Mereka Yang Menempuh Jalan Panjang Untuk Cinta
Amba menyepi dan menikmati cintanya seorang diri sambil menunggu waktu itu tiba.
Sebuah gunungan terkucil sendiri diatas batang pisang yang sepotong itu. Selebihnya ada gender, drum hingga keyboard yang terselip di rerimbunan bunga-bungaan. Begitulah panggung ditata mirip sebuah taman. Suasana menjadi begitu tintrim dengan dekur jangkerik yang meringkik-ringkik.
“Apakah paduka ingat ketika paduka berburu dihutan? Terluka dan sayalah yang merawat paduka hingga sembuh? Waktu itu hamba tak meminta apapun walaupun paduka akan memberikan segalanya,” ujar Durgandini perempuan hutan itu menyeruak megahnya Love Canges Everyting-nya Andrew Llyod Webber yang mengiringi pelantikan Bisma menjadi raja Astina. “Saat ini saya hanya meminta, batalkan pelantikan Bisma dan angkat anak kita Wicitrawirya menjadi raja Astina,” tagih Durgandini pada Santanu yang hanya bisa tercengang.
Dari sinilah cerita bermula dan Bisma mengikhlaskan tahtanya. Tapi yang diminta Durgandini tak hanya tahta, dia juga meminta jaminannya agar kelak keturunan Bisma juga tak akan mempemasalahkannya. “Hei, kau perempuan, jika kau menguji prasetyaku saksikanlah sumpahku. Aku tidak akan pernah kawin sepanjang masa!!”. Jagad gumelar menangis mendengar sumpah Bisma, untuk keikhlasannya para dewa di kahyangan memberinya anugrah nama Dewabrata dan kematian yang bisa ditentukannya sendiri.
Begitulah awal kisah Dongeng Cinta Kontemporer II bertajuk Kasmaran Tak Bertanda garapan Sudjiwo Tejo yang manggung 13-14 November 2009, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Tak tampil sendiri, kali ini Tejo menggandeng paduan suara Universitas Parahyangan hingga musisi seperti Bintang Indrianto.
Walau mendasarkan ceritanya dari lakon wayang –Mahabarata-, jangan membayangkan Kasmaran Tak Bertanda ini menjadi pertunjukan yang membosankan. Penampilan Sujiwo Tejo yang lebih mirip koboi dibanding dalang –bertopi laken dan berjaket-, hingga suluk yang sah saja diiringi biola, atau Asmarandana yang ngepas bergandengan dengan Love Canges Everyting, atau nikmati saja manisnya “goro-goro” dengan iringan piano Marusya Nainggolan. “Secara konsep ini butuh enam bulan dan sebulan untuk eksekusinya,” ujar Sujiwo Tejo usai pertunjukan.
Tak melulu menjejalkan cerita pewayangan Tejo juga menyusupkan lagu-lagunya, ada Bisma Gugur, Ayam-anyaman sampai Pada Suatu Ketika dan Lautan Tangis yang ironis itu. Lagu-lagu itu seperti menyatu benar tragedinya, dengan Bisma, dengan Amba hingga kejamnya perang di Kurusetra dan penantian panjang Bisma.
Benar Cinta Tak Bertanda memang bercerita tentang cinta yang harus menunggu lama. Juga keteguhan hati yang rumit. Simak saja adegan ketika Bisma berhasil memenangkan sayembara berhadiah triple women di negeri Kasi itu. Amba, Ambika, Ambalika.
Walau wajah serta bahunya luruh dan pandangannya runduk ketanah. Amba menolak perintah Bisma. Tak seperti saudari-saudarinya Ambika dan Ambalika yang menurut. Amba memilih beku kaku tak bergerak. “Saya menolak diberikan pada Wicitrawirya atau siapapun orang lain itu,” Amba berbisik pelan mengejutkan.
Sang Bisma membesar harga dirinya, “Ya, akulah memang pemenang sayembaranya, dan dari padangan matamu aku tahu kau mencintaiku” suara batin Bisma berkata. “Katakan padaku Amba, kenapa kau menolak kuberikan pada saudara tiriku Wicitrawirya,” tapi pertanyaan itu yang justru kemudian terucap dari bibir Bisma.
“Aku mencintai Salwa yang kau kalahkan itu,” jawab Amba mengejutkan Bisma. Entah topeng apa kali yang sedang dikenakan oleh Amba. Walau yakin benar rasa hatinya, Bisma memilih pasrah pada nasibnya. “Kembalilah kau pada tunanganmu itu, Amba” ujar Bisma lembut. Rindik asu digitik, Amba berlalu dari hadapan Bisma kembali pada tunangannya Salwa.
Nasib dan takdir juga pesthi tak selalu mengalir seperti yang diingini, dan kali ini mereka bersekutu mempermainkan cinta Amba. Salwa berlaku satria dengan menolak belas kasih Bisma. “Lihat mataku Amba, lihat mataku !!” menggelegar kata-kata Salwa. “Ini bukan tentang seberapa besar cintaku padamu, ini juga bukan tentang belas kasih dan pemberian, ini tentang harga diri. Bisma pemenangnya dan hanya dia yang paling berhak akan dirimu, kembalilah kau pada Bisma,” Salwa berkata lugas.
Amba kembali pada Bisma yang kembali menyerahkannya pada Wicitrawirya adik tirinya. Kali ini Wicitrawirya menolak. Bisma menemui Salwa. Juga menolak. Entah jalan cinta seperti apalagi yang akan dilalui Amba. Semua menolaknya. Sementara Bisma sendiri terikat sumpah selibatnya. “Kamu tidak usah merepotkan dirimu dengan mencarikan laki-laki untukku, aku akan hidup sendiri di alam raya ini,” tegas getas Amba berkata.
Banyak versi dalam adegan ini, yang resmi dan diamini khalayak Amba bunuh diri atau “terbunuh” tak sengaja oleh Bisma yang kemudian mengkutuk akan menjemput Bisma dalam Baratayudha. “Tak mungkin Amba itu bunuh diri, tak mungkin sekejam itu pada dirinya sendiri,” cerita Tejo, sang dalang ini memilih tetap menghidupkan Amba, “Merangkai bunga padma sebagai pertapaannya sampai mati,” lanjutnya. Amba menyepi dan menikmati cintanya seorang diri sambil menunggu waktu itu tiba. Waktunya cinta akan menyatu. Amba ingat betul, Baratayuda Jayabinangun hari ke sembilan.
Di palagan Kurusetra, tak ada yang bisa mengalahkan Bisma, Pandawa tak juga Kresna dan para dewa-dewa. Bisma hanya bisa mati atas inginya sendiri. Dan dia menunggu Amba menjemputnya. Ah, mengapa cinta begitu rumit dan lama untuk menempuh jalannya.
