P E R S I N G G A H A N

kampung

without comments

Tetanggaku mempunyai piaraan seekor burung. Prenjak cerewet yang kemudian dinamai persis nama istrinya. Marni. Ya, nama prenjak itu Marni. Tak ada hubungannya denganku si Marni itu , baik Marni istri tetangga, atau Marni si prenjak cerewet.

Kampungku adalah kampung dengan panen padi dua kali setahun dan sebuah sungai (sekarang mirip selokan) mengalir sebagai batasnya. Selipan boled, widig jemuran mireng dan sebuah SD Inpres adalah penghuni tetap. Nyaris ajeg.

Yang tak ajeg dan selalu berkurang adalah wajah anak muda berumur belasan. Setiap sore selalu ada yang pergi. Ya, selalu saja pergi menuju Jakarta menumpang bus Sinar Jaya atau GR . Ratusan yang pergi, menjelang lebaran ratusan kembali. Kampung praktis menjadi panti jompo dan bekerja di sawah menjadi kerja-kerja buang sial¹. Rata-rata buruh tani dengan matun, bawon atau tandur. Semua memilih jalannya masing-masing.

Ah, banyak nama yang akhirnya kutemui ketika akupun ngode (cangkem’e mlongo wetenge gede) di Jakarta. Terakhir kemarin, Toing dua puluh lima tahun gaji Rp 125 ribu dan uang makan 8 ribu perak perhari, menanggung dua adiknya. Salah satunya, kemarin masuk SMP Negeri dan tentu saja harus bayar uang gedung sejuta lebih dan kontan!! Dan SMP itu adalah termurah di kecamatanku.

Kurang lebih enam puluh lima rumah setiap eRTenya dan nyaris semuanya saudara-menyaudara . Seratus persen islam dan seratus persen nu. Dulu golkar selalu menang diatas sembilah puluh lima persen (tentu saja dapat sapi²), pemilu kemarin separo pdip dan sisanya dibagi pkb, ppp dan golkar.

Oya, Juli lalu desaku memilih lurahnya. Enam ribu suara dibagi tiga. Dan singkonglah yang telak mengalahkan padi dan kelapa untuk menjadi lurah. Semua menjadi ribet, kampungku terbelah. Tetangga-bertetangga jhotakan dan membuang muka.

Tahun kemarin jalan depan rumah diaspal. Tentu saja angkudes langsung melintas membuat becak kehabisan nafas mencoba bersaing.

Kampungku saat ini menjelang paceklik, dan tentu saja mentah-mentah siap ditelan globalisasi.

¹ Satu bau (0.75 hektar) berbiaya = Rp 1.075 juta (benih Rp 200 ribu, traktor Rp 400 ribu, pupuk Rp 300 ribu, tenaga kerja Rp 220 ribu (galeng/membuat pematang 7 orang=Rp 70 ribu, ndaud/mencabuti benih dan tandur/menanam kembali 15 orang = Rp 150 ribu) dan pestisida Rp 50 ribu).

Sawah seluas itu akan menghasilkan gabah kurang lebih 5 ton seharga Rp 8.725 juta (50 kuintal x Rp 175 ribu) Dikurangi ongkos produksi tersisa pendapatan Rp 7,65 juta. Dalam satu tahun pendapatan bersih Rp 15.3 juta (satu tahun panen dua kali Rp 7,65 juta x 2). Jadi pendapatan perbulan Rp 1,275 juta (Rp 15.3 juta :12) andai petani itu punya bau.

Dikampungku, punya sawah satu bau, termasuk mbanduara alias kaya raya. Karena rata-rata luas kepemilikan sawah kampungku hanya 0,25 bau per keluarga. Jadi pendapatan petani gurem di kampungku perbulan rata-rata adalah Rp Rp1,275 juta x 0,25 = Rp 312,5 per keluarga perbulan.

² Di Banyumas, golkar memberikan seekor sapi bagi setiap TPS yang kemenangannya melebihi 95 persen. TPS kampung adalah salah satu TPS yang mendapatkan seekor sapi.

Prenjak, sejenis burung pipit. Selipan boled, alat parut singkong bermesin. Widig, bambu yang dibelah tipis-tipis dan dirangkai (biasanya berukuran 1 x 2 meter) dan digunakan untuk menjemur kerupuk. Mireng, mie goreng sejenis kerupuk berbahan dasar singkong berwarna kuning. Matun, menyuangi rumput disela-sela tanaman padi. Bawon, sistem bagi hasil 1:5 5 untuk pemilik lahan dan 1 untuk pekerja. Ngode, bekerja. Jhotakan, bermusuhan/tidak akur.

Written by persinggahan

Agustus 15, 2007 pada 4:1 pm

Tinggalkan Balasan