munyuk iku aku
..Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang…
Ah, itu aku-nya si Chairil Anwar tentu. Ruang dan waktulah yang membuat dia berbeda dengan aku-nya kamu dan aku-nya aku. Setidaknya dia hidup dalam dunia yang hitam putih. Aku dan kamu, kami dan mereka, co dan non-co atau setidaknya merah putih atau merah putih biru menjadi jelas batas-batasnya.
Bandingkan dengan saat ini, saat-saat bahkan ketika iklan kondompun mengajari kita cara bersetubuh yang aman. Televisi, radio, koran merunyak ke wilayah yang paling intim. Membujuk, memaksa atau kadang memperkosa kesadaran dan menjadikan kita budak atau sekrupnya saja. Apa yang kita hadapi sekarang?
Aku memilih menjadi munyuk, walau kata orang aku hanya mirip. Tetapi kupikir tak ada bedanya, toh masih serumpun dan sesaudara. Yang aku pikirkan justru, kenapa munyuk-munyuk itulah yang merasa mirip manusia.
Ya, mirip sekali. Mereka berdandan padahal telanjang. Mereka beragama padahal tak bertuhan. Dan seringkali mereka berebut makan padahal kutahu mereka selalu kenyang. Lah, lalu sebenarnya aku ini apa? Manusia yang mirip munyuk apa munyuk yang mirip manusia? Ah, tentu saja ini adalah kacamata. Dan kacamata tentu memang berguna untuk meluruskan sesuatu yang bengkok. Siapa bilang munyuk adalah nestapa dan jelek tak berguna?
Kenal anoman? Kalau kenal syukur, kalau nggak kenal tentu bukan masalah. Anoman dalam wayang jawa satu paket dengan punakawan. Babad ramayana anoman ada, punakawan juga. Jaman mahabarata anoman eksis, Semar -Gareng-Petruk-Bawor nggih wonten.Mereka berdua sama-sama dalam satu pihak, ikut ramawijaya dijaman ramayana dan nemplok pandawa di kisah mahabarata. Bukan-bukan, sisi kejagoan mereka yang ingin kuceritakan. Justru ketiadaan merekalah yang ingin kusampaikan.
Anoman, begitu juga Semar-Gareng-Petruk-Bawor adalah kita kebanyakan. Ya, anoman adalah munyuk, sementara kuartet itu adalah wajah gedibal pitulikur dan pidak pejarakan yang nothingless. Tetapi kalau mereka bersatu, apakah ada yang bisa mengalahkan mereka? Sekali-kali tidak!! Tidak!! Tidak bethara guru yang sok dewa itu, tidak juga kresna yang wisnu. Apalagi bila sekedar duryudana, dursasana, durmagati atau dur-duran yang lain.
Lalu apa hubungannya munyuk-anoman-semar-gareng-petruk-bawor denganku. Wakakak… itu lah pointnya. Mereka adalah kebanyakan dan tak ada yang luar-biasa dari mereka. So, akulah mereka itu. Aku hanya ingin menjadi seutuh-utuhnya kebanyakan. Sadar kelas sadar kehendak, dan menolak kapitalisme.
Percayalah padaku, memodifikasi chairil aku selalu berteriak, “Aku ini binatang munyuk”
Selasa Kliwon, 31 Maret 1975 di amben plupuh menjelang magrib dibantu dukun. Bapakku PHL (pegawai harian lepas) Perhutani yang belum bergaji. Setahun kemudian kena panas gigil steep hingga nyaris mati bayi. Ya, mungkin aku lebih beruntung dibanding kakakku yang terpaksa pulang karena sakit yang sama. Penyakit yang umum dikampungku dan tak ada yang istimewa.

