P E R S I N G G A H A N

Tafsir Sejarah Sang Casa Nova

MiMengamini sejarah tanpa banyak tanya.nggu, 05 Juli 2009

Seniman mestinya lebih bebas dibanding guru sejarah atau dosen yang terikat  tafsir resmi dan kurikulum yang baku.

Teater Casa Nova coba menjadi lokomotif yang kembali menggerakkan roda sejarah. Sayang, mereka terpaku pada pakem yang kelewat lurus. Tanpa intepretasi, sehingga menjadi tontonan yang menjemukan.

“Kita adalah aktor!! Kita adalah aktor!!” suara teriakan “sang waktu” memecah kebisuan tujuh orang yang berbaris membeku di panggung. Kepala mereka berbungkus kerudung kain warna putih. “Aku sebagai waktu dan kau sebagai serdadu” teriaknya lagi sambil menunjuk seorang pemain. “Baiklah, aku adalah tentara. Aku adalah tentara. Dan aku lahir untuk melewati seribu peperangan” sumpah pemain yang ditunjuk untuk memerankan si tentara itu. Di belakang, lima orang mengendap-endap dengan sebilah tombak di tangan.

“Di Aceh aku disabet rencong,” tombak-tombak itu dilemparkan, “Achhhh…” tentara itu mengerang. “Di Papua panah beracun itu mengenaiku,” begitulah sang tentara memamerkan seribu perang dan kepahlawanannya, juga dalam Seroja (operasi di Timor Timur) yang dianggapnya cemerlang, tentang pelariannya ke bukit, tentang kepungan gerilyawan dan tentang ular Sanca sebelas meter yang membelitnya. “Aku tikam dia dengan belati,” teriaknya bangga. Ah dasar tentara, selalu bangga dengan bahasa-bahasa kekerasannya, dan pertunjukan teater ini sepertinya memang persembahan untuk memuja kepahlawanan itu.“Mari kita mulai, mari kita main.” teriak salah seorang pemain.

Dan Balada Ritus Fragmen Waktu garapan Teater Casa Nova dimulai Rabu (1/7) di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Orang-orang berputar-putar membentuk lingkaran dengan suara kendang atau tifa yang bertalu-talu. Seperti judulnya, Balada Ritus Fragmen Waktu, lakon ini sepenuhnya berbicara tentang waktu. Sayang waktu yang yang dibayangkan sang sutradara adalah waktu linear, tanpa interpretasi dan mengamini begitu saja tafsir sejarah yang baku.

“Empat kapal yang dipimpin Cournelis de Houtman mendarat di pelabuhan Banten, 1596” cerita Nugraha Bazier Susanto yang memerankan sang waktu. Di panggung empat orang pemain merangkak memvisualisasikan kapal-kapal de Houtman dan mereka benar-benar menggendong bule cantik.

Lalu panggung menjadi mirip pelajaran sejarah sekolah dasar yang penuh dengan peristiwa bahkan lengkap dengan tahun terjadinya. “1602 VOC didirikan di Amsterdam, 1798 VOC rugi 134,7 juta gulden karena salah urus, 1830 Belanda mengambil alih pengelolaan Hindia Belanda, bla… bla….” Begitulah “pelajaran sejarah” itu dituturkan bersahutan oleh pemain Casa Nova. Tak hanya itu, jaman kemodalan yang merangsek ke pedesaan-pedesaan Jawa melalui tanam paksa juga tampil. Kali ini divisualkan dalam sebuah kereta api mainan lengkap dengan backsoundnya dan asap pekat yang mengepul –pemain-pemain itu serempak menyalakan rokok dan menghembuskannya di panggung.

Tak ketinggalan ada juga fragmen saat si etis Max Havellar yang gelisah menggugat kebijakan tanam paksa. “Havelaar… Havelaar… tolong aku!” seorang pemain merangkak di kaki Max Havelaar. Tentu penonton langsung maklum, adegan itu adalah simbolisasi rakyat yang dilibas oleh tanam paksa. Sebagai teater, adegan ini lumayan menarik. Tapi, entah apa yang dimaui sang sutradara, Irwan Jamal justru memilih mengangkat paradok ini. Dia justru bulat-bulat mengamini pandangan para elite Belanda waktu itu yang meyakini pembebasan rakyat Jawa dari tanam paksa adalah pemberian Belanda.

Irwan sepertinya enggan menggali ide itu lebih jauh lagi, misalnya mengelaborasi sudut pandang korban tanam paksa.  Padahal, tema ini menyediakan bahan yang sangat melimpah. Misalnya tentang penolakan Diponegoro yang menyebabkan perang Jawa itu atau perang Aceh yang merepotkan Belanda. Alih-alih menggali sumber lokal untuk menentang tanam paksa, Irwan justru malah bersandar pada Max Havelaar yang bahkan hanya “berbisik” lemah lembut ke telinga Ratu Belanda dengan kalimat yang santun. “… dengan ini saya minta perbaikan.”

Cari Aman
Waktu kronologis Irwan terus berlanjut, peristiwa sumpah pemuda, proklamasi kemerdekaan sampai aksi polisionil yang ditampilkan bertele-tele. Termasuk dinamika perundingan dalam Konferensi Meja Bundar, pembacaan Pancasila, bahkan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Lalu, panggung meloncat ke paruh 60-an saat ontran-ontran politik itu. Di titik ini, Irwan lebih kaku menggarap temanya. Alhasil, panggung menjadi mirip film Pengkhianatan G30/S/PKI karya Arifin C Noer lengkap dengan pengutukan pada PKI dan adegan pembunuhan berdarah para jendral itu. Pemain berdiri membentuk huruf V dengan masing-masingnya mendekap gambar “pahlawan-pahlawan” revolusi itu di dada. Di belakang, seorang pemain sedang menyiapkan pembunuhannya. Satu persatu “pahlawan” itu dihabisi dengan sebilah belati. Sementara beberapa pemain lainnya melintasi panggung dengan sabit untuk membahasakan tampilan visual yang vulgar. Ya, hantu itu dikutuk lagi.

Entah sengaja atau tidak, Irwan meloncati sebuah masa gelap. Pemerintahan orde baru dengan Soeharto-nya tak disinggung sedikitpun dan waktu langsung mendesak pada kekinian. Pemilu Presiden 2009. Tiga calon presiden lengkap dengan wakilnya dan dung…. dung… musik bergemuruh dan panggung menjadi tempat mengadu domba yang semarak. Setelah hampir satu jam setengah dijejali pelajaran sejarah yang membosankan, Irwan terbilang berhasil menutup pertunjukannya. “Saya mencoba mereinterprestasi peristiwa-peristiwa yang dikenal dengan analisa simbolik, tanpa mengklaim siapa yang benar dalam peristiwa itu,” ujar Irwan yang ditemui usai pertunjukan.

Menurutnya, sejarah memiliki tafsir yang beragam dan Casa Nova memilih tafsir yang netral. “Saya menjaga benar dan saya ingin bertanggung jawab terhadap klaim-klaim dan saya nggak berani bermain-main dihadapan publik tentang tafsir sejarah,” tambahnya. Bagaimanapun disayangkan memang, karena Irwan dan Casa Nova toh adalah kelompok teater, seniman yang mestinya relatif bebas.Mereka bukan guru sejarah atau dosen yang terikat dengan tafsir resmi dan kurikulum yang baku. teguh nuhroho/foto Wachyu AP

Written by persinggahan

Juli 5, 2009 pada 7:1 am

Ditulis dalam tragedi