Realisme Jalan Lingkar
Minggu, 06 September 2009
Pahlevi seperti mewarisi “realisme” yang pernah diserukan S Sudjojono di akhir tahun 30-an,
Realitas keseharian di seputaran jalan lingkar di Jogyakarta, coba ditangkap Syahrizal Pahlevi, dalam sebuah pameran seni grafis di Bentara Budaya, Jakarta. Segala denyut kehidupan di sana, menjadi begitu nyata di tangan sang seniman.
Kain merah sepanjang delapan meter lebih itu dibentangkan mirip spanduk. Berserak-serak gambarnya, sesak mencitrakan aroma jalanan yang kental. Truk gandeng yang melintas, mobil, atau sekadar pejalan kaki yang kebetulan lewat. Dengan warna hitam berpadu dengan merah sebagai background-, figur-figur yang ditampilkan menjadi begitu tegas, nyata, sehari-hari sekali sekaligus apa-adanya.
Tak hanya, Yang Melintas di Ring Road, -judul karya grafis itu- yang bercerita tentang jalanan dan segala dinamikanya. Nyaris semua karya grafis lainnya bertutur tentang jalanan dan peristiwanya. Tak hanya objeknya yang keseharian, bahasa estetik yang dipilih pun juga sangat akrab. Realisme. Lihat saja dalam, RR 1 sebuah truk dan sebuah kijang beriringan melintas. Di belakangnya sebuah papan penunjuk arah berdiri tegas, seperti mengusik arah perjalanan Anda, “hendak kemana?” Dan plang besar-besar itu menyediakan pilihan arah Purworejo, Godean atau justru balik kanan ke Jogjakarta.
Yang Melintas Di Ring Road adalah tema yang digunakan sebagai tajuk pameran Syahrizal Pahlevi, 3-13 September 2009 di Bentara Budaya Jakarta. Ring road, di Jogja adalah istilah generik yang digunakan untuk menyebut sebuah ruas jalan yang lebar, mulus –nyaris bebas hambatan- dan mengepung Jogja dari semua sisinya. Ring road bagi Jogja mirip filter bagi tata sistem trasportasi darat, bagi yang tak bertujuan ke Jogja, ring road akan mengalirkan pelintas itu mlipir-mlipir di pinggiran kota untuk kemudian melanjutkan perjalannya. Tak perlu blusak-blusuk di dalam kota yang ribet dan mulai macet itu.
Menarik menikmati tema Yang Melintas Di Ring Road, seperti yang ditawarkan Pahlevi. Pergaulan kesehariannya yang intens dengan jalanan menawarkan suasana estetik yang akrab sekaligus menyediakan perspektif dalam menghadirkan kenyataan itu. Orang-orang, suasana pekarangan rumah, sampai hiruk-pikuk persimpangan yang sibuk. Seperti karya berjudul RR 7 itu, seorang pengasong koran dengan tumpukan korannya, karena teknik cetak dan pilihan warna yang hitam putih karakter wajahnya menjadi sangat kuat. Sementara di latar belakangnya, seperti menggeram terseok-seok truk dengan muatan besar melintas.
Walau gaduh dan sesak oleh garis dan bentuk, menurut Aminudin TH Siregar sang kurator dalam pembukaan pameran, menyebut Pahlevi seperti mewarisi “realisme” yang pernah diserukan S Sudjojono di akhir tahun 30-an, yakni realisme yang ditangkap mata “apa-adanya”. Karyanya dipenuhi ikon-ikon populer yang dekat dengan pengalaman keseharian Pahlevi. Tak heran truk, mobil, motor, tiang listrik, hingga papan penunjuk arah sampai aspal jalanan hadir tanpa –yang menurut istilah Aminudin- dieliminasi untuk sekadar memenuhi kaidah artistik seniman semata.
“Ini adalah realisme-realisme yang bisa dimaknai lebih luas dari sekadar realisme yang hanya peduli pada kategori estetik,” ujar Aminudin. Menurutnya realisme Pahlevi adalah realisme dalam konteks yang biasa, realisme yang digunakan dalam bahasa-sehari-hari.
“Saya mengalami semua tempat itu,” cerita Pahlevi ditemui usai pembukaan pameran. “Dan saya selalu mengangkat hal-hal yang saya ketahui dan saya alami,” tambahnya. Menurutnya, nyaris semua aktivitas luar-rumahnya dari sekadar jalan kaki, bersepeda, pergi kepasar dan lain-lainnya tidak bisa tidak mesti memanfaatkan ring road itu –Pahlevi tinggal 100 meter dari ring-road barat-. “Karena sering lewat otomatis masuk dalam pikiran,” ujar Pahlevi bercerita tentang proses kreatif Yang Melintas Di Ring Road.
Tak hanya menyimpan dalam pikiran, peristiwa keseharian itu juga disimpannya dalam bentuk foto. Stok foto itulah yang kemudian, diolah dan dicetak komputer setelah sebelumnya dibalik mirip pencetakan pada stempel. Hasil cetak itulah yang kemudian di scan di lembaran kayu, atau kalau sedang gampang, dia langsung mencukilnya dengan alat cukil. Papan-papan itu “dikurangi” untuk mendapatkan bidang warna. “Proses paling lama adalah pencukilan itu, bila intens bisa sampai seminggu,” ujar Pahlevi sambil menunjuk sebuah karya berukuran satu kali dua meter.
Masalah warna
Beres dengan plat –cukilan kayu itu-, proses berikutnya adalah pewarnaan dengan memberi warna pada plat, dan mencetaknya pada media yang diinginkannya, kertas, kain, atau kanvas misalnya. Belakangan merasa suntuk dengan grafis yang penuh warna, dalam Yang Melintas Di Ring Road, Pahlevi seperti mencoba menahan godaan daya pikat warna itu, karya-karyanya di dominasi dengan hitam putih. Dia sedang ingin bicara lugas.
Pewarnaan yang lazim dan bisa dikerjakan dengan mudah dalam karya seni rupa lainnya, dalam seni grafis –khusunya cukilan kayu- selalu menjadi masalah yang tidak sederhana. Sebuah warna adalah sekali proses cetak, maka lima warna tentu saja lima kali proses cetak dan menumpuk warna dalam sebuah plat cetak –teknik cukil habis-. Maka jangan heran akibat kesulitan “teknis” ini beberapa kalangan seniman memandang warna dalam seni grafis sebagai penghambat ekspresi.
“Dalam melukis, warna bisa begitu bebas, sementara dalam seni grafis dibutuhkan kedisiplinan yang bila tidak ditaati, akan gagal,” tambah Pahlevi. Keterbatasan itulah yang kemudian justru menantang Pahlevi. Karya-karya yang ditampilkan tampak berhasil mengatasi “kekakuan” cetak kayu, kesan dinamis dan lentur. Di tangan Pahlevi pisau cukil itu mirip sebuah kuas yang bisa “menari” dengan luwes di atas kanvas.teguh nugroho/adiyanto
