P E R S I N G G A H A N

Menambahkan Vokal Pada Si Jumbo

Ukuran gamelan ini bisa dua sampai tiga kali lebih besar. Kira-kira seukuran ban modil sedan.

 Gamelan Sekaten, YogyakartaSekelompok mahasiswa ISI Surakarta mementaskan sebuah repertoar gamelan sekaten. Namun, mereka melanggar pakem dengan menyisipkan unsur vokal yang  sebelumnya “diharamkan” dalam tradisi tersebut.

Suara anggun bernuansa megah mengalun dari satu set bonang berlajur dua yang ditabuh solo sebagai racikan itu. Iramanya yang pelan diam-diam menyelinap dan memantulkan bayang-bayang kemegahan Jawa dalam perayaan grebeg maulud atau Sekaten di masa lalu. Tak hanya membuai, alunan irama itu kemudian berubah lebih keras dan bertenaga, belum lagi kemudian ditingkahi suara bedug yang dentamnya menggelegar itu. Tak usah takjub, karena ini dari jenis Gending Soran –keras-kerasan-.

Bahkan tanpa bantuan pengeras suarapun gending itu lamat-lamat bisa didengar dari jarak berkilo-kilometer jauhnya. Di masa lalu, ketika para wali di tanah Jawa mula-mula mendakwahkan Islam, mereka menggandeng budaya lokal yang digemari masyarakat waktu itu untuk menyampaikan pesan Islamnya, seperti wayang. Lalu gamelan kemudian juga digunakan sebagai media dakwah.

Masalahnya, untuk  mengumpulkan orang lebih banyak diperlukan gamelan yang lebih keras suaranya. Tentu, jalan satu-satunya yang paling mungkin tentu saja dengan memperbesar volume dan mempertebal bahan gamelan itu. Begitulah gamelan sekaten diciptakan pada mulanya. Dilihat dari ukurannya dia lebih besar dibanding gamelan pada umumnya. Bahkan bila dibanding dengan Gamelan Ageng sekalipun. Ukuran gamelan ini bisa dua sampai tiga kali lebih besar. Bonangnya saja, kira-kira seukuran ban modil sedan.

Tak hanya gamelannya, alat pemukulnya juga. Untuk tabuh ricikan saron barung atau saron penerus misalnya, tanduk kerbau dipilih untuk menghasilkan intensitas bunyi yang keras dan kaya harmoni dan timbre yang khas gamelan sekaten. Menggunakan laras pelog, gamelan sekaten biasanya terdiri dari satu set bonang berlajur dua, satu untuk bonang itu sendiri dan satu lagi digunakan sebagai penembung dengan nada satu gembyang lebih rendah dibanding bonang, dua set demung, empat set saron barung, sepasang saron penerus, kempyang, bedug, dan sepasang gong. Semuanya berukuran jumbo.

Perangkat gamelan itu juga yang mengiringi Nyugata –menjamu-, komposisi dalam garap karawitan Sekaten karya Supardi dan Al Suwardi yang dibawakan oleh ISI Surakarta dalam Festival Kesenian Indonesia, Selasa (6/10) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Selain Nyugata dalam pagelaran gamelan itu juga tampil nomor Goon Renteng dari STSI Bandung dan Ngalor-Ngidul Kangin-Kauh yang dibawakan oleh ISI Denpasar.

Seperti dalam kebiasaan penyajian gending Sekaten, Nyugata, juga dimulai dari irama yang pelan –yang merupakan dinamika khas gending sekaten- kemudian masuk pada sesekan dan sesek. Alur tradisi inilah yang masih dipertahankan Supardi dan Al Suwardi walau tidak dalam bentuknya yang formal dan kaku.

Dalam Nyugata yang berdurasi lebih dari 30 menit itu, dengan sekali dengar kita masih bisa menemukan ciri khas gending sekaten, seperti  permainan solo bonang sebagai racikan misalnya. Juga irama dados seperti biasanya, dengan tanggung sebagai peralihan, lalu setelah dados menjelang surup menggunakan sesekan –sajian yang irama cepat keras menjelang selesai- tanpa wilet seperti pada gending-gending nyemek.

Secara umum karawitan Sekaten memang jarang dikenal, selain hanya dipergelarkan setahun sekali dalam acara grebeg maulud, karawitan Sekaten juga memiliki kekhususan baik dari instrumentasi, garap, maupun repertoar gendingnya. Selain itu, karya-karya yang ada saat ini sangat jarang yang menggunakan medium gamelan sekaten. “Saya ingin membuat reportoar yang baru dan memperkaya garapan dan juga bisa karya-karya seperti itu bisa dipergelarkan dalam sekaten, tentu dalam perkembangan yang baru,” cerita Al Suwardi ditemui usai pagelaran.

Kalimat Pujian

Yang menarik, dalam Nyugata, Al Suwardi dan Supardi menambah komposisinya itu dengan membuat pola racikan yang menyisipkan unsur vokal. Sesuatu yang tak bakal ditemukan dalam reportoar gamelan sekaten tradisi. Mereka memasukan gerong yang menggunakan kalimat-kalimat la ila ha ilallah dan puji-pujian lainnya.

Memasukan unsur vokal dalam gending sekaten, sebenarnya sebuah usaha yang nyaris mustahil. Setidaknya itulah yang terjadi, gending Sekaten tradisi tidak pernah menggunakan vokal. Ukurannya yang besar menyebabkan sistem pelarasannya otomatis jadi berada di luar jangkauan olah vokal manusia.

Sementara, suara vokal bisa masuk dalam Nyugata karena Suwardi dan Supardi mengatur komposisi alur lagunya sedemikian rupa hingga vokalnya cocok dengan cara mencari nada terendah dan tertinggi yang mungkin bisa dicapai, kemudian disesuaikan baru dengan gamelan.

“Sebelum menggunakan vokal, saya minta “penyanyi” bersuara untuk mencapai nada paling tinggi yang mungkin bisa dicapai sampai nada berapa. Terus baru saya buatkan notasi” jelas Suwardi. “Ngukurnya ya di thing-thing urut sampai nada tertinggi. Dalam ukuran nada ji-ro-lu-mo- nem, itu masuk nem-ji. Ji pelog, sampai ji itu sudah sampai batas paling tidak enak didengar. Ngeden,” tambah Suwardi yang juga mengajar karawitan di ISI Surakarta.

Ya, reportoar gending-gending Sekaten memang bukan dari jenis mat-matan seperti gambir sawit atau pangkur yang bisa dinikmati sambil nglaras atau leyeh-leyeh itu.teguh nugroho

Written by persinggahan

Oktober 16, 2009 pada 1:1 pm