Jejak Sang Pemburu Bayangan
Minggu, 01 Nopember 2009
Soal identitas itulah yang selalu menarik perhatian Mella.
“Memangnya kenapa kalau kita China,” bisik seorang bocah kecil pada kakaknya, nyaris tanpa suara. Sang kakak yang hanya beda beberapa tahun tak paham pertanyaan itu.
“Memangnya kenapa kalau kita China,” bisik seorang bocah kecil pada kakaknya, nyaris tanpa suara. Sang kakak yang hanya beda beberapa tahun tak paham pertanyaan itu. Yang dia tahu, orang-orang beringas itu masuk ke gang rumahnya, melempari kaca sambil berteriak-teriak kasar. Sementara di luar sana, Jakarta merah dibakar api. Tersudut mereka berdua dibebat ngeri tak berkesudahan, mungkin sampai sekarang.
Pertanyaan bocah kecil itu benar-benar menggelisahkan. Identitasnya dipertanyakan ulang dengan kecemasan. Sementara pada orang-orang yang beringas itu ada bara yang diam-diam menyala laten. Suasana batin itulah yang ditangkap Mella Jaarsma –seniman kelahiran Belanda yang tinggal di Yogyakarta.
Suatu ketika, dia menuangkan kegelisahan itu lewat karya seni dengan menggelar performing berjudul Pribumi-Pribumi. Bersama beberapa teman senimannya, Mella menggelar lapak dengan mengusung beberapa kompor minyak tanah, wajan, hingga katak mentah yang siap goreng. Mirip benar dengan pedagang kaki lima.
Di sini Mella hendak menggugat kembali hakekat identitas. Katak hanyalah sebagai simbol. Binatang yang digemari orang China dan diharamkan masyarakat muslim itu, toh disantap juga oleh mereka yang mengaku dirinya muslim.
Penggalan Pribumi-Pribumi itu memang tak bisa lagi dinikmati suasananya, tapi dalam pameran bertajuk The Fiting Room, yang digelar di Galeri Nasional ( /10) cuplikan “pesta katak” itu masih dapat diputar ulang. Sekadar mengingatkan bahwa potensi-potensi ketegangan itu ternyata bisa saja muncul sewaktu-waktu. Oleh Mella, tema-tema serius seperti ketegangan rasial ternyata bisa menjadi bagian yang akrab dengan keseharian. Diperbincangkan, didekati, dan sesekali ditertawakan ironinya.
Bagi Mella, identitas sebagai penanda, seperti tubuh misalnya adalah taken for granted. Tak mungkin ada kuasa untuk memilih. Namun, dari tubuh yang tak tertolak itu, manusia kadang membuat klasifikasi yang njlimet, sebut saja gender hingga orientasi seksual. Berangkat dari klasifikasi itulah seringkali konstruksi hirarki sosial dibangun. Manusia terkotak-kotak dalam baju-baju yang sempit. Seringkali konstruksi dan hirarki itu bahkan menghasilkan dominasi. Klasifikasi itu tak lebih dari sekadar kostum bagi identitas manusia.
Soal identitas itulah yang selalu menarik perhatian Mella, bahkan terlihat jelas dari karya-karyanya sejak tahun 80-an. Ada kalimat yang tegas ketika dia menolak pertanyaan tentang asal-usul dan identitasnya. Dan dia lebih memilih untuk mendekonstruksinya.
“Dengan memproduksi identitas-identitas yang terbarukan,” ujar Mella dalam. Mungkin itu juga alasan dia datang ke Indonesia hampir 25 tahun silam, selain karena ketertarikannya akan cahaya dan bayang-bayang kaitannya dengan budaya yang membawanya berkenalan dengan wayang.
Puluhan karya Mella Jaarsma yang dipamerkan dalam The Fiting Room, merupakan karya-karya pilihannya sejak tahun awal 90-an. Dia sengaja memilih instalasi kostum, tengok saja SARA-swati I,II , Bolak-balik, The Warior, Peranakan Shelter, The Follower, sampai Refuge Only dan sisanya berupa instalasi seperti Rubber Time I &II.
Bagi yang baru pertama mengenal karya Mella memang akan kagok dengan cara bertuturnya, selain media ungkapnya yang beragam, seperti video, gambar, lukisan, fotografi, sampai instalasi, material-material yang digunakannya pun tak kalah warna-warninya. Dari kulit binatang, seperti tupai dalam I Fry You I, kulit ular I Fry You II, kulit kambing I am Ethnic I & II atau tanduk kerbau dalam Londo Ngemis/Bule Gila, hingga belakangan memilih menggunakan material-material sehari-hari. Seperti resluting dalam Zipper Zone- Master of Your Domain. Bagi Mella, bukan gaya yang penting. Perhatiannya lebih terpusat pada soal-soal tematik sampai gagasannya yang provokatif hingga mengubah persepsi.
Lihat saja provokasinya dalam karya instalasi berjudul Rubber Time II, sesosok tubuh bersarung hijau itu tergeletak begitu saja di lantai berselimut seng yang membungkus kuat-kuat tubuhnya. Tak bergerak dan memang tak bisa bergerak karena sebuah ikat pinggang membelitnya kuat-kuat. Manusia terbungkus seng itu, juga tiga sosok lainnya yang “dibungkus” kasur, kain batik, dan kulit sapi, sebenarnya pemandang biasa yang di kota-kota besar. teguh nugroho/adiyanto
FOTO-FOTO: KORAN JAKARTA/ WACHYU AP
