P E R S I N G G A H A N

siMbah

Simbah, begitu aku memanggilnya. Kadang dengan bingung, kadang dengan sedih tetapi lebih sering aku memanggilnya dengan penuh harap. Ah bukan, bukan pengharapan cerdas seperti yang kau bayangkan. Pengharapanku adalah pengharapan bodoh tanpa didasari kemengertian. Mungkin hanya berharap saja, tak kurang dan tak lebih.

Melihatnya? Ya, sering. Dimanapun berada, aku bisa melihatnya. Dalam gelap, dalam terang bahkan dengan mata terpejampun sosoknya begitu nyata. Lembut? Tentu saja. Kejam? Tentu saja. Sok? Kadang-kadang. Tetapi ah, lepas dari apapun yang kulihat tentang sosoknya. Aku teramat mencintainya. Mencintai dengan aneh, culun atau yang lebih sering aku mencintai nya dengan segala mau dan kepentingan.

Ah, entahlah. Nyatanya aku bukanlah si maha tahu dan maha benar dalam menafsir. Yang kutahu aku ingin mencintainya dengan telanjang. Ya, telanjang saja.

Kau mungkin tertawa mendengar “mencintai dengan telanjang” tetapi sudahlah. Biarkan saja, toh ini wilayah yang sangat personal dan intim. Selagi aku nggak mengutak-atik caramu mencintainya, maka biarkan aku dengan caraku.Baju ya? Silahkan saja. Bila semua bebas memilih baju yang paling pas, tentunya bebas juga kan untuk tak berbaju?

Ah. Sudahlah, don’t try this at home… ya!!

Written by persinggahan

Agustus 16, 2007 pada 7:1 am