Revolusi 1917 Mungkin Terulang

Seperempat orang Rusia menganggap represi untuk kemanfaatan politik harus dibenarkan dari perspektif sejarah

Dicerca secara luas di Barat Joseph Stalin justru menikmati peningkatan popularitas di Rusia. Popularitasnya melejit tiga kali lipat dibanding tahun 1990 menjadi 24 persen dari sebelumnya yang hanya delapan persen. Saat yang sama popularitas Lenin justru melorot dari 67 persen menjadi 26 persen tahun ini.

Levada, sebuah lembaga penelitian independen menggelar jajak pendapat bulan Maret lalu khusus untuk mengetahui pandangan orang Rusia terhadap Stalin. Hasil jajak pendapat itu menunjukkan, 54 persen responden menunjukkan sikap positif mereka untuk Stalin, 17 persen negatif, 32 persen tidak peduli dan 14 persen tidak menjawab.

Meski begitu, mayoritas responden tetap menganggap kebijakan radikal Stalin yang menewaskan jutaan orang sebagai pelanggaran massa hak asasi manusia. Sementara dua pertiga dari responden setuju menyebut Stalin sebagai tiran dan hanya setengah yang menyatakan ‘pembersihan’ sebagai kejahatan. Baca lebih lanjut

Tomahawk, Menghitung Politik Rudal AS di Suriah

Tindakan militer sulit dicegah karena sejak awal kampanye, Trump menyalahkan “respon Obama yang lemah dan gagal menghukum pelanggaran.” 

Singkat saja, taklimat itu dilakukan sambil berdiri di depan hanggar. Sesekali terlihat pilot menimpali dengan kalimat pendek atau mengangguk tanda mengerti. Tak terburu-buru, tuntas taklimat tangga pesawat dipanjat. Mengecek panel sebentar, mesin segera dinyalakan dengan suaranya yang bergemuruh. Maklum meski uzur dimakan usia suara jet tetap saja membuat pekak telinga.

Badan pesawat bergetar, juga cantelan bom di sayap ketika pelan-pelan pesawat itu meluncur keluar hanggar dan menuju landas pacu. Berbalik sebentar di ujung landasan, jet dipacu sepenuh tenaga dan sebentar saja menghilang di kejauhan.

Itu misi tempur biasa. Rutin dan tak ada yang istimewa. Sedikit berbeda karena pangkalan itu masih penuh puing. Beberapa bahkan belum dibersihkan. Di kejauhan, bangkai truk bahkan masih mengepulkan asap. Baca lebih lanjut

Bulu Mata Katy Perry dan “Pamong Praja”

Buruh wanita pabrik bulu mata di Purbalingga lazim berbagi peran domestik dengan suami. Mereka menyebutnya “pamong praja” singkatan dari “papah momong mamah kerja”

Sejak tiga tahun terakhir kebiasaan Suwarto setiap pagi berubah total. Usai sembahyang Subuh, dia tak lagi santai. Sementara menunggu sang istri menyiapkan sarapan, warga Bojongsari, Purbalingga itu memanaskan mesin sepeda motor sembari memandikan dan mempersiapkan seragam sekolah si sulung.

Beres dengan sarapan, biasanya si sulung langsung nangkring di motor dan sang istri menyusul membonceng. Si bungsunya yang belum sekolah biasa lebih takzim dengan suguhan kartun pagi di televisi.

Mirip ojek, rutinitas pagi Suwarto tetap. Mengantar si sulung sampai sekolah lalu berputar arah mengantar sang istri ke tempat kerja. Keduanya wajib masuk paling lambat jam tujuh pagi, sama-sama penting dan tidak menerima alasan terlambat. Baca lebih lanjut