P E R S I N G G A H A N

Bermeditasi Dalam Bunyi

Panggung di batasi dengan lilin menyala dalam  gelas yang ditata berbaris dari ujung ke ujungnya, juga ada aroma dupa semerbak yang di bakar. Lalu suara gemericik air terdengar mengalir menerus seperti suara pancuran yang ditumpahkan tiada henti. Di backdrop yang juga digunakan sebagai layar untuk proyektor, juga penuh air, kebiru-biruan dengan gelombang-gelombang kecil yang mengayun. Disergap bersamaan oleh bebunyian dan tampilan visual tentang air yang melenakan, seperti ada energi yang pelan-pelan ikut merayap dalam ruang imajinasi penonton. Energi air yang pelan dan melenakan, menyejukan sekaligus membersihkan jiwa.

Water, begitu Diddi Agephe memberi judul repertoirnya yang terinspirasi oleh bebunyian yang dihasilkan dari gerak air. Tetesan, alunan, kecipak, hempasan atau gemericik oleh Diddi dimasak menjadi sebuah komposisi yang menarik sekaligus unik. Gumam panjang dengan nada rendah, permainan ritme –dari pelan menjadi cepat-, suara gender hingga bass seperti menjadi harmoni yang utuh. Harmoni air.

Water, kemudian juga Air, Manipura, New Earth adalah konsep yang dikenal sejak purba oleh nenek moyang manusia. Air, udara, api dan bumi dipercaya sebagai unsur muasal “penciptaan”. Tema itulah yang kemudian ingin disampaikan Diddi dalama Awakening, 999 Meditation yang tampil Rabu (09/9) di Salihara.

Diddi bisa dibilang satu diantara sedikit musisi yang intens menggarapa “bunyi-bunyian” untuk tujuan tertentu. Tujuan tertentu itu bagi Diddi adalah musik meditasi. Diddi merancang musiknya khusus untuk kebutuhan meditasi yang disesuaikan dengan dengan brainwave dan inner voice. Mendengar musik meditasi dalam berbagai gelombang suara secara harmonis dapat membantu menyelaraskan pendengar dengan gelombang elektromagnetik yang berasal dari alam. Gelombang suara air, udara, api dan bumi.

Dalam reportoir Air, yang terinspirasi oleh udara. Diddi menyebut udara adalah elemen utama dari cakra jantung, yang dalam tradisi spiritual timur identik dengan pengabdian dan transformasi diri. Mendengarnya, akan menstimulir ketenangan, mengurangi kecemasan, hingga membebaskan rasa marah, iri dan nafsu. “Tangan kiri memegang jantung, tangan kanan telunjuk menekan ujung kelopak mata dan jempol menutup hidung,” perintah Diddi berinteraksi dengan audiennya ditengah suara rebab berpilin-pilin. “Tarik nafas lembut, buang perlahan,” lanjut Diddi memberi instruksi. Suara rebab masih berpilin, juga saluang –suling padang- dan gumam panjang yang dilantunkan Nanang Hape. Di latar belakang, video subliminal yang dapat mempengaruhi alam bawah sadar melengkapi. Panggung dan penontonnya menjadi lebih mirip sebuah kelas meditasi dibanding sebuah pertunjukan.

Adonan Yang Pas

Nilai lebih pantas diberikan pada Diddi dan kawan-kawan malam itu. Tak hanya karena musik meditasinya yang “baru” itu, tapi pada keberhasilannya memadukan berbagai alat musik modern maupun klasik, hingga penggaliannya pada kemungkinan-kemungkinan untuk menghasilkan harmoni baru dari perpaduan itu. Ada saluang, bansi, sarunai yang dimainkan Epi Martison, Nanang Hape dengan rebab, sitar, gender dan kendang, Amir Agephe dengan perkusinya dan Bintang Indrianto dengan bass.

Bintang Indrianto dengan bass-nya sering mengejutkan dengan manipulasi bass menjadi gong untuk menutup permainan kendang Nanang Hape yang kenthal dengan tradisi pedalangannya. Tak hanya berhasil dalam manipulasinya itu, Bintang juga memukau dengan kecepatannya dalam mencabik bass. Sementara Nanang, selain gender, kendang dan rebabnya dia berhasil menyelundupkan kidung-kidungnya tanpa menjadi terasing dengan keseluruhan musik-musik meditasi gado-gado ala Diddi.

Beranjak pada nomor-nomor lain, seperti Mahaavatar, Lost In Atlantis, Groove Meditation, Cosmic Rhythm atau Smilling Semar, Diddi dan kawan-kawannya itu seperti pol-polan bermusik. Groove Meditation tampil renyah dan gampang dikunyah bahkan cenderung ngepop. Sementara Lost In Atlantis, dengan elemen air yang dominan, serta lengkingan vokal Yuyun yang prima, seolah menyeret penonton beranjak untuk membayangkan kemegahan Atlantis yang musnah terbenam itu.

Sementara dalam reportoir berjudul Smilling Semar, Diddi terinspirasi sosok spiritual Semar yang samar. Tidak perempuan tidak laki-laki, tidak tua tidak muda, dia adalah simbol dualisme yang menyatu dalam satu sosok. Sayang, Semar yang dibayangkan oleh Diddi juga sangat samar, kalau tidak bisa dibilang tak terasa sama dalam nomor ini. Simbol kebajikan hakiki –Semar itu- hanya terasa dari kidung yang dilantunkan oleh Nanang Hape. Selebihnya hanya bunyi, bunyi yang bisa berati apa saja.

Written by persinggahan

September 13, 2009 pada 11:1 am

Ditulis dalam tragedi