Sujiwo Tejo
Minggu, 05 Juli 2009
Dalang edan ini bercerita tentang kenapa mendukung Jusuf Kalla, bersumpah demi nama Tuhan dan almarhum ibunya, dan menteri harus sering diganti, agar lukisannya laku.
Tak sampai 30 detik. Tapi penampilan yang mengejutkan ketika Sujiwo Tejo muncul di iklan televisi kampanye Jusuf Kalla-Wiranto. “Saya Sujiwo Tejo., golput seumur hidup. Tapi sekarang sudah punya pilihan,” sebutnya. Dengan tatapan mata tajam khasnya dan suara yang bergetar, Tejo melanjutkan, “Demi Allah dan demi almarhum ibu saya, Sulastri, saya tidak dibayar untuk dukungan ini. Ini semua demi martabat, harga diri dan kemandirian bangsa.”
Pernyataan tidak dibayar itu seakan-akan ditonjolkan menjadi penting ketika iklim politik sekarang ini siapa saja bisa dibayar untuk menyatakan dukungan. Seorang presenter acara televisi terkenal sampai mengirim pesan pendek pada Tejo. “Saya dan istri terpingkal-pingkal, sekaligus merinding melihat iklan Anda. Tapi saya jadi ikut pilihan Anda,” kata Tejo menirukan bunyi sandek itu dalam wawancara dengan Alfred Ginting, Teguh Nugroho dan Kristian Ginting di rumahnya di Ciledug, Tangerang, Sabtu, kemarin.
Tentu saja, predikat dalang edan padanya membuat banyak orang sulit percaya, Tejo sedang serius atau tidak. Tapi dalam wawancara ini Tejo sangat serius tentang pilihannya. Berikut petikan wawancaranya:
Kenapa Anda mau tampil di iklan JK?
Aku udah lama ya dikasih tahu tidak memihak itu bagus. Tapi ada keculasan dalam ketidakberpihakan itu sebetulnya. Artinya kalau ternyata yang dipilih itu gagal, dia bisa bersembunyi di balik “aku tidak ikut memilih kok.” Aku sudah tahu itu semenjak golput pertama pada pemilu1980-an. Bukan berarti aku tidak pernah menyoblos. Pernah sekali menyoblos karena dibangunkan Pak RT. Sebab aku dekat dengan Pak RT, aku tidak mau mengecewakan dia. Tapi aku akhirnya coblos tiga-tiganya (PDI, PPP, Golkar). Sejak itu aku tidak pernah lagi ke TPS. Sampai sekarang ini aku tidak pernah tahu lagi rasanya masuk ke TPS. Jadi 8 Juli ini nantinya aku tahu rasanya bagaimana rasanya masuk keTPS. Karena pikiran soal culas itu terus muncul. Aku mau ikut bertanggungjawab tidak, bila ada yang gagal. Kedua sangat mendesak pilihan sekarang ini. Kalau aku tidak ikut milih sekarang ini ada satu pasangan yang terlalu percaya diri menang dalam satu putaran. Begitu saja, dan aku tidak rela.
Kenapa pilihan ke JK?
Yang penting bukan yang ini. Karena kalau yang ini kepilih akan ada arogansi kekuasaan. Sebab di eksekutif sudah unggul dan di parlemen sudah unggul. Dan bila tiba-tiba mau kembali ke UUD 1945 (pemilihan presiden oleh MPR), bisa dong. Karena sudah unggul di eksekutif dan parlemen. Dan sangat bisa, tidak ada batas masa presiden.
Ada banyak pertimbangan. Kalau hanya menuruti aku dan keluarga, aku sangat menikmati golput. Enak hidupku. Aku dekat dengan Wiranto, Mbak Mega, aku dekat dengan kelompok SBY. Artinya secara job kesenian aku bisa datang darimana pun. Tapi, kalau aku perhatikan hidup orang tidak harus kaya, asal terpenuhi. Menjelang sekarat pertanyaan utamanya adalah: aku sudah berguna untuk sesama tidak. Kalau itu belum susah matinya. Menderita sekali.
Karena aku bukan orang partai maka salah satu yang bisa aku lakukan sebagai seniman adalah memberi dukungan. Yang selama 30 tahun lebih ini golput, berada di menara gading dan bisa mendapat tangkapan job kesenian dari mana-mana. Dan salah satu syarat yang saya ajukan, saya mau kalimat “Demi Allah, dan demi almarhum ibu saya” harus dimuat. Kalau tidak, saya tidak mau.
Kenapa?
