P E R S I N G G A H A N

Agitasi Yang Melawan Lupa

Minggu, 05 Juli 2009agitasi melawan lupa

Poster, pamflet, atau selebaran hanyalah selembar kertas. Namun, ia bisa setajam peluru bahkan bisa meruntuhkan tembok kekuasaan. Itu sebabnya, poster dan medium-medium grafis lainnya kerap kali dijadikan sarana agitasi dalam sejarah perjuangan, di manapun.

Poster, pamflet, atau selebaran hanyalah selembar kertas. Namun, ia bisa setajam peluru bahkan bisa meruntuhkan tembok kekuasaan. Itu sebabnya, poster dan medium-medium grafis lainnya kerap kali dijadikan sarana agitasi dalam sejarah perjuangan, di manapun.

Di galeri Cipta Taman Ismail Marzuki, kini juga sedang dipamerkan seni grafis dengan tajuk Melawan Lupa. Belasan poster terpampang di situ, mulai dari Marsinah, Munir, hingga gambar-gambar kekejaman tentara di masa lalu, mulai kasus Tanjung Priok, Timor Timur, hingga Aceh. Mulai kasus ontran-ontran pertarungan ideologi tahun 65 hingga neraka Pulau Buru.

Dari judul maupun materi yang dipamerkan, jelas event ini dimaksudkan untuk mengembalikan lagi memori kolektif masyarakat atas peristiwa-peristiwa tadi. Bagaimana perjuangan gigih seorang buruh bernama Marsinah dalam memperjuangkan nasibnya, hingga kisah tragis Munir dalam menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM) yang harus berakhir setelah tercekik racun. Kasus Marsinah, Munir, Tanjung Priok, hingga Timor Timur hingga kini memang masih gelap. Siapa dalang di balik semua itu hingga kini tak pernah terungkap.

Untuk itulah, pameran yang digelar 3-7 Juli atas kerjasama KontraS, Elsam, Grafisosial, Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI), Ruang Rupa, dan Dewan Kesenian Jakarta ini, mencoba menyadarkan publik dari amnesia kolektif. Agar peristiwa-peristiwa itu tidak sekadar jadi artefak sejarah.

Sebagai medium seni, pameran ini bukanlah kali pertama dan juga tak istimewa. Di masa rejim represif orde baru maupun saat euforia reformasi, poster-poster ini bertebaran dalam setiap aksi demonstrasi yang digalang mahasiswa. Bedanya, poster-poster tersebut diusung dengan teriakan dan kepalan tangan, bahkan tak jarang pukulan aparat. Bukan diam membisu di ruang yang sejuk

Lantas, apa arti poster-poster itu? Sebagai benda seni atau agitasi menjelang pemilu? adiyanto/teguh nugroho

Written by persinggahan

Juli 5, 2009 pada 8:1 am

Ditulis dalam tragedi