P E R S I N G G A H A N

Yang Ngotot Mencari Pencapaian Baru

Dengan teknik hardboard cut  (cukil kayu) tingkat kesulitan yang dihadapi Anggara sangat tinggi

Trienal Grafis di Bentara Budaya/foto Wachyu APBerbeda dengan melukis yang didukung dengan begitu banyak hal, seperti kapital, lembaga, pasar, hingga sumber daya,  seni grafis berada dalam kondisinya sebaliknya.

Bersama banjir bandang, seekor ikan mendayung mengapung dalam sebuah kaleng yang digunakan sebagai sekoci. Mukanya tampak kecut memandang kejauhan horison yang pekat dengan petir yang menyambar-nyambar.

Membayangkan yang dialami ikan dalam kaleng itu, mau tidak mau ngeri langsung terbit, karena bila ikan saja–yang akrab kesehariannya akrab dengan air- tak mampu menyelamatkan diri. Bagaimana dengan manusia atau mahkluk-mahkluk yang tak akrab dunia air? Tentu saja, lebih dulu musnah. Ikan yang berkeras menyelamatkan diri itu berjudul Imaji Tentang Kerusakan Alam karya Winarso Taufik.

Selain temanya yang menarik, karya Winarso itu juga digarap dengan cermat. Sirip-sirip ikan yang tegas, perpaduan gelap-terang langit yang pas hingga garis-garis halus airnya menunjukan proses pengerjaannya yang sungguh-sungguh. Tentu saja, karena Imaji Tentang Kerusakan Alam adalah karya grafis yang secara teknis akan lebih rumit pengerjaannya dibanding lukisan biasa yang dengan mudah tinggal menorehkan kuas diatas kanvas, bahkan bila itu hanya sebuah garis atau titik sekalipun. Boleh jadi faktor inilah yang membuat tak banyak seniman bergelut serius di bidang ini.

Imaji Tentang Kerusakan Alam karya Winarso itu adalah pemenang pertama lomba Trienal Seni Grafis III Indonesia 2009 yang diselenggarakan Bentara Budaya. 
Walau secara teknis njlimet, Winarso ngotot tak hanya mengirimkan satu karya untuk dinilai juri. Dia sekaligus mengirimkan satu seri yang berisi puluhan karya seperti Banjir Kiriman, Sungai Beracun, Bom Minyak, Banjir Bandang, Jalan Gila dan yang lainnya.

Pemenang kedua diraih, Irwanto Letho dengan Engraver Family With Their Dog. Dalam sebuah rinai hujan, seorang perempuan berbaju dan berpayung merah muda menggenggam erat tas tangannya. Sementara sang anak mengikuti dari belakang, suaminya mengamit kuat-kuat pinggangnya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menuntun dua ekor anjing yang tersaruk-saruk menembus hujan. Di latar belakang langit biru-hitam dengan angin yang menggoyang pepohonan.

Dengan warna-warninya Engraver Family With Their Dog mirip benar dengan lukisan kanvas. Padahal warna dalam karya grafis adalah kesulitan lain. Setidaknya, sebuah warna dalam karya grafis adalah sekali proses pencetakan. Dan sepuluh warna tentu sepuluh pencetakan juga. Menggunakan teknik cukil kayu, Irwanto memang seperti hendak melawan kesulitan bawaan takdir itu.

“Pemenang dalam Trienal kali ini bukan lagi lebih unggul secara teknik saja, tapi unggul juga dalam pemilihan tema hingga kemampuan ungkapnya, juga kesatuan antara tema dan teknik,” ujar Efik Mulyadi Direktur Eksekutif Bentara Budaya yang juga anggota juri Trienal Grafis Indonesia III kali ini. Efik juga mencontohkan pemenang ke 3, Cakrakala karya Anggara Tua Sitompul yang dengan telaten membuat ratusan lingkaran simetris yang mengesan ruang baru yang mucul dan kemudian berputar. Dengan teknik hardboard cut  (cukil kayu) tingkat kesulitan yang dihadapi Anggara sangat tinggi. Menurut Efik, setidaknya Cakrakala menunjukan bahwa capaian karya grafis memberi ruang untuk kemungkinan- kemungkan lain.  “Kalau hal ini bisa dilakukan, artinya ke depan dia bisa melakukan yang lain dengan teknik yang sama,” ujar Efik memberi alasan.

Dunia Yang Kesepian

Tampaknya, dari ketiga karya yang berhasil memenangkan Trienal kali ini, baik Imaji Tentang Kerusakan Alam, Engraver Family With Their Dog hingga Cakrakala selain teknik dan tema, tampaknya juri memberi perhatian pada proses penciptaannya. Setidaknya yang menang adalah mereka yang yang ngotot, yang berani memberi kemungkinan- kemungkinan lain, bahkan termasuk kemuskilan sekalipun. “Memang dalam fase perkembangan grafis saat ini, Trienal ke 3, bahkan ke 4 sampai 5 nanti, proses pembuatan masih menjadi perhatian besar, empat puluh sampai enampuluh” ujar Efik sambil menambahkan berbeda dengan melukis yang didukung dengan begitu banyak, kapital, lembaga, pasar hingga sumber daya seni grafis kondisinya sebaliknya. “Ini dunia yang kesepian sekali,” tambahnya.

Sebagai salah satu cara berkesenian, seni grafis mulai dilirik kembali. Setidaknya, setelah tidak terangkut ketika boom lukisan menerpa ditahun 90-an. Boom terjadi salah satunya karena kurangnya acuan. Tak hanya masyarakat, termasuk senimannya juga tuna acuan. Salah satunya adalah anggapan bahwa karya, nilainya tergantung pada bahan dimana dia dibuat atau bahannya padahal nilai tidak itu. seperti misalnya anggapan karya senirupa dibuat di atas kertas  itu diangap murah. Tapi ini tidak ada acuannya.

Karena memang tidak menjanjikan secara ekonomis, banyak seniman-seniman yang walau belajar akademis seni grafis memilih loncat pagar tidak lagi tertarik menekuni grafis. Beberapa dari mereka memilih ikut melukis agar bisa terbawa kereta boom itu.  Sebab, kalau mereka tetap di grafis tidak terangkut. Walau tidak semua, fenomena itu adalah gejala umum. Segelintir saja mereka yang tetap ngotot, setidaknya walau melukis, tapi tetap menghasilkan karya grafis dengan baik beberapa di antaranya Syahrizal Pahlevi hingga Andre Tanama. Selain nama-nama itu, Sri Maryanto termasuk yang paling ngotot menekuni grafis. Bahkan sesekali dengan cara yang romantik. Sambil jualan kaos atau tas cukilan kayu untuk menutup biaya tiket keretanya ke Jakarta. Benar-benar ngotot. teguh nugroho

Written by persinggahan

Oktober 24, 2009 pada 1:1 pm