“Kau menyelamatkan kehidupan masyarakat saat ini sehingga mereka bisa mati besok.”

Pengungsi Somalia antri makanan di sebuah kamp dekat Mogadishu

Mogadishu – PBB menyatakan sebuah penyelidikan sedang dilakukan untuk mengungkap kemungkinan ‘pengalihan’ bantuan makanan di Somalia.

Direktur Program Pangan Dunia (WFP) di Somalia Stefano Porretti menyebut dalam dua bulan terakhir telah ditemukan kemungkinan ‘pengalihan’ bantuan makanan tersebut.

Bahan-bahan makanan seperti gandum, makanan ringan, kacang mentega dan bahan pokok lainnya bahkan masih lengkap berikut kemasannya ditemukan diperjual belikan di pasar-pasar setempat.

Laporan tersebut meningkatkan kekawatiran WFP setelah sebelumnya mereka harus berjibaku melawan pemberontak Al-Shabab yang mengontrol sebagaian besar wilayah Somalia.

Seorang pejabat di Mogadishu yang paham dengan seluk beluk perdagangan makanan di negeri itu memperkirakan hampir separuh dari pengiriman terakhir bantuan makanan telah dicuri.

Namun WFP membantah tudingan tersebut termasuk skala pencuriannya. “Kami yakin sebagian besar bantuan kemanusiaan itu berhasil menjangkau orang-orang kelaparan di Mogadishu.”

Kepada AP, WFP menyebut hilangnya ‘beberapa’ ribu kantong makanan yang dicuri itu berjumlah kurang dari satu persen dari jatah distribusi untuk satu bulan di Somalia.

Menurut Joakim Gundel kepala Katuni Consult mengatakan bahwa praktek tersebut sudah lazim terjadi. Katuni Consult adalah sebuah perusahaan di Nairobi yang seringkali diminta bantuan untuk mengevaluasi bantuan internasional di Somalia.

“Sementara anda membantu orang kelaparan, Anda juga memberi makan kelompok kekuasaan yang melakukan bisnis dalam bencana,” katanya. “Kau menyelamatkan kehidupan masyarakat saat ini sehingga mereka bisa mati besok.”

Pengadilan Militer

Juru bicara pemerintah Somalia, Abdirahman Omar Osman mengatakan dirinya tak memercayai bila bantuan pangan pangan tersebut dicuri dalam skala besar. Namun, jika ternyata laporan tersebut benar dia menjanjikan pemerintah akan melakukan segalanya untuk membawa pelakunya ke pengadilan militer.

Bantuan makanan menemupuh jalan berliku untuk sampai ketangan para pengungsi. Termasuk mendobrak larangan beroperasinya bantuan pangan di wilayah pemberontak.

Bahkan kalaupun bantuan tersebut sudah sampai di kamp pengungsian, belum jaminan bantuan itu aman.

Menurut AP, di pasar Mogadishu, tumpukan besar makanan ditemukan dijual bahkan masih dengan tanda WFP-nya. Disekitar Mogadishu ribuan karung makanan dijual belikan secara massal di toko-toko makanan.

Porretti berkelit bahwa pekerjaan pemantauan bantuan menjadi pekerjaan yang sangat berbahaya bagi para stafnya. Sebelumnya 14 karyawan tewas akibat diserang oleh pemberontak yang membuat WFP memutuskan mengawal dengan ketat setiap stafnya yang berada diluar pangkalan dengan tentara Uni Afrika.

“Pemantauan bantuan makanan di Somalia adalah proses yang sangat berbahaya,” kata Porretti.

WFP saat ini menggantungkan penyaluran bantuannya pada jaringan lembaga bantuan di Somalia untuk mendistribusikan makanan.

Namun, menurut Gundel lembaga bantuan itu tak belajar apapun dari bencana kelaparan 1992 silam. Saat ratusan ribu orang meninggal pengiriman bantuan secara sistematis dijarah. Penjarahan itulah yang memicu AS melakukan intervensi militer. (nug)