“Ini adalah makanan pertama yang diberikan kepada saya sejak saya sampai di Mogadishu dua bulan lalu,” kata Isnino Ibrahim, ibu lima anak sambil memeluk anaknya yang terkecil Mohamed
Mogadishu– Beberapa dekade silam, ketika perang belum menjadi menu sehari-hari di Somalia, penduduk Mogadishu terbiasa antri di depan gedung bioskop Hodan di pusat ibukota untuk menyaksikan film terbaru.
Namun, hari ini, bioskop Hodan itu, yang sebagian bangunannya lantak diterjang artileri, barisan yang mengular itu berisis wanita dan anak-anak yang putus asa bahkan hanya untuk segenggam gandum di kamp-kamp pengungsian.
Kekeringan dan perang menjadi kombinasi jahat yang mematikan, mendesak penduduk negeri itu ke tubir kelaparan yang sangat. Disekitar bioskop itu, puluhan milisi pro-pemerintah berjaga dengan senapan mesin terkokang, siap seandainya pembagian makanan berlanjut menjadi keributan.
Untuk bisa sampai di kamp itu, mereka harus menempuh puluhan kilometer dari kampung halaman mereka, melewati penjagaan milisi milisi bersenjata berat.
“Ini adalah makanan pertama yang diberikan kepada saya sejak saya sampai di Mogadishu dua bulan lalu,” kata Isnino Ibrahim, ibu lima anak sambil memeluk anaknya yang terkecil Mohamed. Anak itu lahir minggu lalu di tenda darurat dekat sebuah gedung yang hancur.
“Ini akan sangat membantu karena kami tidak memiliki apapun, dan anak-anak saya sakit,” katanya pelan sambil mengelap baju kotor anaknya yang lain.
Dengan kamp yang penuh sesak dan minimnya fasilitas dasar sementara ancamam perang terus berkecamuk di Mogadishu, PBB memperingatkan kolera adalah musuh baru yang menyebar cepat dan diam-diam.
Lebih dari 100 ribu orang telah melarikan diri dari kampung dan kota-kota mereka sejak dua bulan lalu ketika kelaparan menjadi ancaman yang sangat mematikan. Makanan, air dan obat-obatan adalah barang langka di tanah itu. Krisis kali ini merupakan yang terburuk terjadi di Somalia sejak 1991-1992.
“Ini adalah kedua kalinya saya mendapat bantuan, tetapi tidak berlangsung lama,” kata Batula Moalim, dia berjalan kaki selama beberapa hari dari kelaparan yang melanda kampungnya di wilayah Shabelle ke ibukota yang sama berberbahayanya.
“Makanan ini hanya akan bertahan untuk 10 hari, mungkin 12 jika kita benar-benar membuatnya dalam porsi yang kecil,” katanya. Dia menyebut sekantong gandum itu bertanggung jawab memberi makan 12 anggota keluarganya.
Sebentar saja pembagian makanan itu tandas. Orang-orang mulai pergi, namun banyak yang panik, karena risiko dirampok saat kembali dari ke kamp di kota tanpa hukum kerap terjadi.
Para perempuan membawa buntalan berat di punggungnya, sementara bayi mereka digendong di dada keluar melalui kerumunan yang bergelombang.
Gelombang Bantuan Menyusul
PBB secara resmi telah menyatakan lima kawasan di Somalia termasuk dalam klasifikasi bencana kelaparan. Mogadishu termasuk klasifikasi itu dan empat kawasan lain di Somalia selatan.
Di ibukota walau tak tertahankan, kondisinya relatif beruntung. Di wilayah selatan, pemberontak Al-Shabaab yang berafiliasi dengan Al-Qaeda tegas melarang beroperasinya bantuan kemanusiaan. Pilihannya kejam, mati kelaparan atau peluru senapan.
“Kami lakukan apa yang kita dapat lakukan dengan apa yang kita miliki untuk membantu orang-orang,” kata Abdullahi Abdi Arafat optimis. Dia adalah anggota dari Yayasan Zamzam, sebuah lembaga bantuan lokal yang membagikan bantuan makanan yang diberikan oleh badan amal Kuwait. “Kita melakukan semampu kita, tetapi ada begitu banyak orang yang membutuhkan.”
Komunitas internasional saat ini sedang menggalang sebuah bantuan besar-besaran yang meliputi ribuan ton bantuan bahan makanan dalam airlifts untuk menjangkau kebutuhan sehari-hari.
Namun, banyak diantara bantuan makanan itu justru berakhir di pasar-pasar setempat. Bahkan masih dengan logo Program Bantuan Pangan PBB (WFP) atau organisasi lainnya. WFP menjanjikan penyelidikan atas pencurian keji itu.
Meski pasar masih menyediakan bahan makanan, namun harga yang terlalu tinggi menyebabkan orang-orang lebih memilih untuk berjalan kaki puluhan kilometer ke kamp pengungsian terdekat.
Lagi pula, sejak ternak-ternak mereka mati kekurangan makanan penduduk termiskin negeri itu tak lagi memiliki uang. Biasanya mereka akan menjual ternak mereka untuk membeli makanan.
“Orang-orang putus asa, dan kami ingin memberi mereka makanan untuk membantu mereka di masa yang paling sulit,” kata Nassir Jasim, dari Organisasi Amal Islam Internasional, yang menerbangkan makanan dari Kuwait. “Makanan ini telah datang dengan pesawat, namun akan datang melalui laut dalam beberapa hari,” tambah Jasim.
Meskipun milisi telah menarik diri dari ibukota awal bulan ini, tak jaminan ibukota aman. Dibeberapa tempat, pasukan pemerintah yang didukung oleh pasukan Uni Afrika harus berjuang keras dalam pertempuran berbahaya untuk sepenuhnya mengontrol ibukota.
Dipelabuhan Mogadishu, gudang mulai sibuk dengan bantuan yang datang. Pengiriman bantuan dalam skala lebih besar dan lebih murah sekaligus lebih lambat sedang berlangsung melalui laut. “Pelabuhan siap untuk semua bantuan yang akan datang,” kata Ahmed Ali Karie, wakil manajer Pelabuhan Mogadishu. “Kapal-kapal sedang dalam perjalanan.” (Al-Jazeera/Xinhua)


