Archive for Juli 5th, 2009
Sujiwo Tejo
Minggu, 05 Juli 2009
Dalang edan ini bercerita tentang kenapa mendukung Jusuf Kalla, bersumpah demi nama Tuhan dan almarhum ibunya, dan menteri harus sering diganti, agar lukisannya laku.
Tak sampai 30 detik. Tapi penampilan yang mengejutkan ketika Sujiwo Tejo muncul di iklan televisi kampanye Jusuf Kalla-Wiranto. “Saya Sujiwo Tejo., golput seumur hidup. Tapi sekarang sudah punya pilihan,” sebutnya. Dengan tatapan mata tajam khasnya dan suara yang bergetar, Tejo melanjutkan, “Demi Allah dan demi almarhum ibu saya, Sulastri, saya tidak dibayar untuk dukungan ini. Ini semua demi martabat, harga diri dan kemandirian bangsa.”
Pernyataan tidak dibayar itu seakan-akan ditonjolkan menjadi penting ketika iklim politik sekarang ini siapa saja bisa dibayar untuk menyatakan dukungan. Seorang presenter acara televisi terkenal sampai mengirim pesan pendek pada Tejo. “Saya dan istri terpingkal-pingkal, sekaligus merinding melihat iklan Anda. Tapi saya jadi ikut pilihan Anda,” kata Tejo menirukan bunyi sandek itu dalam wawancara dengan Alfred Ginting, Teguh Nugroho dan Kristian Ginting di rumahnya di Ciledug, Tangerang, Sabtu, kemarin.
Agitasi Yang Melawan Lupa
Minggu, 05 Juli 2009
Poster, pamflet, atau selebaran hanyalah selembar kertas. Namun, ia bisa setajam peluru bahkan bisa meruntuhkan tembok kekuasaan. Itu sebabnya, poster dan medium-medium grafis lainnya kerap kali dijadikan sarana agitasi dalam sejarah perjuangan, di manapun.
Poster, pamflet, atau selebaran hanyalah selembar kertas. Namun, ia bisa setajam peluru bahkan bisa meruntuhkan tembok kekuasaan. Itu sebabnya, poster dan medium-medium grafis lainnya kerap kali dijadikan sarana agitasi dalam sejarah perjuangan, di manapun.
Di galeri Cipta Taman Ismail Marzuki, kini juga sedang dipamerkan seni grafis dengan tajuk Melawan Lupa. Belasan poster terpampang di situ, mulai dari Marsinah, Munir, hingga gambar-gambar kekejaman tentara di masa lalu, mulai kasus Tanjung Priok, Timor Timur, hingga Aceh. Mulai kasus ontran-ontran pertarungan ideologi tahun 65 hingga neraka Pulau Buru.
Tafsir Sejarah Sang Casa Nova
Mi
nggu, 05 Juli 2009
Seniman mestinya lebih bebas dibanding guru sejarah atau dosen yang terikat tafsir resmi dan kurikulum yang baku.
Teater Casa Nova coba menjadi lokomotif yang kembali menggerakkan roda sejarah. Sayang, mereka terpaku pada pakem yang kelewat lurus. Tanpa intepretasi, sehingga menjadi tontonan yang menjemukan.
“Kita adalah aktor!! Kita adalah aktor!!” suara teriakan “sang waktu” memecah kebisuan tujuh orang yang berbaris membeku di panggung. Kepala mereka berbungkus kerudung kain warna putih. “Aku sebagai waktu dan kau sebagai serdadu” teriaknya lagi sambil menunjuk seorang pemain. “Baiklah, aku adalah tentara. Aku adalah tentara. Dan aku lahir untuk melewati seribu peperangan” sumpah pemain yang ditunjuk untuk memerankan si tentara itu. Di belakang, lima orang mengendap-endap dengan sebilah tombak di tangan.
“Di Aceh aku disabet rencong,” tombak-tombak itu dilemparkan, “Achhhh…” tentara itu mengerang. “Di Papua panah beracun itu mengenaiku,” begitulah sang tentara memamerkan seribu perang dan kepahlawanannya, juga dalam Seroja (operasi di Timor Timur) yang dianggapnya cemerlang, tentang pelariannya ke bukit, tentang kepungan gerilyawan dan tentang ular Sanca sebelas meter yang membelitnya. “Aku tikam dia dengan belati,” teriaknya bangga. Ah dasar tentara, selalu bangga dengan bahasa-bahasa kekerasannya, dan pertunjukan teater ini sepertinya memang persembahan untuk memuja kepahlawanan itu.“Mari kita mulai, mari kita main.” teriak salah seorang pemain.
