P E R S I N G G A H A N

Seperempat Abad Risalah Krakatau

tinggalkan komentar »

Suara yang dihasilkan kendang dan drum itu seperti sedang “ngobrol” satu sama lainnya.

25 tahun Krakatau, Bentara Budaya/Wachyu APNomor Bubuka mengalir hangat, mengatasi dingin sehabis hujan. Dengan riang suara bonang meloncat lincah dari satu nada ke nada yang lain ditingkah dengan sayatan rebab. Harmoni yang menghasilkan komposisi indah dan ramah dengan telinga. Juga kemudian tust-tust cepat pada keyboard. Renyah tanpa perlu mengeryitkan kening, kaki, badan hingga kepala tanpa sadar bergoyang pelan mengikuti iramanya.

Bubuka dalam sunda berarti pembukaan, dan Bubuka yang dibawakan Krakatau malam itu juga merupakan lagu pembukaan dalam Pentas Musik & Pameran Memorabilia 25 tahun Krakatau Band, Kamis malam (22/10) di Bentara Budaya Jakarta. Mystical Mist lalu menyusul kemudian, lagu dari album berjudul sama ini, pertama kali dibawakan Krakatau dalam dalam Jak Jazz 1993 di Senayan. Album itu juga yang menandai debut pertama kali Krakatau sejak hijrah dari jazz dan mulai serius mengeksplorasi ide-ide musik tradisi Sunda dan musik etnis Nusantara lainnya. Usai Bubuka, sepotong puisi dari pulau Rote yang dinyanyikan Ubiet menjadi sebuah komposisi yang indah.

Mendengarkan Krakatau malam itu, seperti mendengarkan kesegaran baru. Walau kental dengan nuansa etnis, musik Krakatau jauh dari kesan kuno dan ketinggalan jaman. Dalam Tarik Pukat misalnya olah vokal Ubiet yang memain-mainkan tempo lagu dari lambat,  cepat, hingga super cepat yang membuka prespektif baru. Setidaknya musik adalah bahasa jaman, tak terkungkung  bahasa ruang dan waktu. Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Oktober 24, 2009 at 1:1 pm

Ditulis dalam Seni Budaya

Yang Ngotot Mencari Pencapaian Baru

tinggalkan komentar »

Dengan teknik hardboard cut  (cukil kayu) tingkat kesulitan yang dihadapi Anggara sangat tinggi

Trienal Grafis di Bentara Budaya/foto Wachyu APBerbeda dengan melukis yang didukung dengan begitu banyak hal, seperti kapital, lembaga, pasar, hingga sumber daya,  seni grafis berada dalam kondisinya sebaliknya.

Bersama banjir bandang, seekor ikan mendayung mengapung dalam sebuah kaleng yang digunakan sebagai sekoci. Mukanya tampak kecut memandang kejauhan horison yang pekat dengan petir yang menyambar-nyambar.

Membayangkan yang dialami ikan dalam kaleng itu, mau tidak mau ngeri langsung terbit, karena bila ikan saja–yang akrab kesehariannya akrab dengan air- tak mampu menyelamatkan diri. Bagaimana dengan manusia atau mahkluk-mahkluk yang tak akrab dunia air? Tentu saja, lebih dulu musnah. Ikan yang berkeras menyelamatkan diri itu berjudul Imaji Tentang Kerusakan Alam karya Winarso Taufik.

Selain temanya yang menarik, karya Winarso itu juga digarap dengan cermat. Sirip-sirip ikan yang tegas, perpaduan gelap-terang langit yang pas hingga garis-garis halus airnya menunjukan proses pengerjaannya yang sungguh-sungguh. Tentu saja, karena Imaji Tentang Kerusakan Alam adalah karya grafis yang secara teknis akan lebih rumit pengerjaannya dibanding lukisan biasa yang dengan mudah tinggal menorehkan kuas diatas kanvas, bahkan bila itu hanya sebuah garis atau titik sekalipun. Boleh jadi faktor inilah yang membuat tak banyak seniman bergelut serius di bidang ini. Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Oktober 24, 2009 at 1:1 pm

Ditulis dalam Seni Budaya

Yang Konsisten Di Jalur Langka

tinggalkan komentar »

Di eropa sendiri, karya ini kurang dikenal lantaran jarang dipentaskan.

Dok.Pribadi (3)Sebuah pertunjukan langka digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu malam pekan lalu. Ya, langka lantaran yang dipentaskan adalah sebuah pertunjukan opera, yang bagi sebagian masyarakat Jakarta barangkali sesuatu yang asing.

Apalagi tema yang diusung pun tergolong berat Il Viaggio dell’Opera From Mozart to Puccini (perjalanan opera dari Mozart hingga Puccini). Dan di antara rentang waktu itu, diselipkan pula karya Beethoven yang berjudul Fidelio. Di eropa sendiri, karya ini kurang dikenal lantaran jarang dipentaskan.

Tapi, di tangan Susvara Opera Company, sebuah kelompok pegiat musik-musik opera asal Jakarta, karya para musisi tenar itu mengalir ringan. Komposisi musik klasik nan indah menjadi jembatan antara penampilan para aktor di panggung dengan audiens. Setidaknya itu untuk mengenyampingkan jalan cerita, yang barangkali tak mereka pahami dengan benar. Apalagi jika tidak membaca katalog pertunjukan.

Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Oktober 18, 2009 at 3:1 pm

Ditulis dalam tragedi

Perempuan yang Mendekonstruksi Tubuhnya

tinggalkan komentar »

Dona seperti sedang menyindir perempuan yang mengamini konstruksi bahwa tubuh adalah komoditas

WAP20091015-1_02Kurang lebih 40 perupa perempuan menggelar pameran di sebuah mal di Jakarta. Rata-rata mereka menggugat tubuhnya sendiri yang dikonstruksi dunia patriaki. Mereka pun menggugat hegemoni itu.

Sebuah patung yang dipahat berbentuk alat kelamin dipajang di pintu masuk ruang pameran di East Mall, Grand Indonesia, Jakarta. Ukurannya lumayan besar, seukuran tubuh anak kecil. Tak tanggung-tanggung, alat kelamin itu diletakkan dua sekaligus, berdampingan. Mirip relief lingga dan yoni di candi Sukuh yang provokatif itu.

Nevermind who the Bo(y)s, Here came the Loro Blonyos karya Renie “Emonk” Agustine yang di pajang di pintu masuk pameran bertajuk My Body itu juga tak kalah provokatifnya. Patung itu benar-benar meneror.

Tak berhenti di titik itu, Renie mendandani patung itu dengan menyamarkannya menjadi patung Loro Blonyo –patung pengantin-, lengkap dengan batik dan duduk sila mlepet ala sinden dan dengan “kepala” alat kelamin yang dimodifikasi menjadi gelung itu. Loro Blonyo, dalam tradisi Jawa sudah dikenal sejak jaman pemerintahan Sultan Agung. Manifestasi dari figur Dewi Sri-Sadana itu, seringkali dianggap sebagai gambaran harmonisasi yang melengkapi satu sama lain. Sepasang patung pengantin Loro Blonyo dalam kosmos agraris Jawa adalah cermin penyatuan yang mendatangkan kesuburan dan kemakmuran yang mensyaratkan kesuburan reproduksi biologis pada manusia maupun kesuburan tetanen, dan begitulah Loro Blonyo menjadi simbol interpretatif.

Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Oktober 18, 2009 at 2:1 pm

Dari Meja Makan Khaos itu Bermula

tinggalkan komentar »

Ruang dan waktu manusia tertinggal, dan masyarakat menjadi sangat individualis.

foto oleh Wachyu AP

Tiga perempuan berdiri tegak dengan kepala terdongak. Mulut mereka masing-masing menggigit sebuah sendok makan mengilat. Dengan langkah pelan terpatah-patah mereka kemudian mengisi tengah panggung. Di belakangnya lima orang lagi menyusul ke depan, dua laki-laki dan tiga perempuan, juga menggigit sendok mengilat di mulutnya. Masih dengan gerak yang terbatas, perempuan-perempuan itu melentingkan tubuhnya membungkuk mirip patung. Sementara suara cello mengiris-iris seperti menyanyikan kepedihan yang pekat.

Dari sisi panggung sebelah kiri, lalu masuk seorang perempuan berdandan ala seorang ratu dengan mahkota tingginya. Di tangannya sebuah piring plastik warna biru, kontras benar dengan gaunnya yang merah menyala. Dengan langkah anggun sang ratu itu menghampiri “kumpulan” yang beku itu dan satu demi satu, sendok mengilat itu berpindah dari mulut ke tangan lalu ke piring plastik si maharatu.

Dan menghamburlah mereka ke balik panggung meninggalkan sepasang penari di tengah panggung yang menarikan gerakan “cinta”. Saling berhimpit, berdempet rapat, mencium, berpeluk, dan panggung seperti disulap menjadi taman eden yang penuh cinta, sementara romantis suara biola bersuka cita mengiringinya.

Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Oktober 16, 2009 at 1:1 pm

Ditulis dalam Seni Budaya

Menambahkan Vokal Pada Si Jumbo

tinggalkan komentar »

Ukuran gamelan ini bisa dua sampai tiga kali lebih besar. Kira-kira seukuran ban modil sedan.

 Gamelan Sekaten, YogyakartaSekelompok mahasiswa ISI Surakarta mementaskan sebuah repertoar gamelan sekaten. Namun, mereka melanggar pakem dengan menyisipkan unsur vokal yang  sebelumnya “diharamkan” dalam tradisi tersebut.

Suara anggun bernuansa megah mengalun dari satu set bonang berlajur dua yang ditabuh solo sebagai racikan itu. Iramanya yang pelan diam-diam menyelinap dan memantulkan bayang-bayang kemegahan Jawa dalam perayaan grebeg maulud atau Sekaten di masa lalu. Tak hanya membuai, alunan irama itu kemudian berubah lebih keras dan bertenaga, belum lagi kemudian ditingkahi suara bedug yang dentamnya menggelegar itu. Tak usah takjub, karena ini dari jenis Gending Soran –keras-kerasan-.

Bahkan tanpa bantuan pengeras suarapun gending itu lamat-lamat bisa didengar dari jarak berkilo-kilometer jauhnya. Di masa lalu, ketika para wali di tanah Jawa mula-mula mendakwahkan Islam, mereka menggandeng budaya lokal yang digemari masyarakat waktu itu untuk menyampaikan pesan Islamnya, seperti wayang. Lalu gamelan kemudian juga digunakan sebagai media dakwah.

Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Oktober 16, 2009 at 1:1 pm

Ditulis dalam Seni Budaya