Karena semua orang sekarang bisa dibayar, mau lembaga survei apapun. Aku ingin mereka kebakaran jenggot, bahwa di zaman seperti ini ada orang yang kerja bukan karena duit. Karena bayanganku orang yang kerja di politik harusnya punya kerjaan tetap. Politik betul-betul untuk karir memikirkan nasib orang banyak. Sekarang kok dijadikan tempat cari uang.
Tapi selama ini Anda juga tidak berlaku jahat pada orang lain?
Apa sih kesenian itu. Menghibur orang lewat dalang, musik lewat album. Mungkin sudah berguna. Tapi, orang kan tidak hanya butuh itu dalam keadaan tertentu. Perlu makan yang cukup. Sekolah yang murah tidak hanya dalam iklan gratis, pekerjaan yang betul-betul tersedia. Pada tingkat kesenian mungkin aku sudah merasa berjasa untuk banyak orang, itu pun mungkin. Karena kebetulan yang aku tempuh bukan kesenian yang industri sekali, bukan komersial. Umurku sekarang 47 tahun, rasanya 230 juta orang Indonesia itu sebagian besar perlu makan, pekerjaan, kepastian kesehatan dan itu berarti pilihan politik.
Dasar kesenian saya selain wayang adalah ludruk, teater khas Jawa Timur. Yang mengajarkan kita ngomong A katakanlah A, ngomong B katakanlah B, ceplas-ceplos, apa adanya. Tidak usah dibuat-buat. Ludruk mengajari saya justru orang-orang yang berakhlak adalah orang yang ceplas-ceplos, entah itu Sakera, Ken Arok, Sawunggaling, semua itu pembaharu. Sakera ceplas-ceplos orangnya, tapi baik hatinya. Tapi kalau masyarakatnya juga munafik, pasti melihat orang seperti itu kok kurang ajar sih.
Semakin lama kita munafik, kita menganggap orang yang baik itu yang tertib cara bicaranya. Orang seperti Naga Bonar sudah tidak punya tempat lagi. Padahal kita butuh orang yang seperti itu. Alasan itulah aku memilih JK. Selain itu aku sudah tidak bisa golput terus karena ada kebutuhan dasar, dan yang lain soal ceplas-ceplos tadi, dan terakhir aku tidak mau hanya satu putaran.
Kenal JK secara pribadi? Citra dia lugas kan yang terlihat di media massa?
Ada lah. Orang yang lahirnya, Jumat legi kayak Wiranto dan JK, itu panjang garisnya selalu menjadi korban fitnah. Ada banyak SMS ke telepon saya mengatakan bila JK nanti jadi presiden akan dijual semua aset-aset negara. Dan dikuasai oleh keluarganya. Tapi menurut saya tidak. Malah saya takut terhadap orang-orang yang mempersiapkan putra mahkotanya. JK tidak punya putra mahkota.
Kalau JK Jumat legi, SBY dan Mega?
SBY Rebo Kliwon, orangnya baik tapi tidak pernah bisa balas budi. Kalau Mega itu Kamis Kliwon, dia itu…. aku tidak bisa ngomong deh.
Anda akan mendukung dia kalau sampai ke putaran dua?
Kalau sampai putaran kedua Sujiwo Tejo akan turun kampanye.
Tetap gratis? Atau mulai berhitung?
(tertawa) Tetap gratis nggak ndo? (bertanya pada temannya). Begini, kalau masyarakat makin pinter karena pendidikan makin bagus, aku nggak perlu dapat duit dari JK. Aku bisa bikin film yang bagus dan daya beli makin bagus tentu ada yang nonton. Sekarang kalau mau bikin film dan ditonton ya bikin film hantu atau seks seperti Virgin itu. Jadi kalaupun ada timbal baliknya nanti di masa depan.
Masa pemilu ini kan seperti musim duren, setelah semua selesai dan Anda harus berkesenian lagi tanpa embel-embel politik, tidak khawatir aroma durian itu masih pekat, ada stigma Tejo dulu pendukung JK?
Kalau cuma nuruti aku thok sama keluarga aku lebih enak golput. Udah cukup kok hidupku. Aku diajari bapakku hidup itu jangan berlebih dan jangan sampai punya tabungan. Hidup untuk keluarga yang penting sekolah, standar dan yang lain harus untuk orang lain. Karena janji tuhan melalui semar, kalau kamu hidup begitu, kamu tidak akan pernah kaya, tapi kalau setiap kali kamu perlu kebutuhanmu itu pasti ada.
