Bencana dalam Kacamata Oscar
Minggu, 04 Oktober 2009 01:32
Pilihan objek fotonya seringkali, nakal, usil, dan menggugat. Bencana adalah penderitaan. Dan penderitaan itu tidak harus berwujud kehancuran, tangisan, dan entah apa lagi yang harafiah.
Lewat kamera lensanya, Oscar Motulloh menyibak sisi-sisi bencana dari sudut lain. Meski muaranya sama, sebagai peringatan bagi umat manusia. Sebuah foto pesawat terpampang di dinding sebelah kiri pintu masuk ruang pamer Komunitas Salihara, di Jakarta Selatan. Sudut pengambilannya menarik, yakni dari belakang agak ke bawah, hingga selain tubuh hanya terlihat ekor dan bagian sayapnya saja. Sementara bidang atasnya menyisakan ruang kosong dengan mendung hitam yang menggelayut pekat.
Melalui lensanya Oscar Motulloh sang fotograger, membuat pesawat Seulawah RI-001 yang sebenarnya telah grounded dan hanya menjadi monumen di lapangan Blang Padang, Banda Aceh itu, seperti hendak bersiap lepas landas. Ya, tentu saja, seandainyapun bisa Seulawah tentu sudah terbang, meninggalkan kota dan manusia yang porak-poranda berantakan. Foto berjudul Offair Seulawah itu diambil Oscar 27 Desember 2004, tepat sehari setelah tsunami dahsyat menerjang dan meluluh lantakan Banda Aceh dan sekitarnya. Kebetulan Seulawah itu tetap utuh ditempatnya.
Di sebelah Offair Seulawah, memutar mengikuti dinding ruang pamer di gedung Salihara, dalam Prelude The Gate of Delirium, Oscar membidik sekumpulan pohon nyiur yang utuh dikejauhan, sementara di latar depan puing-puing sisa bangunan berserak dan bertumpuk mengerikan dan tak menyisakan kehidupan.
Lalu Casthrope # 1-3, Atlantis van Java, yang bercerita tentang bencana Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, juga The Last Supper yang idenya jelas berasal dari lukisan karya Leornado da Vinci itu. Dalam The Last Supper, Oscar sepertinya memang hendak menggelitik penikmat fotonya dengan perenungan. Bila da Vinci menggambarkan tentang megahnya sebuah jamuan makan yang penuh dengan keagungan, Oscar justru ingin bercerita sebaliknya, yakni suasana sebuah bar paska bencana.
Tempat kasir lengkap dengan tembok melingkarnya mirip meja makan, sebuah lukisan laut selatan yang gelap sebagai latar belakang dan iklan bir di atasnya yang menampilkan ironi. Di bawahnya bertumpuk dan berbelit-belit bekas jaring penangkap ikan, sebuah karung berisi entah apa, sampai potongan-potongan busa. Fokus pada lukisan laut di belakang meja kasir itu seperti pertanda, bencana itu datang dari sana.
Dari laut yang murka dan kemudian memuntahkan airnya menerjang pantai, tentu termasuk bar itu. Bencana itu benar-benar menjadi The Last Supper. Oscar berupaya memotret sisa-sisa yang ditinggalkan bencana dan menjadikan gambar-gambar kehancuran seperti monumen.
“Ini memang seperti sebuah catatan penderitaan, tapi sebenarnya ini adalah peringatan bagi kita semua,” cerita Oscar ditemui usai pembukaan Pameran Fotografi dan Peluncuran Buku Lintasan Saujana Jiwa, Jumat (2/10) di komunitas Salihara, Jakarta.
Perspektif lain
Saat banyak fotografer pemula terjebak mengabadikan suasana bencana atau paska bencana dengan tampilan yang mentah, harafiah, dan seringkali hanya “memotret” tanpa menawarkan ruang untuk mencerna, Oscar mengajak bercerita dan merenung melalui objek-objek yang kadang kala sepele bahkan sangat sepele, tak terlintas dan terabaikan.
Misalnya sebuah tanda batas desa dalam Infiniti Inferno di Cotlamkueh, Lhoknga Aceh Besar. Batas desa itu hanya sebuah papan kayu yang ditancapkan begitu saja dan ditulisi asal-asalan “Batas Desa Cotlamkueh”, hanya itu, sementara desa Cotlamkuehnya sendiri rata dengan tanah dan hanya menyisakan satu atau dua bangunan yang tegak di kejauhan. Dalam Atlantis van Java, juga begitu. Oscar merekam sebuah pengukur ketinggian air di Lapindo yang terbuat dari bambu. Di belakangnya, air dan lumpur menggenang sunyi, tapi merusak segalanya.
Selain merekam yang “sepele-sepele” dan menawarkan perspektif baru, pilihan objek fotonya seringkali, nakal, usil, dan menggugat. Seperti misalnya, dalam Samsara yang diambil di pusat kerajinan gerabah di Kasongan, Bantul, Jogjakarta. Oscar merekam patung-patung Buddha yang sedang bersila. Kondisi patung itu relatif utuh, kontras benar dengan keadaan sekitarnya yang penuh puing diguncang gempa dan menewaskan banyak orang. Sementara dalam Via Dolorosa yang diambil di Kotagede, Oscar mengabadikan sebuah patung Al-Masih yang tumbang, tubuhnya seolah terjepit reruntuhan. Benar-benar menderita seperti manusia yang digoyang gempa.
Atau dalam Sound of Silence, dimana Oscar memotret membelakangi sebuah loudspeaker masjid yang utuh –tentu saja masjidnya utuh-, dari loadspeaker itu pandangan melintasi hamparan yang sunyi di depan yang terus menyambung pada keluasan laut di kejauhan.
Di sini Oscar seperti menggugat, untuk siapa suara adzan itu diperdengarkan –melalui loudspeaker itu bila di sekitar masjid itu tak ada lagi manusia. “Alam memberikan pelajaran pada kita bukan hanya membiarkan dan menunggu bencana itu terjadi,” ujar Oscar yang selain memimpin Kantor Berita Foto Antara juga masih rajin mengajar pada Fakultas Film dan Televisi di Institut Kesenian Jakarta.
teguh nugroho/foto Wahyu AP
