P E R S I N G G A H A N

Pesona Yang Setengah Hati

pesona setengah hati stsi bandungMinggu, 28 Juni 2009

Sekelompok mahasiswa seni Bandung coba mengangkat pesona budaya Parahyangan. Namun sayang, keindahan pertunjukan seni tradisi itu minim apresiasi.

Pagelaran itu dibukan mirip dengan tontonan ronggeng di kampung-kampung, dengan pengrawit yang berbaris di belakang dan seorang seorang sinden yang duduk bersimpuh. Di depannya, lima lelaki berbaju merah mencolok langsung mendentumkan kendangnya begitu panggung dibuka. Masing-masing menghadap tiga kendang, satu kendang besar dan dua ketipung.

Suara gemuruh yang dinamis langsung menebar dari 15 kendang yang ditabuh bersamaan. Gerakannya kompak dan terlatih. Tak hanya menabuh, sesekali dalam posisi duduk bersila, mereka berlima berimprovisasi dalam cara menabuhnya. Saat gemuruh belasan kendang itu mereda, seorang penari –Nur Feti- bersimpuh di tengah panggung membelakangi penonton.

Diam lama mirip orang memuja. Lalu pelan-pelan dia mulai bergerak. Badannya meliuk, tangan dan kaki juga lincah mengikuti. Dia membawakan tari topeng yang dinamis itu. Tari ini bercerita tentang Rahwana yang serakah dan angkara murka. Dengan gerakannya yang luwes dan indah, Rahwana kali ini bisa benar-benar dinikmati.

Rampak kendang yang dinamis dan tari topeng tentang Rahwana itu adalah
pertunjukan pembuka Pesona Parahyangan yang digelar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, di Gedung Kesenian Jakarta, kamis (25/6).
Ide pergelaran ini sebenarnya sederhana, yakni memindahkan lanskap bumi Parahyangan yang eksotik dalam sebuah panggung pertunjukan yang dimanis. Tak hanya keindahan lanskap saja sebetulnya, karena Parahyangan juga memiliki ragam seni tradisi seperti tari, wayang golek, angklung, dan berbagai kesenian lainnya. Plus pesona alam, tentunya.

Dan pergelaran ini mencoba memotret keindahan geografis sekaligus sosiologis itu. Bisa dibilang Pesona Parahyangan memang menawarkan pertemuan idiom tradisional dan modernisasi, klasik dan kontemporer sedemikian rupa sehingga menjadi olahan yang dianggap bisa mewakili kekinian.

Usai dengan angkara murka Rahwana, menyusul kemudian Tari Merak
kreasi baru, tiga perempuan berdandan mirip burung merak lengkap dengan sayap dan kepala dan geal-geolnya yang menggemaskan. Benar-benar mirip seperti burung merak yang sedang pamer keindahan bulu-bulunya.

Tari Senggot yang merupakan gabungkan tari ketuk tilu dengan pencak
silat menyusul kemudian. Juga perang tanding Srikandi dan Mustakaweni.
Srikandi adalah istri panengah Pandawa yang sebenarnya ditugaskan
menjaga pusaka Atmarta Jamu Kalimasada. Dia lalai, hingga pusaka sakti
itu kemudian jatuh ke tangan Mustakaweni. Merasa dirinyalah yang paling bertanggung jawab, Srikandi kemudian mengejar Mustakaweni hingga terjadilah perang tanding itu. Srikandi pun kalah dalam duel itu.

Tari Cikeruhan Ronggeng dan Jawara, adalah fragmen seorang jawara yang
menari dalam sebuah pertunjukan ronggeng. Mega Pristia –penari
ronggeng itu- menari dengan total. Dia benar-benar menjadi ronggeng
yang membuat gandrung seorang jawara dengan goyang jaipongnya, liukan
tangannya, gaya yang kenes sampai lirikan matanya. Mega berhasil
memindahkan panggung ronggeng di kampung ke GKJ.

Miskin Apresiasi

Bila bagian pertama pertunjukan diisi dengan tari, lelakon, dan puisi
dalam bagian kedua pertunukan, mahasiswa-mahasiswi STSI Bandung ini mencoba bermain-main dengan mengeksplorasi bebunyian. Ada kendang yang berkolaborasi dengan bas, dan simbal, atau di nomor lain bas dan simbal itu diiringi petikan sitar.

Pada bagian ini beberapa nomor instrumental seperti pada nomor
kendang solo itu, berhasil menghasilkan bunyi yang sensasional. Tapi selebihnya malah terdengar aneh. Kendang atau sitarnya akrab di telinga, tetapi begitu digabung dengan simbal dan bas dengan gaya reggae malah justru terdengar asing.
Begitulah, seperti kebanyakan seni tradisi lainnya yang mulai
kekurangan peminatnya, kali ini pertunjukan Pesona Parahyangan juga
sepi penonton. Ratusan kursi yang tersedia, paling banter hanya terisi
puluhan saja. Tepuk tangan pun nyaris tak terdengar.adiyanto/teguh nugroho

Written by persinggahan

Juni 28, 2009 pada 6:1 am

Ditulis dalam Seni Budaya

Ditandai dengan ,