P E R S I N G G A H A N

Puisi Tubuh Ali Sukri

Koran Jakarta Edisi Minggu, 01 Nopember 2009

Dinding-dinding kamar diceritakan memuai, waktu, dan ruang meloncat.

Puisi tak melulu lahir dari kata-kata. Setidaknya itulah yang ingin disampaikan Sukri Dance Th eater. Lewat Puisi foto wachyu APTubuh, kelompok tari asal Padang panjang Sumatra Barat ini coba mengomunikasikan kepada penonton bahwa bahasa gerak bisa mewakili bahasa verbal. Ide tarian pun tak melulu lahir dari sesuatu yang agung dan indah seperti halnya puisi cinta.

Apa yang menarik dari kehidupan kontrakan yang umumnya pengap itu? Di kamar yang berukuran sempit, tubuh ternyata tak selalu merasa terpenjara. Dia terus menggeliat. Kadang menggelapar. Dan kamar kos itu pada akhirnya tak lagi hanya sebuah ruang. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar kamar dibawa masuk, begitu juga sebaliknya. Ada penelanjangan diri penghuninya terpaksa mengenakan topeng.

Berangkat dari ide itulah Ali Sukri dan kelompoknya menuturkan kehidupan kos mahasiswa. Lewat bahasa tubuh tentunya. Dalam Puisi Tubuh, dinding-dinding kamar diceritakan memuai, waktu dan ruang meloncat keluar dan menjadikannya tak berbatas lagi antara dalam atau luar kamar. Dari yang semula hanya keseharian kamar kos, menjelma menjadi keseharian “dunia luar”. Dunia dalam dan dunia luar yang menyatu. Penghuninya bisa saja menjadi diri sendiri atau orang lain atau bahkan kalau mau menjadi apapun dan siapapun.

“Semua itu terjadi di kamar kos yang kecil itu, ada kebersamaan, mimpi, sampai ketakutan-ketakutan. Tapi dari sana orang yang melihat geraknya akan berpikir global,” cerita Sukri ditemui usai pertunjukan. Menurut Sukri ketakutan-ketakutan sepele seperti telat bayar kos, begitu idenya bisa ditangkap maka konteksnya akan meluas, tak lagi hanya melulu urusan domestik kos-kosan mahasiswa. “Idenya adalah bagaimana berbicara tanpa menggunakan bahasa verbal membuat kalimat-kalimat yang tak memerlukan penciptakan dialog, tubuh itu sendiri bergerak menciptakan puisi,” tambah Sukri.

Tak hanya sebagai koreografer, di pertunjukan ini Sukri juga ikut menari. Dia meliuk-liukan tubuhnya, seolah bercerita. Kadang bergerak patah-patah, kadang melata seperti ular. Sangat lentur dan indah. Tentu saja dia tak sendiri. Bersama beberapa rekannya, mereka berdeklamasi mengungkapkan kegelisahan kehidupan anak kos lewat geliat tubuh.

Cerita itu memang dimulai dari sebuah kamar. Enam lelaki bertelanjang dada. Seorang duduk meringkuk di atas lemari sambil terkantuk, dua lainnya menggelepak pada sebuah meja, sementara tiga sisanya tersimpan menjadi penghuni rak lemari yang bersap-sap itu. Hening sejenak, hingga perlahan mencair ketika Sukri –lelaki di atas lemari yang terkantuk itu-, menggeliat pelan-pelan berdiri dan mulai bergerak terpatah-patah seperti sedang tidur berjalan. Merambat turun melalui meja yang bersandar miring pada lemari itu, dia lalu meloncat ke tengah panggung. Sementara musik pengiring hanya mengalir tak-tuk, tak-tuk bak detak jam, tubuh Sukri tetap bercerita dengan lentur dan lincah. Ya, tubuh tubuh itu memang sedang bercerita dalam bahasanya. Tentu saja bahasa gerak dengan segala simbol atau makna filosofinya.

Yang dikatakan Sukri memang benar, walau nampak lambat dibagian-bagian awal, roh Puisi Tubuh justru muncul di bagian akhir pertunjukan. Setelah dua temannya meloncat dari lemari ke tengah panggung dan rebah, Sukri menarik sisanya yang tersimpan rapi di rak lemari, memanggul atau melemparkannya ke tengah panggung dan menimbunnya dengan tubuh-tubuh yang lalu meratapinya.

Melihat tubuh-tubuh yang bertumpuk-tumpuk tak bergerak itu, atau melihat bagaimana Sukri membopong satu persatu temannya, yang terlihat tak lagi kejadian dalam kamar kos. Itu adegan dalam “kamar” yang lebih besar seperti yang setiap hari dilihat dalam televisi. Adegan bencana, dan Sukri mirip sukarelawan yang sedang menyelamatkan korbannya.

Sayang, dari satu jam lebih pertunjukan itu, Puisi Tubuh itu baru “bunyi” di bagian akhir. Setengah jam pertama Sukri dan teman-temannya seperti berpuisi untuk dirinya sendiri hingga susah dinikmati.

Akar Tradisi
Walau olah gerak maupun tema dan alurnya dikemas dalam bingkai kontemporer, Puisi Tubuh tak lalu benar-benar menjadi sekedar tari kreasi modern saja, dasar-dasarnya toh tetap bersandar pada pakem-pakem tari tradisi. Samar-samar ada bentuk Ulu Ambek –silat minang- dalam kuda-kuda Sukri, atau sesekali langkah tigo atau ramo-ramo tabang –kupu-kupu terbang- dari tari piring dari Sumatra Barat.

“Bentuk mungkin sudah tidak kelihatan tapi semangatnya masih tetap minang,” jelas Sukri yang juga merupakan pendiri Sukri Dance Theater. Sukri Dance Theater didirikan akhir 2003 di Padangpanjang. Anggotanya justru tak semua tak semua berlatar belakang tari, seperti para penari Puisi Tubuh itu yang justru berlatar-belakang teater.
“Kali ini energi saya benar-benar sangat terkuras untuk karya ini,” cerita Sukri yang butuh waktu delapan bulan untuk latihan. “Bahkan yang tiga bulan kita berlatih dua kali sehari,” tambahnya.

Selain Puisi Tubuh yang rencananya juga akan digelar di STSI Bandung, Sukri yang baru menyelesaikan S2nya di ISI Surakarta terbilang produktif dalam berkarya. Dentuman Gong, Baliak Ka-asa, Mercuri, Rantak Saayun, Alang Bagaluik, Akhir Sebuah Penantian,Polibek, Giring-giring Perak, Buih, Batu, Tun Fatimah, Langkah Hang Tuah, dan Kaca, hanya sekadar contoh puisi yang dilahirkannya dari bahasa tubuh. adiyanto/teguh nugroho

Written by persinggahan

November 1, 2009 pada 11:1 am