Yang Konsisten Di Jalur Langka
Di eropa sendiri, karya ini kurang dikenal lantaran jarang dipentaskan.
Sebuah pertunjukan langka digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu malam pekan lalu. Ya, langka lantaran yang dipentaskan adalah sebuah pertunjukan opera, yang bagi sebagian masyarakat Jakarta barangkali sesuatu yang asing.
Apalagi tema yang diusung pun tergolong berat Il Viaggio dell’Opera From Mozart to Puccini (perjalanan opera dari Mozart hingga Puccini). Dan di antara rentang waktu itu, diselipkan pula karya Beethoven yang berjudul Fidelio. Di eropa sendiri, karya ini kurang dikenal lantaran jarang dipentaskan.
Tapi, di tangan Susvara Opera Company, sebuah kelompok pegiat musik-musik opera asal Jakarta, karya para musisi tenar itu mengalir ringan. Komposisi musik klasik nan indah menjadi jembatan antara penampilan para aktor di panggung dengan audiens. Setidaknya itu untuk mengenyampingkan jalan cerita, yang barangkali tak mereka pahami dengan benar. Apalagi jika tidak membaca katalog pertunjukan.
Seperti judulnya, pentas Il Viaggio dell’Opera -perjalanan opera- malam itu, Susvara menampilkan cuplikan Fidelio karya Beethoven, Le Nozze di Figaro, Don Giovani, Die Zauberflote dan Cosi fan Tutte karya Mozart, La Boheme dan Il Trittico: Suor Angelica karya Giacomo Puccini, Il Travatore-nya Giuseppe Verdi, Norma karya Vincenso Bellini, La Gioconda-nya Amilcare Ponchielli, sampai karya Pietro Mascagni Cavalleria Rusticana.
“Il Viaggio ini juga merupakan gambaran perjalanan Susvara Opera Company menumbuhkan apresisasi seni opera di Indonesia sejak tahun 1970,” ujar Catharina W Leimena pendiri Sanggar Susvara yang merupakan cikal bakal Susvara Opera Company. Selain itu, lagu-lagu yang akan dibawakan dalam Il Viaggio malam itu juga adalah highlight dari lakon-lakon opera yang pernah dibawakan Susvara sejak berdirinya.
Menurut Catharina, usai pementasan terakhir dua tahun silam di tempat yang sama, agenda tahun ini yang ingin dipentaskan Susvara adalah La Gioconda karya Amilcare Ponchielli, karya yang juga pernah dimainkan Susvara 25 tahun silam di Bandung. Sayang, belakangan rencana pementasan itu harus dijadwal ulang karena beberapa pemain mengundurkan diri. “Untuk menjaga momentum dan semangat maka kami mempersiapkan Il Viaggio ini,” cerita Catharina.
Pada pertunjukan kali ini menghadirkan bintang tamu yang juga pernah menjadi -murid Catharina seperti Binu Sukaman (soprano), Aning Katamsi (soprano), solis Fitri Muliati, Sri Muji Rakhmawati, Cristine Lubis, dan beberapa lainnya yang rata-rata pernah atau masih dibimbing Catharina.
Dalam frase aria Senza Mamma dari opera Suor Angelica karya Puccini, Aning Katamsi memulainya dengan resonansi vokal dan penghayatan yang sangat memikat. Nasib pahit yang dialami Angelica putri bangsawan Italia yang akhirnya bertobat menjadi biarawati itu seperti benar-benar dialami sendiri oleh Aning. Dengan suara bening yang tinggi, Aning menjadi pusat magnet yang membuat penonton di GKJ terpaku.
Sementara tak kalah apiknya, Binu Sukaman dalam Mira, O Norma dari opera Norma duet dengan Aning dan Ah, il Signore vi manda dari opera Cavalleria Rusticana bersama Ferry Chandra. Suara sopran Binu yang cemerlang dan aktingnya yang prima menuntaskan Mira, O Norma dengan indah. Sementara dalam Ah, il Signore vi manda karakter Santuzza yang putus asa oleh Binu dimainkan dengan penghayatan yang nyaris sempurna. Adiyanto/teguh nugroho