Itu yang aku terapin. Lihat baju-baju istriku nggak ada perhiasan, tapi kalau sekolah anak-anak itu aku biayain di UI di IPB. Sudah cukup bagi aku. Untuk ukuran artis aku nggak kaya. Tapi kalau mau enak ya jadi golput. Aku itu nggak tahu bagaimana nasibku kedepan itu bagaimana? Tapi menurutku aku hanya percaya, kalau aku mikirin orang, aku hanya mikirin pedagang-pedagang itu gimana hidupnya, petani, kalau sampean nanya begitu apa nggak susah setelah musim durian ini lewat? Ya susah mas. Semua orang sudah tahu, apalagi kalau kalah ini nanti. Bener!! Berarti sampean nggak percaya janjinya sana (tuhan) lewat semar, kalau kita mikirin orang, bukan cuma mikirin keluarga kamu nggak akan pernah kaya, tapi setiap kali butuh itu ada.
Berat memang apalagi kalau JK kalah. Karena ini kuat banget, yang satu ini. Duitnya kuat banget, belakanganya kuat banget, aku nggak tahu Amerika atau apa dibelakang dia. Tapi sebagai orang jawa timur yang dasar keseniannya ludruk dan wayang, aku tahu betul, setiap orang yang punya niat baik untuk sesama justru orang yang ceplas-ceplos. Di wayang itu orang yang baik itu Wisanggeni, dia nggak ada tatakramanya, nggak ada!! Bima nggak ada tata kramanya, nggak pakai kromo inggil. Ke siapapun dia ngoko. Tapi kenapa itu dimasyarakat kita hilang? Artinya secara ide, kalau wayang ini dianggap ide dan sudah berlaku beratus-ratus tahun, sudah ada ide itu. Diwayang India nggak ada itu Wisanggeni.
Bahwa orang yang kemungkinan membawa perubahan besar adalah orang yang nggak punya tata-krama. Kok tiba-tiba, nggak tahu siapa yang bikin di masyarakat kita kok orang yang baik adalah orang yang memiliki tata krama. Itu lho. Apalagi tata kramanya fabrikatif, dibikin-bikin. Aku bisa lihat itu nggak tulus. Apakah ini karma dari tuhan untuk seluruh masyarakat nusantara karena aslinya kita itu punya pandangan hidup. Bener kamu, itu ada Ontoseno ke siapa saja termasuk dewa dia akan bilang kamu, nggak ada panjenengan atau yang mulia, nggak ada dia seperti itu, tapi hatinya baik.
Sebelumnya kenapa dengan Prabowo?
Prabowo terlalu banyak lingkarannya yang double agent. Bukannya di JK nggak ada yang double agent. Sampai sekarang, kalau kalian tahu, kartu mandat untuk pengangkatan saksi di daerah-daerah masih terhambat nggak tahu dimana. Jadi sampai sekarang Mega-Pro belum punya saksi di TPS-TPS. Gila kan sistematis banget SBY. Kalian harus ngasih tahu ke keluarga, bukannya aku mau gimana-gimana tapi ini gawat, belum ada saksi. Padahal kurang berapa hari lagi. Jadi kemungkinan kalah JK itu ada, dan aku ini bagaimana? Ya nggak tahu.. (terbahak) tapi tuhan begitu janjinya. Masak tuhan bohong siy. Nggak mungkin.
Kalau bohong, nanti bikin buku dong, tuhan bohong?
Ho oh, iya ternyata tuhan bohong. Demi tuhan, tuhan bohong.
Kalau dikatakan sistemastis, ini kan sudah lima tahun dan rakyat masih memilih dia?
Di ilmu ortodok itu ada yang namanya hukuman, misalnya mengapa orang Bengkulu yang tidak ngapa-ngapain, tidak berbuat jahat, tiba—tiba ada tanah longsor? Ini bisa karma dari nenek moyangnya. Atau mungkin orang Bengkulu pernah melihat apa disuatu tempat tapi orang bengkulu diam saja. Dalam term islam tidak amal makruf nahi mungkar, nah siapa tahu lagi dikutuk kita ini.
Termasuk di kutuk dengan segala tata krama itu?
Iya, sampai selesai 2014. Karena menurut ramalan orang jawa, Sabdopalon dan Nayagenggong datangnya 2014. Sabdopalon dan Nayagenggong itu adalah yang menandai masa kejayaan Majapahit. Kalau kita merujuk pada keilmuan kejayaan nusantara itu berperiode sekitar 700 tahun. Sriwijaya, Majapahit, dan sekarang itu sudah pas 700 tahun itu. Siapa tahu ini memang sengaja dibikin chaos sekalian, ditekan, habis itu dibangun.
