P E R S I N G G A H A N

Dalam Hukum Rimba, Pemenangnya Kekuasaan

Lakon Bunga Semerah Darah karya WS Rendra, setelah hampir setengah abad.

foto YudisSumirah tersengat harga dirinya. Kemarahannya yang pekat sewarna benar dengan kain merah yang dikenakannya. Hingga dia kemudian meledak dalam lengkingan. “Jangan coba-coba itu pada saya Den Hardjo,” dia menghardik lelaki yang kini berada di hadapannya. Seorang juragan kampung yang mencoba merayu agar  Sumirah bersedia menjadi istrinya.

“Ayolah Mirah,” Raden Hardjo mendesak.

“Kamu ingin aku maki-maki ya?” Sumirah bergeming.

“Nanti kamu akan aku jadikan wanita yang kaya raya. Akan aku beri rumah dan kamu akan menjadi istri priayi yang diakui. Syaratnya mudah, kamu hanya harus cerai dengan suamimu. Bagaimana?” si juragan tak mau beranjak.

“Buaya darat kamu Den Hardjo.”

Lalu Raden Hardjo mengeluarkan ancaman pamungkas. “Baiklah kalau begitu, tapi ingat uang sewa rumah harus kamu bayar. Kalau tidak, kamu dan keluargamu akan aku usir,” Raden Harjo membentak. Meja dan kursi buntut hingga dipan reot dari bambu yang membisu menjadi saksi.

Dialog antara Sumirah dan juragan kampung seperti  itulah yang menjadi adegan pembukaan lakon Bunga Semerah Darah karya almarhum WS. Rendra. Dipentaskan Teater Tanah Air di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki pekan lalu, pertunjukan itu untuk mengenang 100 Hari Rendra Berpulang.

Rendra kali pertama mementaskan naskah itu 58 tahun silam (1951) di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Solo. Sebagai penulis naskah, Rendra saat itu merangkap sebagai pemain utama sekaligus menjadi produser. Umurnya belum genap 16 tahun, kelas tiga SMP.

Jose Rizal Manua sutradara Bunga Semerah Darah kali ini, menjelaskan tak seperti Mastodon, salah satu karya Rendra yang penuh muatan politis, di Bunga Semerah Darah Rendra justru menelanjangi hubungan tak seimbang antara kaum berpunya dan mereka yang melarat. Antara gelandangan dengan  tuan tanah dan tuan-tuan yang menyewakan rumah pada gelandangan- gelandangan itu.

“Semua karya pada hakekatnya bertolak dari hidup dan kehidupan dan lihat sekarang ternyata kita masih seperti yang ditulis Rendra itu, yang miskin begitu banyak dan yang kaya tidak mau berbagi,” kata Jose.

Sumirah dan keluarganya memang contoh nasib buruk, ketika kemiskinan dan TBC bersekutu, berkelindan seolah belenggu. Malangnya kecantikan Sumirah juga menjadi bagian dari nasib buruk itu. Kecantikan yang mendatangkan laknat bagi orang-orang semacam Raden Hardjo. Nasib buruk itu semakin sempurna ketika Amat sang suami, kemudian memilih pergi karena gagal berdamai dengan cemburunya. Hanya Ali, anak semata wayang Sumirah yang setia berbagi, juga berbagi TBC yang menggerogoti Sumirah.

Hanya Kesaksian

Seperti naskah-naskahnya yang lain, Rendra memang piawai membidik realitas. Dengar misalnya percakapan antara Ali anak Sumirah yang kelaparan dengan  Ujang, seniman yang “bertamasya sosial” mencari inspirasi.

“Aku akan mencari kebenaran-kebenaran dari kehidupan orang-orang di lingkungan semacam ini,” Ujang berkhotbah.

“Untuk apa?” Ali bertanya.

“Untuk aku karang, biar orang kaya itu tahu tentang kehidupan masyarakatmu.”

Seketika panggung melengking nyaring oleh suara Suti. Gelandangan yang satu ini, sedang marah sambil menyeret anak perempuan sulungnya yang gagal mencopet. Karena tak ada hasil copetan, si anak kemudian mencopet baju adiknya. “Anak keparat! Ayo pulangkan baju adikmu!”

Ujang si seniman itu lantas berdiri. Gayanya  mirip Bung Karno berorasi. “Hal-hal semacam inilah yang akan aku tulis. Biar mereka tahu keadaan rakyat rendah senyata-nyatanya, biar mereka tahu sebenarnya yang berada di balik tempat-tempat dansa, apa yang ada di balik rumah-rumah mewah. Akan aku menelanjangi dunia ini dari kepalsuan. Kita hidup dalam masyarakat, jadi harus bekerja sama. Kalau ada orang yang mau kaya sendiri, kalau ada orang yang mau mewah sendiri, biarlah ia hidup di hutan sebagai orang biadab.”

Tentu orasi Ujang itu bukan soal penting atau tidak penting, karena bagaimana pun orasi tetaplah orasi dan seniman paling keras hanya orang-orang yang menyaksikan lalu  menuturkan kisah. Lihatlah Ali yang malang itu, yang mati tertusuk pisaunya sendiri ketika berniat membalas Raden Hardjo yang dianggap sebagai biang keladi kematian Sumirah, sang ibu. Lalu Amat yang diantar Ujang sang seniman, menemukan istri dan anaknya telah menjadi mayat, ketika kembali pulang.

Akhir dari Bunga Semerah Darah itu, cukup untuk menegaskan, dalam hukum rimba, pemenangnya tetap orang yang berkuasa, mereka yang berpunya. Dan Rendra sudah mencatatnya sejak dia masih SMP, awal tahun 50-an itu. N teguh nugroho

Written by persinggahan

November 15, 2009 pada 12:1 am