Kaki Ngali

Matanya setengah terpejam mengawang. Bibirnya bergerak-gerak cepat seperti melafalkan mantra yang dihapalnya luar kepala.
Matahari di luar tenggelam cepat dibalik bukit sementara pohon randu alas dan dapuran bambu ampel tiba-tiba mengubah diri menjadi sebentuk raksasa hitam yang mengerikan.
“Selasa lima, kliwon tiga jadi… Rabu empat Pahing tiga…”
Aroma kemenyan dan klembak yang terbakar di tembakau lintingannya terasa menyengat. Sesekali asapnya menerobos keluar dari gigi-giginya yang menua.
Dialihkan matanya keatas. Pada langit-langit yang penuh ramat, usuk-usuk yang menghitam hingga pantat genting yang memberikan bayangan seram dengan alur-alurnya. Baca lebih lanjut

Hormat

“Mbah…” aku menyapa lirih simbahku yang terhormat. Yang disebut terhormat itu, tubuhnya ringkih dimakan waktu, mlungker seperti ulat keket dengan dekur yang lamat-lamat terdengar. Ya, lamat-lamat tapi tentu saja terdengar sampai didapur.

“Mbah…” kali ini sengaja kesetel agak  kencang volume tenggorokanku plus dehem yang dibuat-buat layaknya pejabat ngetes suara mike. Tetap diam. Beku  hanya angin semilir pelan membelai daun jagung dipot teras rumah.

“Gusti Allah, ini orang tidur apa pingsan siy,” aku mengumpat diam-diam, bukan diam-diam sebetulnya karena umpatanku toh nggak lolos dari mulut. Ya, rapi jali hanya tersimpan dihati.

Duh, alamat jabang bayi kluron kalau sang jagoan nggak berkenan bangun. Atau mungkin cara lama bisa berhasil? Apa salahnya dicoba.  Dekat pohon jambu kaleng susu tergeletak santai. Tak tahu sangkan paraning bilahi, si kaleng, yang lelap kutendang. Gedombyang!! suara terpental si kaleng oleh ujung kakiku. Prang!! Si kaleng mencelat mengajar kaca nako. Kulirik simbah.  “Anjrittttttt!!!” masih kepati. Gagal total.

Aku masuk lagi ke dalam rumah. Kuambil ember hitam, kuisi separuh dan kubawa kedepan. Dekat singgasana simbah, dekat risban itu kutumpahkan airnya ke dengan semangat 45 seperti Bung Tomo menyemangati laskar.

Prenjak

Seekor burung melompat pada pring ampel, yang tumiyung ujungnya menyentuh jendela kamar. Si prenjak ternyata. Kicaunya ngganter-ngganter minta didengar. Sahut menyahut mendendangkan cericit kegembiraan. Dasar jawa, kicau prenjak kuanggap sasmita pralambang akan datangnya tamu jauh.

Ah, biarlah tamu toh mungkin bisa menunggu. Kuamati lagi si prenjak, badannya yang ramping, ekornya yang panjang dan paruhnya yang kecil, selaras benar dengan geliatnya yang trengginas dan sering tiba-tiba. Sesekali kakinya berpindah menjejak, dari carangan yang berdaun kecil-kecil itu lompatannya beralih pada pokok-pokoknya, mematuk sebentar kemudian melompat lagi. Mematuk lagi lalu melompat lagi. Begitu seterusnya hingga sampai di ujung si ampel ini.

Lelah berayun di ujung ampel, kepalanya menoleh kiri kanan seolah mencari sesuatu. Tiba-tiba diayunkan tubuhnya. Hups!! Perpaduan indah antara melompat dan melayang membuatnya berpindah nangkring di pohon jambu kluthuk. Kembali menari-nari kakinya dimusiki kicauannya sendiri. Suaranya yang nyaring dan resik, terdengar indah di kuping jawaku.

Baca lebih lanjut

Aitzaz Hasan, Melawan Para Pecundang

aitzazPagi masih berawan di Ibrahimzai ketika sekelompok remaja sambil ngobrol terlihat terburu-buru hendak memasuki gerbang sekolah.

Kelompok itu harus bergegas karena jam pelajaran hampir mulai.

Di antara yang nyaris telat pagi itu termasuk Aitzaz Hasan, siswa kelas 9 sekolah negeri tersebut.

Dia juga yang pertama kali curiga ketika seorang anak muda yang meski berseragam sekolah sama justru bertanya arah. Aitzaz juga tak pernah melihat di sebelumnya.

Aitzaz mencecarnya dan ketika mencoba kabur  dia berusaha menangkapnya, kena.  Baca lebih lanjut

Fallujah, Kota 1001 Kematian

fallNyaris tak ada media dunia yang memberitakan ketika 24 tentara Irak terbunuh, 21 Desember di Provinsi Anbar, wilayah barat negeri itu yang didominasi Sunni.

Menurut sebuah keterangan, para tentara itu termasuk Komandan Divisi Ke-7 tewas akibat bom pinggir jalan saat mereka mengejar teroris Al-Qaeda.

Versi lain menyebut mereka tewas ketika tiba-tiba tiga pria masuk ke kerumuman tentara dan meledakkan bom bunuh diri yang dibawa.

Apa yang terjadi selanjutnya justru sangat penting untuk dicermati, dua puluh empat jam kemudian ketika Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki yang Syiah mengumumkan operasi militer baru pada para militan di wilayah itu.

Baca lebih lanjut