Menurut Capra, tentang chaos itu, didalam chaos sudah ada tenaga dalam dirinya untuk menuju kestabilan. Tapi chaos harus sangat. Seperti di ramalannya Ronggowarsito, Kalatida dulu, ketika kegilaan masih di pribadi-pribadi, habis itu Kalabendu kegilaan merata sampai di pamong praja. Baru setelah Kalabendu lahirlah Kalasuba, jaman steady lagi. Jadi persis fisika modern, apapun keadaan chaos kalau masih nanggung akan tetap chaos sampai ada tenaga inner untuk menciptakan kestabilan lagi. Pasti nanti akan ada Wisanggeni, ada Antasena, ada Ken Arok dan Sawunggaling. Tapi harus sangat dulu. Siapa tahu ini belum sangat. Siapa tahu kalau orang itu terpilih, ini justru akan menuju keadaan yang sangat itu. Karena mungkin Amerika makin enak disini.
Kenapa jalan itu yang ditempuh, artinya kenapa tidak kita jadikan lagi saja dia?
Pertanggung jawabannku disana apa?
Dengan menjadikan dia menjadi presiden lagi bukankah bisa mengakselerasi keadaan yang tak lagi tertanggungkan itu, hingga rakyat kemudian terkondisikan untuk chaos, kalau justru chaosnya malah dihambat-hambat oleh anda dengan milih JK?
Bener juga. Kenapa kamu nggak ngomong ini sebelum aku milih JK.
Tapi apakah pernah ada dalam sejarah klasik maupun kontemporer kita, kita bisa sampai pada keadaan yang tak tertanggungkan lagi hingga hukum alam yang kemudian mengambil alih penyelesaiannya?
Mungkin bawah sadar itu ya yang menggerakan aku bikin iklan itu. Di bawah sadar bahwa masyarakat nusantara itu masyarakat yang sangat tahan dan sangat adaptif. Sehingga teori revolusi apapun tidak bisa berlaku di Indonesia. Tidak di kasih daging oleh Belanda, daging jadi mahal. Tiba-tiba cari tewel muda dijadikan gudeg. Lahirnya gudeg kan kayak begitu, karena pingin makan daging. Tidak dikasih ini tidak dikasih itu lahirlah nasi aking. Begitu lho. Kalau sampean sering ke luar negeri, nggak pernah kan melihat orang dandani listrik cuma pakai sendal jepit dan merokok seperti itu? selau pakai sabuk khusus itu. Hanya di Indonesia yang bisa seperti itu. Kereta api atasnya bisa buat tiduran, ya Cuma ada di Indonesia.
Nah nggak mungkin ketakutan-ketakutan itu mas. Nggak mungkin bisa terjadi chaos seperti itu. Karena kita punya daya tahan yang sangat?Artinya bahkan dalam spektrum sosiologis kita, tidak ada tempat untuk jungkir balik?
Nggak, karena kita sangat adaptif. Nggak mungkin. Sepatu masuk dari Eropa juga tidak ditolak, gruwong jadinya. Adaptif terus jadinya. Ketan masuk dari Cina juga tidak ditolak. Nasi uduk tidak ditolak jadi tumpeng dan gudeg. Biola masuk tidak ditolak menjadi keroncong. Trombon masuk tidak ditolak jadi tanjidor. Mungkin itulah kalau aku menjawabmu sekarang. Kenapa aku mau ambil itu, karena bawah sadarku endak yakin itu bisa terjadi. Harus kalau tidak kalau bendul kalau subo. Kayaknya nggak mungkin gitu lho. Karena melihat kecenderungan kita bisa hidup dalam kondisi apapun.
Aku sering lihat orang naik tiang listrik, pakai sendal jepit dan ngerokok dji sam soe. Mana ada itu di luar? Tapi ini belum tentu, udah deh tapi namanya usaha. Karena itu tadi. Mereka belum punya saksi lo mega prabowo.
Dekat dengan JK- Wiranto?
Enggak, sama Wiranto aku dekat. Wiranto banyak ngoleksi lukisan aku.
Seberapa dekat?
Dekat banget. Aku ngerti dia bertapa dimana.
Jangan-jangan guru spiritualnya panjenengan?
Hwahaha… Nggak tahu aku nggak mau jawab. Aku memang deket sama wiranto. Dari mana kamu tahu aku guru spiritualnya wiranto? Cuma kalau di iklan itu, ndak mungkin aku nyebut wiranto. Aku nyebutnya JK, meskipun aku ndak enak sama pak wiranto. Kan aku nyebutnya JK. Nggak ada nilainya mas, orang jawa nyebut jawa juga. Tapi kalau seorang jawa bukannya mau menggedein. Tapi menurut banyak orang itu menggetarkan. Itu dari orang-orang yang sms aku. Ada yang lain, tiba tiba menggetarkan dan spiritual. Tiba-tiba iklan politik jadi spiritual gitu. Menurut mereka. Cuma aku ndak mungkin nyebut aku pilih JK dan Wiranto. Karena secara pers nggak ada beritanya. Tapi kalau orang jawa millik bugis berarti orang jawa sudah enek sama jawa, dan aku memang sudah enek.
