Menjelang sore, mobil Nissan X-Trail milik Sistoyo masih tampak parkir di halaman Kejaksaan Negeri Cibinong, Jawa Barat. Sistoyo berada di dalam mobil dan dia tampak menunggu seseorang.
Benar, yang ditunggunya pun tak lama muncul sambil membawa sebuah amplop coklat. Pintu mobil terbuka, pria itu masuk dan amplop bergegas pindah tangan. Sesaat setelah ‘tamunya’ pergi, Sistoyo juga berniat beranjak. Namun, sekelompok orang terlebih dahulu menangkapnya, mereka adalah penyidik KPK yang sejak tadi telah memantaunya. Dan Sistoyo adalah seorang jaksa.
Persis di hari yang sama, seorang mantan narapidana bernama Martha Indah Sapriani (38) diperiksa Asisten Pengawasan (Aswas) Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Gara-gara, Martha yang mengaku telah dihamili Hari Sutopo, juga seorang jaksa yang saat ini menjabat sebagai Kasi Pidum Kejari Lamongan, Jawa Timur.
Dirinya kenal Hari saat menjalani proses pemeriksaan di Polrestabes, Surabaya, 6 April 2009. Pengakuan Martha, usai menjalani pemeriksaan itu mereka berdua lalu check in hingga Martha hamil dan melahirkan pada 2 Desember 2010 silam. Dan, Hari pun merawat bayi tersebut.
Belakangan, usai menjalani hukuman pada kasus penggelapan, Marta nekat melapor ke atasan Hari, karena permintaannya untuk bertemu anaknya tak dikabulkan. Kabar terakhir, Hari pun dicopot dari jabatannya karena skandal itu.
Masih soal perilaku jaksa. Tentu masyarakat ingat Cirus Sinaga. Jaksa senior yang bertugas di Kejaksaan Agung itu dianggap merekayasa rencana tuntutan untuk terdakwa Gayus Tambunan dengan pasal-pasal yang meringankan. Hingga, akhirnya Gayus divonis bebas di PN Tangerang.
Masyarakat juga belum lupa benar dengan Jaksa Urip Tri Gunawan, yang juga tertangkap tangan saat menerima uang US$660 ribu dari Artalyta Suryani. Ketika itu pengusutan kasus hingga menyeret sejumlah petinggi di Kejaksaan Agung, beberapa pejabatnya mundur diri dan sisanya masuk ‘kotak’.
Rekaman percakapan Artalyta dengan para jaksa yang disadap oleh KPK sempat menjadi perhatian publik. Berkali-kali percakapan itu diputar di media massa. Bahkan, uniknya sebagian orang menjadikan rekaman itu menjadikan nada dering telepon mereka. Dan Urip di vonis 20 tahun penjara.
Sapu Kotor
Kejadian memalukan yang mencoreng aparat korps Adhiyaksa itu, seharusnya menjadi pemikiran mendalam buat kejaksaan. Karena, selama ini mereka terbukti masih melakukan hal-hal yang memalukan itu.
Jaksa Agung orang pertama yang harus mengaku bertanggung jawab. Dia harus jantan mengakui gagal membereskan anak buahnya. Dan mestinya dia legowo mundur.
Namun, Kejaksaan Agung bukannya tak mempunyai figur tauladan. Setidaknya mereka pernah memiliki Baharuddin Lopa. Pribadi sederhana yang dicontohkan Lopa bisa mewakili kerinduan bangsa ini akan sosok pejabat yang jujur, bersih dan bermartabat.
Integritas dan martabat Lopa tak datang dari langit. Dia memang tokoh yang keras dan itu terlihat, bahkan sejak dia masih sangat muda. Di usianya yang ke-25 Lopa adalah bupati pertama di Majene dan merupakan bupati termuda di Indonesia. Dia gigih menantang Andi Selle, Komandan Batalyon 710 yang kaya raya karena melakukan aksi penyelundupan.
Cerita menarik lainnya, disampaikan Jusuf Kalla. Saat itu, Lopa menelepon Kalla ketika hendak membeli kendaraan. Oleh Kalla yang menjadi pemegang merek Toyota di Indonesia timur, Lopa malah ditawari sebuah Toyota Crown seharga 100 juta rupiah. “Ada yang murah?,” tanya Lopa menawar. Bahkan, Toyota Cresidda yang harganya lebih murah pun masih dianggapnya terlalu mahal.
Kalla akhirnya menawarkan Toyota Corona namun ditolak Lopa karena dirinya hanya meminta lima juta untuk pembayarannya. Persis, seperti jumlah uang yang dibawa Lopa dalam bungkusan korannya.
“Kasih diskon, nanti saya cicil. Tapi jangan kau tagih,” tawar Lopa kepada Kalla.
Akhirnya jual beli unik itupun disepakati. Uang muka sebesar lima juta dibayar kontan, sisanya dicicil sampai lunas selama tiga tahun empat bulan.
Begitulah Lopa. Meski orang masih akan mengingat Urip, Cirus, Hari, Sistoyo dan – mungkin masih akan banyak lainnya. Namun, nama Lopa akan lebih abadi karena, bagaimana pun bangsa ini tetap butuh ‘kebaikan’. [skalanews.com]