P E R S I N G G A H A N

Menjejak Prasangka Rasial Dalam Novel Hari Kunzru

Minggu, 04 Oktober 2009 01:25

WAP20091002_01“Go back to your home!” Kalimat itulah yang seringkali diucapkan orang Inggris terhadap imigran-imigran yang datang ke negaranya paska Perang Dunia II.

Hari seperti mewakili generasi baru penulis India setelah era Salman Rhusdie

“Go back to your home!” Kalimat itulah yang seringkali diucapkan orang Inggris terhadap imigran-imigran yang datang ke negaranya paska Perang Dunia II.

Imigran-imigran itu, yang datang semakin banyak setiap tahunnya, tentu datang dengan bahasa, budaya, serta agama berbeda. Strangers at their home, begitu mungkin pikir penduduk asli. Rasis. Ya, dan itu mengendap laten dalam bawah sadar kolektif semua masyarakat. Tentu saja tak hanya di Inggris.

Itulah yang dipaparkan Hari Kunzru novelis asal Inggris dalam diskusi Multiidentitas dan Radikalisme, Kamis (1/10) di komunitas Salihara, Jakarta.  “Aku merasa aneh, apa artinya itu?” begitu selalu pikirnya. Bagi Hari, walaupun ada darah Kasmir yang mengalir dalam tubuhnya, dia toh lahir dan kemudian tumbuh besar di Inggris. “Aku sudah di rumahku,” ujar Hari.

Lahir dengan nama lengkap Hari Mohan Nath Kunzru dari seorang perempuan Inggris dan berayah Kasmir, Hari seperti mewakili generasi baru penulis India setelah era Salman Rhusdie. Generasi ini tak lagi melihat ke belakang dengan kemarahan tetapi dengan ringan, kepala dingin atau sesekali dengan ironi yang getir.

Pengalaman tumbuh besar di London dengan kulit “berwarna” di tahun 80-an justru ketika politik di Inggris sedang didominasi sentimen anti imigran, sangat mempengaruhi cara pandang Hari dan itu terus muncul dalam karya-karyanya.

Menyelesaikan pendidikan di Bancroft’s School, Essex dan mempelajari sastra Inggris di Wadham College Oxford, Hari mendapat gelar MA bidang filosofi dan sastra di University of Warwick.

Tiga novelnya, The Impressionist (2002), Transmission (2004) dan My Revolutions (2007) serta kumpulan cerita pendek Noise (2005) sarat dengan isu-isu multikultural yang menarik perhatian penikmat sastra dunia dan sudah diterjemahkan ke 21 bahasa serta meraih beberapa penghargaan, seperti Betty Trask Prize (2002), Somerset Maugham Award (2003) hingga British Book Author of The Year (2003) dan beberapa penghargaan internasional lainnya. Novel pertamanya The Impressionist, selain karena isinya yang menarik juga mengejutkan publik karena bayarannya yang 1,25 juta poundsterling.  Namun, menurut pengakuan Hari ternyata itu sekaligus merupakan uang muka untuk dua novel yang akan terbit berikutnya.

The Impressionist bersetting tahun 20-an yang mencoba menelusuri pergulatan identitas anak campuran India-Inggris yang serba nanggung. Tokoh dalam novel itu adalah Pran Nath yang identitasnya ambigu.

Dia akan menjadi orang putih bila sedang butuh menjadi orang putih, dan akan menjadi orang kulit berwarna bila dia butuh identias Indianya. Seluruh hidup Pran yang diceritakan Hari adalah perpindahan kultur dan identitas itu.

Dalam Transmission, masih bercerita tentang masalah ras campuran India-Inggris, Hari masuk ke dunia global dan mengalami krisis identas di negeri orang. Dalam salah satu bagian novel itu, Hari menceritakan pengalaman pribadinya yang terkait sentimen rasial ketika berkunjung ke Dubai.

Dalam satu kesempatan dia dilayani bellhop India bernama Bruce, waiters Indonesia bernama Doug, dan waitress asal China bernama Carey Ann.  “Seluruh pelayannya menggunakan name tag palsu dengan anggapan di dunia yang multikultural, “masyarakat internasional” akan lebih nyaman dilayani oleh orang yang nama-namanya mudah dikenalnya,” cerita Hari.

“Ini justru akan membuat nama-nama dari Asia akan menghilang,” tutur Hari menambahkan. Terlanjur dicap sebagai penulis India, dalam novel ketiganya My Revolution tokoh Hari benar-benar telah menjadi warga dunia. Jejak “India” melenyap sama sekali.

“Saya merasa lebih sebagai orang kota besar, bukan lagi orang India di Ingris,” ujar penulis yang sekarang lebih sering tinggal di New York.
Teguh nugroho/foto Wachyu AP

Written by persinggahan

Oktober 4, 2009 pada 10:1 am