Menggetarkannya itu karena konteksnya politik, kampanye nyebut-nyebut gusti allah dan ibu?
Lho sampean nonton oludrug? Lha sakera arep nyembah ibune disit.
Ukuranne wong jowo nek nyebut ibu kan wis rampung kabeh kan?
Sakera itu yang jago main clurit. Kalau dia mau bisa bringas, tetapi disuruh diem sama ibunya diem ya diem. Sawungaling juga begitu. Yah udah tak apus smsnya. Kata ulama-ulama nggak boleh nyebut selain nama allah. Sumpah atau demi-demian itu harus dengan allah, atau lebih baik diam. Tapi terus, lha aku deket sama ibuku. Lebih deket sama ibuku daripada sama nabiku (sorry ini off the record). Aku memang tidak deket sama nabi. Aku memang ndak pernah lihat orangnya. Gimana coba? Tapi nabi kasih hadis, kalau kamu sholat kamu tidak boleh menerima teguran dari siapapun. Batal sholatmu. Tapi panggilan ibumu, kamu harus jawab. Gimana coba? Berartikan tempatnya sama tinggi dengan tuhan. Apa salahnya sih sumpah demi ibu?
Orang-orang terdekat ada yang protes ndak mas?
Ada siy yang protes: ngapain siy kamu sampai kayak begitu? Ada yang begitu juga. Tapi secara rata-rata menggetarkan. Mungkin karena lagu juga. Itu kan lagu jawa, lagu pada suatu ketika yang pertama kali bikin lagu dan 98 tuh menang di mTV asia. Lagu itu memang menggetarkan. Salah satu penyesalan dalam hidupku, asku sering bilang itu ke rendra. Kok aku ndak bisa lagi bikin lagu itu ya? Nggak bisa, orang aku maksain tetep nggak bisa.
Memang ceritanya lagu itu bisa keluar gimana?
Itu Mei. Aku lagi ke tempat jaduk di jogja. Itu aku lihat hampir sejuta orang di jogja dari malioboro sampai alun-alun. Waktu amien rais turun di jakarta. Pokoknya kalau tidak salah tiga hari menjelang soeharto mengundurkan diri. jadi ada hampir sejuta orang itu dan tertib. Orang toko tuh ngasih makanan. Aku melihat dan ya itu (menyenandungkan lagunya yang berjdul apda suatu ketika). Nggak bisa lagi bikin lagu itu, Dancuk, Asu.
Aku sedih kalau ingat itu.
Mungkin suasananya yang nggak dapet?
Mungkin juga.
Tapi kalau memang mengalami peristiwa itu waktu itu memang suasana bangunan dan atmosfirnya memang seperti itu semuanya?
Bayangkan. Pernah ke Jogja? Dari stasiun Tugu terus sampai Malioboro itu orang, sampai ke alun-alun utara itu orang. Dan nggak ada kerusuhan. Tenang. Aku berharap kenapa memakai lagu itu kayak de javu. Jadi orang yang pernah dengar lagu itu langsung teringat saat-sat dulu denger lagu itu. mungkin itu yang bikin menggetarkan. Tapi ndak tahulah umur 20 tahun aku ndak mungkin ngalahin tuhan. Tapi memang harus kalah. Dia kan suka guyon. Siapa tahu yang dicoba daya tahan kita, lalu karir aku habis dan hancur. Dia cekikian di atas.. hwahhaa…
Tapi sering bercanda dengan Gusti Allah?
Selama ini kan persoalan agama-agama samawi (ini off the record) itu kan meletakan gusti allah itu ada. Jadi kalau kita berdoa harusnya begini, tuhan ada di sini. Sehinga begitu kita berdoa dan menghadapi pertama kali itu adalah kita ngukur bisa apa enggak? Trus kita berusaha kesitu. Bisa tercapai ndak. Itu doa.
Sastrojendro?
Itulah sastro jendro. Jadi doa itu bukan alloh huma(menirukan berdoa). Itukan yang terucap yang ada dipikiran. Tapi tidak itu, teks yang tak terucapkan di sini (sepertinya mas tedjo menunjuk dada atau kepalanya) itu doa . itu yang paling manjur. Itu sastro jendro.
