Mendengarkan Bunyi Darah
Kelompok musik Kuruksetra mementaskan fragmen Kurusetra lewat aneka bunyi.
Panggung itu dibuka dengan gelap. Senyap. Tak ada gerak. Tidak juga cahaya dan suara. Berkepanjangan sebelum lampu sorot merah, perlahan menyiram umbul-umbul di panggung.
Setelahnya adalah bunyi. Irama datar mulanya, lalu terdengar naik, melengking, sebelum kemudian kembali rendah ditingkah bunyi tambur. Mirip sound track film horor yang digabung dengan irama-irama dalam upacara-upacara mistis suku terasing.
Mungkin Voodoo itu. Sementara tembang mulai terdengar, lolongan demi lolongan juga menyertai seolah bersahutan. Seperti memanggil dari tempat jauh, dan asing. Sebuah tempat yang mungkin paling mengerikan yang pernah dibayangkan oleh manusia.
Bliss, Plaque dan Damnation, yang dipentaskan di Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta, Sabtu malam pekan lalu memang menampilkan kisah perang yang dibungkus dalam bunyi (musik) itu.
Khuruksetra yang mementaskan. Itu adalah kelompok musik yang para pemainnya berhikmat menggarap bunyi-bunyian untuk mencari alternatif bermusik. Paling tidak begitulah, pengakuan Mikael Mirdad, juru bicara Kuruksetra.
Selain Mikael, ada Danif Pradana, Andra Fembriant dan Enrico Gobel. Mereka memainkan perkusi, bass, dan gitar. Mikael bercerita, Bliss, Plaque dan Damnation adalah abstraksi kisah yang pernah terjadi yang kemudian diaplikasikan dalam bermusik.
“Kita ingin menceritakan Kurusetra tapi dengan setting modern, “ ujar Mikael. Lelaki ini lulusan Universitas Teknologi, Sidney, Australia.
Benar, Kuruksetra memang meramu bunyi perang. Bila tembang Sundayana bercerita tentang perang Bubat, Negarakartagama mengisahkan kekejaman Paregreg, maka Kuruksetra mengangkat perang Baratayudha di Padang Kurusetra.
Itu perang antara Pandawa dan Kurawa, dua puak yang sebetulnya bertalian darah yang memperebutkan takhta Astina.
Bliss, Plaque dan Damnation malam itu dimulai dari gugatan Yudhistira –salah seorang tokoh Pandawa— pada Bisma sang paman: mengapa untuk hanya untuk sebuah takhta, Pandawa harus mengangkat senjata melawan saudara mereka sendiri.
Sebuah pertanyaan yang mudah dijawab, tapi tak bisa mencegah apa pun karena Baratayudha— peperangan besar antara Pandawa dan Kurawa di Padang Kurusetra itu, menjadi niscaya.
Di medan perang itu, semua dendam dan kutuk serapah lalu tumpah menjadi banjir darah dan air mata. Menjadi ladang pembantaian. Membuyarkan batas antara darma dan karma.
Belapati dan Leak
Lalu Danif kemudian berteriak. Melolong. Ada suara ketakutan, atau mungkin tepatnya kengerian. Rasa putus asa dan harapan, lantas seolah berbaur dalam kehancuran dan kutukan perang.
Bunyi darah, air mata, dan mungkin juga semua kesumat terdengar sebagai bunyi yang menakutkan.
Bersama teriakan dan pukulan perkusi, dia tampak seperti kerasukan, trance itu. Wajahnya yang penuh jelaga hitam menyeruak ke tengah panggung. Tangannya liar.
Umbul-umbul di panggung yang tertata rapi, dicabutnya satu-satu lalu dilemparkan kepada penonton, yang harus diakui, sebagian besar juga terlihat tegang.
“Kebetulan kita sangat menggemari kisah-kisah Mahabarata terutama dalam fragmen peperangan antara Pandawa dan Kurawa di Padang Kurusetra,” kata Mikael.
Sebelum mementaskan Bliss, Plaque dan Damnation, Kuruksetra pernah menampilkan tembang-tembang seperti Belapati atau Leak yang ditampilkan di Sidney dan Melbourne.
Sama dengan Bliss, Plaque dan Damnation yang dipentaskan di Salihara, ide pertunjukan Belapati dan Leak di dua kota Australia itu juga berangkat dari tema-tema yang akrab dengan tradisi.
Lalu sebagai pertunjukan yang menurut Mikael spontan dan tanpa persiapan, Bliss, Plaque dan Damnation dari Kuruksetra malam itu, terbilang memikat dengan perspektif yang juga lumayan cerdas.
Memang ada kekurangan, terutama karena selain Danif, anggota Khuruksetra yang lain hanya diam di posisi masing-masing. Sementara Danif bergerak ke sana ke mari dengan lolongan dan tabuhan perkusi. Whuaaaak…Dam…. dam… dam… dam… N teguh nugroho
