Menjenguk Rendra dengan Kereta Kencana
Dia intel, mencari Rendra. Katanya mau ditangkap
Tidak mudah menafsirkan karya seorang Rendra. Termasuk bagi Putu Widjaya, kolega dekatnya. Namun, Putu yang cenderung melahirkan karya-karya absurd, berhasil menjabat tangan “si Burung Merak”, untuk menaiki Kereta Kencana miliknya. Apa adanya.
Pernahkah terpikir menjadi sangat tua, penuh cinta, tapi bosan hidup dan sialnya tak mati-mati? Hari-hari mengalir tanpa sesuatu yang dinanti, sementara waktu memuai dan kenangan masa lalu berkeras ingin menelan kekinian. Waktulah yang berkuasa menenggelamkan manusia.
“Kalau nanti tengah malam ada angin menderu dan bulan tidak nampak lagi di pandangan mata, maka akan datang kereta kencana menjemput kita,” kata Henry pada istrinya. Sementara kursi putar itu menjadi saksi dua ratus tahun yang lewat begitu saja. Bagi suami istri pasangan pecinta itu (diperankan Ikra Negara dan Niniek L Kariem), peristiwa tak ubahnya seperti riak-riak yang hanya timbul tenggelam sesekali dalam arus waktu yang deras, samar-samar diingat. Ya, mereka berdua sudah selesai dengan waktu dan sedang berharap kereta kencana penuh cahaya menjemputnya.
“Kau dua orang tua yang selalu bergandengan dan selalu bercinta, sementara siang dan malam berkejaran dua abad lamanya, akan aku kirim kereta kencana untuk menjemput engkau berdua” sang istri menimpali menirukan suara yang didengarnya. “Henry menurutmu apa artinya semua ini?” sang istri bertanya . “Menurutku kita berdua malam ini akan mati bersama,” jawab sang suami. Lalu senyap. Hingga dentang lonceng jam bergema sekali.
Dalam kesuwungan menunggu, tak mampu mengisi ruang yang tersisa dengan kenyataan, mereka berdua kemudian mengisi bilik-bilik itu dengan suasana-suasana imajiner yang mereka ciptakan sendiri. Perasaan senasib, kecemasan, cinta, keakraban, sosok anak yang dirindukan, sampai kisah-kisah heroik Henry dimasa muda, sampai tamu-tamu yang kemudian berjejalan memenuhi rumah mereka.
“Badut yang manja sekarang kamu ingin aku menjadi apa,” tanya sang istri usai Henry bertingkah seperti badut. “Aku ingin kamu menjadi layang-layang,” jawab Henry. Begitulah, layang-layang itu kemudian terbang. “Tarik….. tarik…. ulur…ulur. … ah, nyangkut,” goda Henry pada istrinya. Ya mereka berdua memang terus memelihara kesenangan-kesenangan kecil macam itu untuk tetap bertahan.
Dialog suami istri yang menanti kereta kencana itu adalah sepenggal dialog dalam Kereta Kencana karya mendiang WS Rendra yang ditampilkan lagi, Jumat (6/11) di Komunitas Salihara. Kali ini disutradarai Putu Wijaya.
Sebenarnya ini karya saduran atau adaptasi dari drama Eugene Ionesco yang berjudul The Chair. Tapi Rendra yang memiliki karakter kuat, menerjemahkannya dengan Kereta Kencana. Bahkan ia berhasil menariknya kereta itu lebih membumi. “Ini sudah bukan Ionesco lagi, ini Rendra,” ujar Putu Wijaya ditemui usai pertunjukan. Menurut Putu, karya Ionesco itu sesungguhnya absurd, sedangkan Rendra cenderung puitis romantis. “Ya, tapi itulah kekuatan si Burung Merak’ dan orang pasti akan menyimpan kenang-kenangan saat Rendra memainkan Kereta Kencana.,”
Rendra pertama kali mementaskan drama ini pada 1961 di Yogyakarta. Tak ada kritik sosial yang sejatinya sarat dalam karya aslinya. Di tangan Rendra yang kental justru muatan spiritualnya. “Bagaimana seseorang itu menghadapi kematian,” ujar Putu.
Namun, Putu yang kerap menyenangi drama-drama absurd, tak mau berlindung dalam bayang-bayang Rendra. Dia kemudian mendekati Kereta Kencana dengan akal. “Kami memang tidak ingin mengulangi apa yang dilakukan Rendra, karena tidak mungkin bisa lebih baik. Hanya dia yang bisa melakukannya dan kami melakukan dengan cara kami,” cerita Putu panjang lebar.
Menurut penuturan Putu, ia sempat berdebat saat rembukan karena Ikra ingin mendekati karya itu dengan kekinian dan situasi lokal. Namun, Putu tetap memutuskan mementaskannya apa adanya seperti naskah yang dibuat mendiang koleganya itu. “Saya ingin pementasan ini menjadi dialog akrab dengan Rendra.” Kata Putu. Untunglah Ikra dan Niniek sepakat.
Menurutnya, mereka mengekspresikan karya itu dengan bebas, tidak membatasi diri pada realisme tetapi juga tidak mencoba absurd. “Kami berekspresi secara santai, berjabatan dengan “Burung Merak” itu, sebagai teman yang sepengetahuan saya sangat leluasa dalam berkarya,’” ujar Putu.
Putu juga mengakui, Kereta Kencana memang hanya milik Rendra, dan hanya dialah yang bisa pas dengan naskah ini. Misalnya adegan alami suami istri Henry yang dimainkan Rendra dengan Ken Zuraida istrinya, tak muncul dalam diri Ikra dan Niniek. Mereka tak selues Rendra dan Ken.
Tapi, lepas dari kekurangan itu, pendekatan yang dilakukan Putu, Ikra, dan Niniek pada Kereta Kencana memberikan sesuatu yang menyegarkan. Yang mungkin tak pernah dilakukan Rendra. misalnya saat Henry dan istrinya sedang sibuk menerima tamu imajiner mereka, Putu tiba-tiba nyelonong ke tengah panggung dari bangku penonton kemudian berbisik pada Ikra dan kembali duduk. “Dia intel, mencari Rendra. Katanya mau ditangkap,” bisik Henry pada istrinya. Penonton yang sudah terlanjur pekat masuk penokohan imajiner yang diciptakan Henry dan istrinya, langsung mencair.Sebuah intermezo yang menyegarkan.adiyanto/teguh nugroho
