P E R S I N G G A H A N

Menyiasati Teater Agar Tidak Sesat

Minggu, 06 September 2009

WAP20090902-12Di TIM misalnya, seringkali pentas teater hanya ditonton oleh puluhan orang.
Bila teater ibarat ikan, masyarakat adalah airnya. Tentu saja tak mungkin ada ikan hidup tanpa air. Di era 70-an teater pernah menjadi pilihan utama masyarakat urban Jakarta untuk mengapresiasikan dirinya. Waktu itu, di dalam gedung-gedung pertunjukan teater itu penonton mendapatkan kebaruan, misalnya dari pertunjukan-pertunjukan yang dibawakan Rendra, Teguh Karya hingga Arifin C Noer yang inspiratif.
Itu dulu sebelum masyarakat dijejali dengan banyaknya pilihan lain. Bagaimana sekarang? Pertunjukan-pertunjukan teater selalu sepi penonton. Di TIM misalnya, seringkali pentas teater hanya ditonton oleh puluhan orang . Di kantong-kantong kesenian lain, keadaannya juga tak lebih baik. Hanya grup tertentu saja seperti Teater Koma yang mampu mendatangkan penonton. Bagaimana dengan grup lainnya? Terseok-seok. Teater nyaris bangkrut dan ditinggalkan penikmatnya.
Menurut Gandung Bondowoso, yang menjadi pembicara dalam diskusi Teater dan Dunia Urban, Rabu (2/9) di Galeri Nasional, Jakarta, seiring dengan globalisasi dan informasi yang makin melimpah, masyarakat justru menemukan substitusi untuk menggantikan teater. Sebut saja, internet, kafe, mall, acara di TV seperti sinetron- sinetron, sampai kebiasaan-kebiasaan masyarakat urban seperti clubbing atau hang out.
“Sementara teater dari tahun ketahun cara penyampaiannya ya gitu-gitu saja,” ujar Gandung. Apakah masyarakat masih membutuhkan teater? Atau justru pekerja teater yang tidak lagi peduli pada cita rasa masyarakat yang justru sudah berubah? Gandung bertanya retoris.Menurutnya, agar teater bisa kembali menangkap semangat jamannya, anak muda-lah yang seharusnya tampil. “Kalau orang-orang seperti saya masih tampil, jeblok teater kita” ujar Gandung. “Karena apa yang bagus bagi kita adalah estetika dari masa lalu,” ujarnya menambahkan.
Berbeda dengan Gandung, Iwan Pirous mencoba mendekatinya dari pendekatan antropologi. Menurutnya sterotype urban dan rural tak lagi layak digunakan, kota atau masyarakat urban, bukan lagi bisa dibayangkan sebagai sebuah wilayah geogafis sehingga urbanisme tak lagi bisa dipotret dalam imajinasi lokasi yang pasti, Jakarta misalnya. Karena di sisi yang lain, di pedesaan –yang paling pelosok sekalipun misalnya- akan dengan mudah ditemui gaya hidup yang sangat kota yang distimulus oleh kemajuan teknologi.
Jakarta dengan simbol-simbol seperti bangunan infrastruktur dan teknologinya tetap saja isinya orang-orang yang masih sangat lekat dengan tradisi pedesaaan. Kota dengan elemen pedesaan yang kuat, dan desa mempunyai gaya hidup perkotaan. “Mungkin ini adalah kontinuitas dan dialog terus menerus antara desa dan kota,” simpul Iwan.
Dengan kaburnya definisi tentang urban, kata dia, maka perlu mencari bahasa estetika teater urban. Menurutnya bahasa-bahasa yang digunakan tak lagi bahasa yang spesifik bahasa urban. Tapi lebih kepada bahasa yang menggambarkan problem-problem orang kota, orang yang tidak punya waktu, orang yang dikejar deadline, orang yang tidak punya waktu untuk berefleksi. Refleksi, menurut Iwan, adalah barang yang mahal, bukan bahasa yang bisa dicerna dengan gampang, apalagi bahasa internet dan bahasa sms yang hanya 160 karakter itu. “Bisa nggak menyesuaikan bentuk teatrikal dengan 160 karakter,” tanya Iwan. Menurutnya, teater harus emansipatoris terhadap penonton dan pemain. Jadi penonton dan pemain mendapat manfaat atau setidak-tidaknya menemukan dirinya dalam pertunjukan itu. “Kalau dia tidak menemukan dirinya di situ saya rasa teater masih dalam keadaan tersesat,” jelas Iwan.ADIYANTO/TEGUH NUGROHO

Written by persinggahan

September 6, 2009 pada 11:1 am

Ditulis dalam tragedi

Ditandai dengan