Dia ditelanjangi dengan kepala berbalut darah, tergeletak begitu saja, sementara keriuhan yang kalap dipenuhi tangan-tangan yang berebut ingin merengutnya.
Tak berbekas lagi kebesaran yang selama 42 tahun terakhir itu bersamanya. Dia mati, diseret mirip anjing dan orang seluruh dunia mensyukurinya. Pesta dadakan digelar dan desingan peluru dimuntahkan ke udara untuk merayakannya.
Begitukan mesti demokratisasi ditegakan? Bukankah mestinya orang matipun berhak untuk mendapat penghormatan. Bahkan, sebetapa kejam kelakuannya semasa hidup. Selamat jalan Kolonel Moammar Gaddafi!
Berminggu-minggu, sebelumnya tentara Dewan Transisi Nasional Libya (NTC) tertahan gerak majunya untuk merebut Sirte. Mereka baru bisa fokus ke kota itu setelah Bani Walid –benteng terakhir Gaddafi lainnya- runtuh. Dan Gaddafi benar-benar memenuhi janjinya. Berjuang sampai mati di tempat kelahirannya.
Lahir dari orang tua yang nomaden di wilayah pantai Sirte tahun 1942 silam, Gaddafi yang belajar geografi di Universitas Benghazi cepat bosan dan lebih memilih bergabung menjadi tentara.
Terinspirasi Gamal Abdul Nasser, di usianya yang ke-27 tahun Gaddafi memimpin kudeta tak berdarah dari Raja Idris. Jerih dengan kehancuran Arab dalam perang Suez dan perang Yom Kippur, dia membayangkan Libya membangun Pan Arab bersama Mesir. Gagasannya ditolak mentah-mentah oleh Nasser dan bahkan dia dianggap tak lebih dari seorang pemimpi. Namun, Gaddafi cuek.
Gagal dengan Pan Arab dia berpaling ke idenya yang lain. Pan Afrika. Melalui ‘Buku Hijau’-nya dia mengklaim menjalankan sistem politik Libya dari sintesa dan jalan alternatif untuk kapitalisme dan komunisme.
Menyitir Marcus Garvey, dia membayangkan jadikan Afrika yang tunggal termasuk untuk urusan militer, mata uang bahkan paspor yang akan menjamin mobilitas bebas di seluruh benua itu. Tentu saja ide ditolak.
Anjing gila
Namun ide-ide itu, bagaimanapun tetap hidup dan mempengaruhi pembentukan Uni Afrika di tahun 2002. Dalam pertemuan raja-raja Afrika tahun 2008 dia menyebut dirinya king of the king dari benua itu.
Terhadap imperialis sikap Gaddafi jelas, dia anti bahkan mungkin sampai ke tulang sumsumnya. Dan itu tak cuma omong doang, sepanjang pemerintahannya dia konsisten mendukung gerakan-gerakan kemerdekaan melawan kekuasaan kolonial di seluruh dunia. Hal itu yang membuat negara-negara barat berang.
Dia juga dituding memberikan dukungan material kepada kelompok “teroris”, disinyalir uang minyak Libya mengalir mulai dari IRA di Irlandia, ETA, FARC di Kolombia bahkan MILF di Moro.
Libya juga dianggap bertanggung jawab terlibat pemboman tahun 1986 di sebuah klub malam di Berlin yang menewaskan dua tentara Amerika. Puncaknya, Libya dan Gaddafi diisolasi negara barat karena dianggap mendalangi pengeboman pesawat Pan Am tahun 1988 di atas Lockerbie.
Atas sepak terjangnya Presiden AS, Ronald Reagan memberikan julukan akrab yang ‘indah’, Anjing Gila! Di masanya dia adalah musuh nomor wahid bagi AS.
Namun, siapa sangka kematian seorang tukang sayur di Tunisia Mohamed Bouazizi akan menjungkir balikan nasib Gaddafi sepuluh bulan berselang. Marah atas kematian Bouazizi rakyat Tunisia melancarkan pemberontakan sipil dan berhasil menggulingkan Presiden Ben Ali dalam dua minggu.
Dari Tunisia, ‘Revolusi Tukang Sayur’ itu menyapu Mesir dan menumbangkan Husni Mubarak, menggoyang Basher al-Assad di Suriah, Ali Abdullah di Yaman dan termasuk menerjang Libya.
Fatal, Gaddafi yang memang keras kepala gagal ‘berhitung’ di masa-masa awal unjuk rasa yang menentangnya itu. Dia memilih jalan keras untuk menindas demonstran itu. ‘Penindasan’ yang membuka jalan bagi negara barat mengirim peralatan perangnya ke Libya, mempersenjatai pemberontak dan mendongkel kekuasaannya hingga akhirnya mati di kampung halamannya.
Alain Juppe, Menteri Luar negeri Perancis menyebut akhir pemimpin Libya itu, “menandai akhir dari periode yang sangat sulit selama 40 tahun tirani di Libya. Ini adalah awal periode baru bagi Rakyat Libya.”
Benarkah? Demokratisasi seperti apa yang sedang dipikir Juppe untuk Rakyat Libya? Dia mungkin melupakan satu hal. Di kota-kota besar dunia saat ini, mereka yang menyebut dirinya 99% rakyat sedang murka. ‘Occupy New York’ menjalar nyaris ke semua kota besar London, Roma hingga Paris.
Mereka mengutuk tamaknya korporasi karena demokrasi gagal menuntaskan masalah kesejahteraan dan pembagian yang adil kue ekonomi bagi seluruh rakyat. Dia hanya berpihak pada pemilik kapital. Dan ke sanalah Rakyat Libya sedang menuju. Dan itu mirip Irak paska Saddam. [skalanews.com]