P E R S I N G G A H A N

Dari Meja Makan Khaos itu Bermula

Ruang dan waktu manusia tertinggal, dan masyarakat menjadi sangat individualis.

foto oleh Wachyu AP

Tiga perempuan berdiri tegak dengan kepala terdongak. Mulut mereka masing-masing menggigit sebuah sendok makan mengilat. Dengan langkah pelan terpatah-patah mereka kemudian mengisi tengah panggung. Di belakangnya lima orang lagi menyusul ke depan, dua laki-laki dan tiga perempuan, juga menggigit sendok mengilat di mulutnya. Masih dengan gerak yang terbatas, perempuan-perempuan itu melentingkan tubuhnya membungkuk mirip patung. Sementara suara cello mengiris-iris seperti menyanyikan kepedihan yang pekat.

Dari sisi panggung sebelah kiri, lalu masuk seorang perempuan berdandan ala seorang ratu dengan mahkota tingginya. Di tangannya sebuah piring plastik warna biru, kontras benar dengan gaunnya yang merah menyala. Dengan langkah anggun sang ratu itu menghampiri “kumpulan” yang beku itu dan satu demi satu, sendok mengilat itu berpindah dari mulut ke tangan lalu ke piring plastik si maharatu.

Dan menghamburlah mereka ke balik panggung meninggalkan sepasang penari di tengah panggung yang menarikan gerakan “cinta”. Saling berhimpit, berdempet rapat, mencium, berpeluk, dan panggung seperti disulap menjadi taman eden yang penuh cinta, sementara romantis suara biola bersuka cita mengiringinya.

Itu awalnya, lalu masuk penari-penari lain sambil membawa meja-meja dan kursi-kursi. Sambil terus menari meja itu ditata berkeliling menyisakan ruang kosong di tengah untuk menari. Tak lama damai itu bersemayam. Meja-meja dibariskan, kursi-kursi disingkirkan hingga membentuk meja memanjang. Dan panggung romantis itu segera memudar. Tarian penuh cinta, alunan cello yang menyayat, hingga biola yang mendayu, lenyap. Berganti perkusi dengan dentamnya yang menggelegar. Khaos itu pun dimulai dari meja makan. Piring-piring dan gelas plastik berserak. Berhambur. Keselarasan dan kebersamaan musnah menjadi sesuatu yang instan dan praktis. Ruang dan waktu manusia tertinggal, dan masyarakat menjadi sangat individualis.

The Long Table begitu judul tari kontemporer dan ansamble yang digarap keroyokan oleh ISI Yogyakarta, STSI Bandung, STSI Padang Panjang, IKJ dan ISI Surakarta dan dipentaskan dalam Festival Kesenian Indonesia, Kamis (8/10) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di koreograferi oleh Poppy Parisa, Joko Sudibyo, dan Muslim Bagus Pranowo, The Long Table mencoba memberikan sudut pandang dengan menguak fenomena hilangnya ruang komunikasi manusia dengan habitatnya.

Ada kerinduan pada nilai-nilai masa lalu yang semakin ditinggalkan, misalnya meja tempat makan yang pada nilai-nilai lama juga menjadi tempat diskusi hingga tempat untuk mempraktikkan pola-pola komunikasi sekarang menjadi semakin panjang, semakin tak berujung. Dan kebersamaan, juga gotong royong itu, kemudian dianggap sebagai pemborosan dan tidak efisien lagi.

Poppy , Joko, dan Muslim dengan jitu berhasil mengolah keterasingan- keterasingan itu dalam gerak-gerak dua belas penari yang apik, luwes dan renyah dicerna oleh standar estetis penonton di Graha Bhakti Budaya. Nilai tambah juga pantas diberikan Gatot D Sulistyo sang komposer dengan sentuhan ansambelnya yang menghidupkan panggung.teguh nugroho

Written by persinggahan

Oktober 16, 2009 pada 1:1 pm