Ada perempuan Suksesi namanya di Alengka, itu kerajaan raksasa, mendadak alengka ingin jadi negara manusia. Dia ingin dan berdoa untuk emningkatkan martabat, namun yang lahir adalah rahwana. Raja dari segala monster. Karena apa? Karena di dalam hati dia benci sama rahwana. Dia jijik melihat rahwana. Habis itu dia mulai menyadari tanpa sadar, melahirkan anak kedua namanya kumbokarno sifatnya sudah kesatria tapi badannya masih raksasa. Lalu dia total insyaf, bertobat dan melahirkan anak ketiga, wibisana. Bagus satria dan manusia. Tapi kok sombong, pamer ibunya. Lalu lahir anak ke empatnya raksasa lagi. Itulah sastro jendro. Jadi doa itu bukan yang di sini tetapi yang di sini (entah menunjuk bagian tubuh yang mana?) sebetulnya.
Kalau kejawen, kamu berdoa pengen punya duit. Ya alloh aku pengen punya duit. Bukan begitu. Duit 20ribu masuk akal nggak sih? Kita yang akan mengukur sendiri. Kita harus mencapainya dengan di sini. Pasti-pasti dapet.
Kembali ke masalah wiranto. Masalah wiranto dengan hukum itu gimana?
Jangan melihat HAM secara fisik. Ini kan membunuh orang, jangan melihat HAM secara itu tok. Karena itu nggak fair menurutku. Sekarang mana yanng lebih kejam, membunuh orang secara fisik atau secara non fisik? Tapi membunuh diam-diam, makanan susah, pendidikan mahal. Sama halnya dengan suku indian di daerah tertentu. Kan kalau ada anggotanya yang salah tidak dibunuh.
Sama halnya kayak di suku Indian tertentu kan kalau ada anggotanya yang salah nggak dibunuh. Tapi pertama adalah seluruh anggotanya, aku ngga tahu suku Indian yang mana, tapi yang pertama nggak boleh disapa jadi anggotanya nggak boleh nyapa dia. Nah kalau dia melakukan kesalahan lagi namanya dicabut, nah matilah dia. Bayangkan kamu nggak punya nama Cuma dipanggil hoi gitu, kamu nggak ada namanya itu jauh lebih menyiksa.
Nah maksudku nggak adil kalau cuma Prabowo dan Wiranto yang digituin. Apakah pak SBY nggak? Berapa orang yang masih busung lapar, gitu lho. Kalau menurutku itu sama nilainya dengan kematian , jauh lebih pedih malah. Mati dibunuh udah, kalau kita mau bicara HAM lho. Cenderung kita ngomong di sini soal pembunuhan atau penyiksaan, gitu aja sih jawabanku kalau ditanya soal Wiranto atau lebih luas Prabowo. Pertanyaanku apa SBY nggak melakukan itu? Kalau nggak ngapain susah-susa kita TKI nyari kerja di luar negeri kalau disini memang ada. Apakah itu bukan tugas presiden? Gitulah
Nah ketika ada masalah seperti itu, baik kita katakana sama-sama pelanggaran HAM, tapi bagaimana penyelesaiannya, kita diamkan saja?
Nggak harus kita diamkan ,kita proses tapi kenapa kalau soal HAM yang diperkarakan hanya Wiranto dan Prabowo. Kenapa nggak memperkarakan SBY? Kenapa Poso nggak diselesaikan, berapa banyak korban.
Artinya ketiga-tiga itu?
Berpotensi karena kita nggak melihat cuma fisik. Banyak orang disiksa di Filipina, di Malaysia di Hongkong, cukup ada kerjaan di sini.
Ketika Anda memilih untuk mendukung pasangan ini, masih beranikah tetap meneriakkan HAM khususnya tentang Wiranto itu?
Aku orang Jawa tapi Jawa pesisir. Itu aja jawabannya. Orang sering bilang kalau Jawa itu Yogya atau Solo masih ada Jawa yang lain, itu Jawa Banyumas, aku Jawa pesisir. Bapakku aja pernah mau aku bunuh, kalau nggak ditarik sama ibuku udah mati itu. Itu waktu SMA karena aku nggak bisa dengerin musik rock. Aku harus dengerin gamelan dan aku lari ke dapur ngambil pisau, kalau ibuku nggak nangis, bapakku udah mati.
Album kapan itu?
Bukan itu musik rock orang, aku masih SMA wakti itu.
Lagu siapa ?
