P E R S I N G G A H A N

Keroncong Cicak dan Buaya

“Siapa yang main-main dengan kebenaran? Tak silet Cangkem’e

foto Wachyu APLagu All Night Long yang pernah dipopulerkan Lionel Richie lamat-lamat mengalun dari halaman Bentara Budaya Jakarta, Kamis silam. Namun, lagu yang aslinya romantis itu tidak dibawakan dengan irama slow,  tapi mengalun rancak dalam langgam yang unik. Langgam keroncong lengkap dengan cengkok ngak-ngik- ngok.  Plus kocokan okulele dan gitar akustik yang bersahutan. Penonton pun langsung bergoyang mengikuti Djaduk, Anita, dan Silir Pujiwati yang menjadi vokalis dari Sinten Remen.

Di sinilah kejeniusan orkes pimpinan Djaduk Ferianto tersebut. Usai menyulut animo penonton, mereka lantas masuk dengan memarodikan sederet lagu anak, di antaranya  Pergi Belajar karya Ibu Sud yang syairnya diacak-acak  menjadi, “Oh ibu dan ayah selamat pagi, kupergi mencopet sampai kan nanti. Mencopetlah dengan penuh semangat, rajin lah tentu banyak kau dapat…..”

Mengandalkan suasana santai dan syair-syair yang menggelitik, Sinten Remen malam itu memang benar-benar menghibur. Tak semata karena irama keroncongnya yang unik, tapi lebih pada lelucon-lelucon dan dialog yang mengalir di setiap jeda lagu. Djaduk yang tampil mirip pengantin sunat -berbaju putih, bersarung hijau kotak-kotak, dan mengenakan kopiah- berkali-kali berhasil memancing geerr penonton.

“Malam ini kita tidak berpolitik. Tidak ngomong politik,” ujar Djaduk dengan mimik serius yang justru disambut tawa panjang. Tentu saja ucapan Djaduk asal njeplak. Sebab, bagaimana tidak berpolitik, di backdrop panggung sebuah layar dengan warna merah bergambar buaya sedang menginjak cicak sambil tertawa pongah.  Jelas-jelas ini sudah berpolitik. Dan judul pentas yang  “Buaya Keroncong Gendong Cicak” juga merupakan respons terhadap kondisi kekinian.

Usai basa-basi di jeda lagu, Djaduk dan kawan-kawan lantas memainkan karya Bing Slamet, Nonton Bioskop.Lalu menyusul kemudian Caping Nggunung dengan gaya keroncong campur country, mirip lagu para koboi. Lalu menyusul lagu Maling Budiman. “Kenapa Maling Budiman? Karena maling di negeri ini justru mendapat posisi terhormat!!” tukas Djaduk.

Sinten Remen pimpinan Djaduk ini pertama kali dibentuk tahun 1997 yang merupakan reinakarnasi dari Orkes Keroncong Taman Budaya (OKTB) Jogjakarta yang sudah eksis sejak tahun 80-an. Dalam perjalannya Sinten Remen kemudian juga menjadi lebih bebas menjelajah berbagai jenis musik. Tak hanya keroncong, dandut, jazz, pop hingga blues sah saja dibawakan.

Di Bentara Budaya, tak hanya berkeroncong dan sental-sentil melalui celotehan, Djaduk di tengah pertunjukan bahkan kemudian memanggil sang penakluk buaya Joko Tingkir yang kemudian menjadi Sultan di Pajang. Legenda Joko Tingkir bercerita dia berhasil mengalahkan dan kemudian memperalat si raja buaya menjadi rakit saat Jaka Tingkir menuju Demak untuk mengabdi pada Sultan Trenggana.

“Siapa yang main-main dengan kebenaran? Tak silet Cangkem’e !!”  lantang suara Butet Kertaredjasa yang memerankan Jaka Tingkir. “Mestinya saya itu sudah enak-enak di masa lalu, lha kok sekarang sejarah memanggil saya untuk kembali bertarung melawan buaya-buaya itu” rutuk “Jaka Tingkir” alias Butet.

Panggung benar-benar menjadi milik Butet dengan monolog cicak dan buayanya. “Mungkin inilah jaman yang disebut hamenangi jaman buaya. Semua aparat ngedan menjadi buaya sing ora dadi buaya ora keduman,” cerita Butet.

Panggung makin hangat ketika di akhir pertunjukan Djaduk berhasil membajak Trie Utami yang terlihat di antara penonton. Membawakan Laksamana Raja Dilaut cengkok vokal Trie langsung ngepas dengan Orkes Sinten Remen. Penonton puas sementara Cicak dan Buaya memang pas buat cantolan. Teguh nugroho

Written by persinggahan

November 8, 2009 pada 11:1 am