P E R S I N G G A H A N

Perempuan yang Mendekonstruksi Tubuhnya

Dona seperti sedang menyindir perempuan yang mengamini konstruksi bahwa tubuh adalah komoditas

WAP20091015-1_02Kurang lebih 40 perupa perempuan menggelar pameran di sebuah mal di Jakarta. Rata-rata mereka menggugat tubuhnya sendiri yang dikonstruksi dunia patriaki. Mereka pun menggugat hegemoni itu.

Sebuah patung yang dipahat berbentuk alat kelamin dipajang di pintu masuk ruang pameran di East Mall, Grand Indonesia, Jakarta. Ukurannya lumayan besar, seukuran tubuh anak kecil. Tak tanggung-tanggung, alat kelamin itu diletakkan dua sekaligus, berdampingan. Mirip relief lingga dan yoni di candi Sukuh yang provokatif itu.

Nevermind who the Bo(y)s, Here came the Loro Blonyos karya Renie “Emonk” Agustine yang di pajang di pintu masuk pameran bertajuk My Body itu juga tak kalah provokatifnya. Patung itu benar-benar meneror.

Tak berhenti di titik itu, Renie mendandani patung itu dengan menyamarkannya menjadi patung Loro Blonyo –patung pengantin-, lengkap dengan batik dan duduk sila mlepet ala sinden dan dengan “kepala” alat kelamin yang dimodifikasi menjadi gelung itu. Loro Blonyo, dalam tradisi Jawa sudah dikenal sejak jaman pemerintahan Sultan Agung. Manifestasi dari figur Dewi Sri-Sadana itu, seringkali dianggap sebagai gambaran harmonisasi yang melengkapi satu sama lain. Sepasang patung pengantin Loro Blonyo dalam kosmos agraris Jawa adalah cermin penyatuan yang mendatangkan kesuburan dan kemakmuran yang mensyaratkan kesuburan reproduksi biologis pada manusia maupun kesuburan tetanen, dan begitulah Loro Blonyo menjadi simbol interpretatif.

Dalam  karya itu jelas sekali terlihat Renie sedang menolak –bahkan menolak sangat keras- nilai lama yang mengebirikan perempuan hanya menjadi sekadar objek dari dunia yang sangat “laki-laki”. Cerdas karena mitos tentang Loro Blonyo itu ditelanjangi rahasianya menjadi “hanya” tentang alat kelamin pria. Tak lebih.

Tak hanya Renie yang menolak dunia yang sangat maskulin itu, lukisan Cukup 4, karya Gilang Cempaka juga menyoal isu yang sama. Gilang berbicara dalam bahasa yang “nylekit”. Dengan dua kanvas berukuruan 1 kali 1 meter yang disatukan itu, dia menempatkan empat figur perempuan yang terjebak dalam sebuah ranjang berbantal ungu, telanjang di balik selimut dan gelisah.

Orang paling awampun langsung paham apa yang sedang dipersoalkan Gilang –dengan nyiyir itu-, mungkin memang bukan kalimat, nikahilah perempuan-perempuan yang kamu cintai, dua, tiga atau empat, dan bila takut tidak mampu berbuat adil, nikahilah satu saja, yang sedang disoal Gilang. Tapi dengan pasemon itu Gilang jelas tidak terima “takdir sosial” keperempuanannya.

Menolak jadi Objek

Selain Renie dan Gilang, dalam The Body yang digagas oleh Andi’s Gallery, bergabung lebih dari 40 perupa perempuan lainnya seperti Astari, Dolorosa Sinaga, Titarubi, Tere, dan  nama-nama perupa perempuan yang tak asing dalam dunia senirupa.

Basuki Abdullah pernah menyebut  dengan sarkas, “perempuan hanya cocok untuk dilukis dari pada menjadi pelukis,” hingga kemudian banyak karyanya mereproduksi tubuh perempuan melalui “cara pandang” laki-laki, mulus bercahaya, dada penuh, padat, cantik atau lembut.

Cara pandang patriarki seperti Basuki itu tentu menjadi sangat berbeda dibanding bila perempuan melihat tubuhnya sendiri. Tubuh tak lagi hanya terbatas menjadi objek “pelampiasan”, ia kemudian bergerak ke wilayah yang lebih luas seperti persinggungannya dengan tema-tema kontemporer seperti konsumerisme, budaya yang kompleks hingga kekuasaan dan moralitas. Dan dalam The Body kali ini, perupa  perempuan itu banyak yang tidak terima bahkan marah dengan konstruksi yang patriaki itu.

Seperti misalnya dalam karya, Dona Prawita Arissuta,  Absolutly Sweet Bodies. Dona menghadirkan delapan boneka perempuan yang berbaris di satu sisi, dan sembilan lainnya berjajar di sisi seberangnya. Mereka berhadap-hadapan dan hanya dipisahkan oleh cermin di tengahnya. Melalui boneka-boneka itu, Dona seperti sedang menyindir perempuan-perempuan yang mengamini konstruksi bahwa tubuh adalah komoditas. Perempuan yang resah bila tubuhnya “tak memuaskan” dan madah saja menyerahkan dirinya pada zaman yang hanya menilai keperempuanan dari tubuhnya semata.

Sementara dalam Amour for Dating karya Octora, tubuh perempuan itu dipandang sebagai sesuatu yang harus dilindungi. Octora menciptakan sebuah pakaian dalam perempuan yang terbuat dari seng. Tak hanya itu, dia kemudian juga menyertakan duri-duri di pakaian itu, mirip aksesoris penggemar punk. Perempuan yang khawatir dengan tubuhnya hingga perlu memberinya “benteng”. Tentu saja, ini berangkat dari kecurigaan bahwa tubuh “perempuan” selalu diintai hasrat.

Tema-tema mainstream yang stereotype itu tentu tak mudah mengurainya. Belum lagi, anggapan perempuan sebagai “pelukis hari minggu” yang tentu berkonotasi, iseng, sekadar hobi, dan kerja sambilan. Dunia domestik rumah tangga masihlah yang utama, bahkan di Jawa ada istilah tempat yang tepat bagi perempuan hanya dapur, sumur, dan kasur.

“Bagaimanapun perempuan memiliki keterbatasan,” tutur Andi  Yustana pemilik Andi’s Gallery sambil menyebut kebanyakan perupa perempuan itu masih harus membagi “waktu” dengan urusan-urusan domestik rumah tangganya. “Sebagian dari mereka masih harus ngurus suami,  anak, rumah, belum lagi harus memikirkan karyanya. Ini adalah hambatan sosial yang tak mudah,” tambah Andi.

Sering kali bahkan hambatan sosial itu, berimbas menjadi hambatan teknis. “Ada beberapa karya yang bahkan baru datang tadi pagi,” tambah Andi menceritakan pengalaman susahnya mengumpulkan karya-karya perempuan yang hendak dipamerkan. Walau penuh dengan keterbatasan alamiah itu, Andi tak memungkiri banyak dari karya perupa perempuan yang dipamerkan kali ini secara teknik dan ide sangat baik. “Walau kebanyakan yang memenuhi itu tetaplah karya perupa perempuan senior,” jelasnya tanpa mengecilkan wajah-wajah baru yang mulai muncul.teguh nugroho

Written by persinggahan

Oktober 18, 2009 pada 2:1 pm