Ah aku lupa. Kayaknya kesukaanku wakti itu Hardrock gitu kayak Led Zeppelin. Rasanya waktu itu aku pernah ngomong di TV One tapi belum menyatakan dukungan, waktu itu aku belum menyatakan dukungan konkrit soal Prabowo. Nanti kalau Prabowo maju? Yah Prabowo kita bunuh, kalau nggak mau pakai jalan kasar kan bisa santet. Gitu lho.
Kan dia udah punya jagoan santet sendiri?
Santet kan tinggal nyari orang Banyuwangi, gitu lho. Nggak saya kira nggak, aku tetap berani. Atau sebenarnya persoalan HAM itu bukan isu yang lagi pas diangkat? Nggak, tetap. Cuma aku minta masyarakat tetap fair, bahwa melihat HAM jangan cuma fisik karena yang kena jadi Cuma Prabowo dan Wiranto. Bgai aku membuat orang mati langsung jauh lebih ringan ketimbang membuat orang miskin. Hidup menunda mati itu jauh lebih sakit daripada menunda mati. Tembak mati selesai urusannya daripada mau berlayar nggak bisa atau tiba-tiba berlayar tapi harga ditentukan tengkulak. Yang bertanggungjawab semua itu kan harusnya presiden.
Aku merindukan seorang presiden yang berani, gitu lho. Dan syarat seseorang berani kalau dia laki-laki maka istrinya harus tetap bisa menjadikan dia sebagai anak kecil yang abadi seperti ucapan terimakasihnya John Lennon pada Yoko Ono. Lagunya Women. Pokoknya dia berterimakasih pada Yoko Ono karena Yoko Ono satu-satunya wanita yang sanggup memelihara jiwa kanak-kanak, karena hanya jiwa kanak-kanak yang bikin kita ambil risiko.
Tapi perempuan juga yang mengikat Soeharto dan SBY seperti itu kan?
Aku nggak mau ngomongin itu. Itu omongan pers, terserah-terserah. Karena perempuan yang seperti ini harus bisa menjadikan berani dalam soal Ambalat dan lain-lain. Tapi kalau terlalu banyak mikir, takut risiko ini susah.Kalau perlu nasionalisasi semua perusahaan minyak, perang yah perang deh sama Amerika. Kita pakai ungkapan kalau perang udara dan lau mungkin sehari hancur Indonesia tapi kalau di darat, Amerika perlu seribu tahun. Kenapa nggak? Mengapa kalau setiap kali harga minyak dunia naik pemimpin selalu berteriak kayak terror kepada masyarakat. Nggak logis wong kita gudang minyak. Harusnya kabar baik donk, harga minyak dunia naik, saudara-saudara sekarang bisa beli motor satu-satu. Harusnya dibalik nggak kayak sekarang cuma 15 persen sama kita, gimana? Aku perlu presiden pemberani?
Yakin JK pemberani mas?
Didalam pilihan kan komparatif. Nggak bisa mutlak, di dalam tiga ini yang paling berani dia. Sebenarnya Prabowo bisa tapi sayangnya jadi cawapres.
Potong rambut bagaimana mas?
Aku main film mas, teater kan, film capres
Nggak bisa digulung?
Aku ngajar teater mas. Melukis dan teater juga dan aku ngajarin ke anak-anak asuhku itu acting harus all out gitu, itu risiko kesenian.
Setelah berapa lama nggak pendek?
Setelah dari 90. Banyak teman-teman yang bilang lho disuruh bayar berapa sampai mau potong rambut. Nggak masalah bayaran e, bayar berapapun asal kita sepakat maka kita terima. Prosesnya orang kan kalau dia diajari 10 ribu dan 20 ribu memang lebih semangat yang 20 ribu. Tapi kalau namanya sudah sepakat mau 10 ribu atau 20 ribu harus sama-sama all out.
Tapi ini nggak akan dipanjangkan?
Anak-anak minta supaya dipanjangin, katanya kalau hanya kayak gini banyak bapaknya teman-teman yang kayak gitu. Ya udah. Dia nggak ngomong ke aku tapi ngomong ke ibunya. Apa bangganya kalau rambut tetap begini.
Dulu waktu wartawan di Kompas, kalau ada acara budaya belum mulai kalau Sujiwo Tejo belum datang?
Yah dululah.
Memang SMA tergila-gila musik rock atau karena ikut anak muda saat itu?
Iya tergila-gila . Mereka yang kaya-kaya kan dulu SMA nya ke luar kota. Aku di Situbondo, SMP di Situbondo, yang kaya ada yang sekolahnya di Surabaya, di Malang. Nah kalau udah pulang bicaranya rock-rock semua gitu lho. Aku ikut-ikutan pengen juga, Blues terus bapak dengar, itu musik apa itu , gitu. Tapi ternyata ketika jauh kuliah di Bandung dnegar radio Kiara Condong namanya nyari wayang malam kan, ternyata gamelan itu enak.
Gamelan di Bandung?
Nggak , udah bisa hanya terpaksa Cuma yah kalau cinta itu memang mesti jauh. Kalau di Jawa itu ada kera putih namanya Hanoman itu ibunya Anjani ditemani berdua itu ibunya. Suatu saat Anjani itu harus muksa terus Hanomannya gila sendirian di hutan. Terus disuruh lihat telaga ketika naik, nggak usah sedih ketika aku jauh semakin aku jauh semakin menghujam ke dalam bumi, semakin aku dekat ke kamu. Begitu kita jauh baru kita rasa gila gamelan ini ternyata bagus banget, gitu lho. Nah sejak itu aku main gamelan dengan penuh, ternyata banyak gunanya dan aku ndalang gitu loh. Setelah itu bikin ludruk tahun 83an di TV.
Atau ingin menunjukkan budaya Jawa ditengah Sunda?
Bisa juga sih, aku ingin nunjukin budaya Jawa
Atau bukannya memang tren intelektual Jawa ketika dia jauh maka akan melihat akarnya kembali, begitu?
Bisa juga. Tapi waktu SD sampai SMA itu aku akhirnya bangga saat bulan puasa. Karena hanya aku yang punya gamelan. Sehingga kalau patroli malam itu yang lain boga sari , aku satu2nya naik becak tak ambilin gendang paling berat, itu pasti rombonganku, di luar itu malu. Benar-benar malu, belum ada telpon kan kalau kontak teman-teman bapak itu naiks epeda, dan itu dengan saat terpaksa. Secara teknis dulu aku menguasai gamelan. Baru di Bandung terus mendalang.
Kapan memproklamirkan diri sebagai dalang?
Sebenarnya sejak kuliah tapi aku mulai dibayar pertama kali ndalang itu tahun 1994, aku ndalang di Bentara Budaya.
Masih di Kompas?
Yah, sejak itu aku dibayar. Tapi kuliah udah mulai ndalang, dan Bapak senang. Sku pulang aku peluk dia dan minta maaf bahwa gamelan itu luar biasa.
Pernah menyaksikan mas?
Pernah tiga kali setelah itu dia meninggal. Pas kawinan Ratih Sanggar di Ngawi, undangan di Keraton Solo dan satu lagi di Balai Kota Surabaya.
Apa dia bilang?
Ya nggak ada, mana pernah dia muji aku. Ndalang ko ngebir. Aku dulu ngebir bisa tujuh botol. Yang paling asyik itu ndalang di pesantren Padang Bulannya Cak Nun di Jombang karena kan santri semua, gimana caranya kan biasanya tak minum dari botol. Aku bikin di mug itu taunya pas ditaruh di mug, kelihatan, yah ketahuan padahal santri semua. Cak Nun ketawa dari belakang itu. Aku pikir mereka akan menyangka itu kopi atau teh. Teman-teman Jakarta pernah lihat kok aku pernah dimarahin bapak sampai jam 10. Waktu yang Ratih, kawinannya itu yang datang peragwati-peragawati semua yang datang dari Jakarta itu. Di losmen yang terbagus lah waktu itu, subuh itu belum ganti baju aku begitu selesai ndalang aku dimarahin. Yah dalang itu pakem jangan bikin cerita sendiri, yah Pandawa itu baik Kurawa itu jangan dibolak-balik. Sejak peristiwa aku mau bunuh itu aku nggak pernah ngelawan bapak lagi, aku merasa itu salah besar.
Sekarang lebih enak mendalang atau menjual lukisan?
Aku jual lukisan itu nodong semua. Pejabat itu aku datangi, bawa lukisannya, kan enggak enak mereka menolak. Tapi banyak yang senang kok. Arifin Panigoro memasang lukisan saya di ruang kerjanya.
Hatta Rajasa itu saya datangi, “Pak bagus kayaknya kalau diluksi.” Dia bilang, ”Ah tampang saya begini, mana pantas.” “Lah ini lukisannya sudah jadi Pak.”
“Lantas, saya harus bayar berapa nih,” kata dia. Saya enggak mau menyebut harga. Tapi, “kemarin Bu Menkeu segini…. Bu Menkes segini….” Ya sudah seminggu kemudian dia bayar 30 juta rupiah.
Jadi korban Anda menteri semua ya?
Iya, makanya menurut saya menteri-menteri itu harus sering diganti. Kalau semua sudah saya lukis, saya mau jual lukisan ke siapa lagi?
