P E R S I N G G A H A N

Mimpi-Mimpi Para Badut

mimpi-mimpi para badutMinggu, 21 Juni 2009

Tak ada dandanan mencolok, tak ada lelucon slapstik, semua mengalir natural.

Dua seniman Prancis menggabungkan teater, kabaret, serta opera untuk menampilkan kelucuan-kelucuan yang segar dan orisinal. Tak sekadar mengundang tawa, tapi juga tafsir imaji para penonton.

Dua buah kardus besar bekas pembungkus kulkas tergeletak begitu saja, ketika panggung pelan-pelan terang disiram cahaya. Hanya kardus kosong? Tidak. Karena tiba-tiba kardus itu bergerak-gerak dan dari bagian atasnya yang terbuka sebuah balon besar warna biru terikat tali menerobos keluar.

Kemudian sebuah tangan terlihat dari kardus itu, lalu kepala menyembul, lantas utuh seluruh badan, berwujud seorang laki-laki berkacama, berjas hitam, dan berdasi. Pria itu tersenyum kepada penonton dan terheran-heran melihat kotak kardus di sebelahnya masih tetap diam.Tak diam sebetulnya, karena kotak itu mulai bergerak. Sama dengan kotak yang pertama. Sebuah balon dan seorang badut berwajah lucu keluar dari kardus itu.

Lelaki berjas, berdasi dan berkacamata itu Bernie Collins, dan yang berdandan ala badut adalah Philipe Martz. Wonderful World begitu mereka memberi judul pertunjukan yang ditampilkan Jumat (19/6) di Gedung Kesenian Jakarta. Sejak 17 tahun silam keduanya sudah tampil bersama dengan membentuk Cie BP Zoom yang menggabungkan teater, kabaret, dan opera untuk menampilkan kelucuan-kelucuan yang segar dan orisinal.

Dengan kardus dan balonnya –yang dianggap sebagai balon udara- dua lelaki itu mengudara setelah pemberatnya dibuang ke tanah. Melayang pelan, makin tinggi dan makin tinggi ke angkasa diiringi lagu dansa yang lembut. Imajinatif.

Penonton seolah-olah diajak berimajinasi bahwa balon itu memang benar-benar terbang. Sebuah miniatur menara Eiffel tiba-tiba tergeletak begitu saja di lantai dengan lampunya yang kerlap-kerlip meriah. Mereka melayang di atas kota Paris yang indah. Baru kemudian New York menyusul dengan patung Liberty-nya. Lalu sebuah sepatu butut. Kota apa yang landmark menggunakan sepatu butut? Ah, bukan landmark rupanya, karena itu sepatu si badut yang tercecer rupanya.

Kelompok ini memang lihai mengolah tawa lewat parodi. Lihatlah saat balon udara mereka sedang melayang di udara, si Philipe mengeluarkan sampanye. Sementara Bernie mengeluarkan dua buah gelas dari sakunya. Sayang, ketika Philiphe membuka sampanye itu, karena letupannya, tutup botol itu justru menghantam mengenai balon udara Bernie. Dor…. balon udara itu meledak, berputar-putar tak terkendali lalu menghujam ke tanah.

“Oiii saya di sini,” teriak Bernie pada Philipe dalam bahasa Indonesia. “Oii.. dia di sana,” balas Philipe berteriak. “Tolonggg!!! Eh, turunn!!” pinta Bernie. “Tidak mau!!” Philipe menjawab. Gerr… penonton langsung terpingkal mendengar dialog dalam bahasa Indonesia yang patah-patah itu.

Keduanya juga mampu memaksimalkan sebuah benda yang diolah untuk menghadirkan tawa. Tak hanya itu, keduanya juga maksimal mengeksplorasi gerak, kadang malah nekat dan berlebihan. Misalnya memainkan burung-burungan dari kertas. Bernie nekat memanjat pagar pembatas balkon, berdiri dan ancang-ancang menerbangkan burungnya. Sementara penonton hanya bisa menghela nafas ngeri.

Teater Odeon
Bernie dan Philipe lulus dari sekolah teater yang sama L’Ecole Jacques LeCoq di kota Paris. Tapi di Teater Odeon-lah mereka justru menemukan kesamaannya. Sama-sama mencintai orang yang tertawa karena kelucuan seorang badut. Dan begitulah, mereka akhirnya tampil menjadi badut. Bukan badut-badutan biasa tentunya, karena yang kemudian dibawa berkeliling ke Jerman, Belgia, Swiss, Italia, Spanyol sampai Indonesia adalah pertunjukan badut yang berbeda dengan anggapan orang selama ini. Tak ada dandanan mencolok, tak ada lelucon slapstik, semua mengalir natural. Aturan mainnya sederhana, gerakan, irama, dialog, bahkan mimpi atau properti panggung yang minim diolah menjadi pertunjukan yang menarik.

Masih menggunakan media burung untuk memancing tawa, tampilan Bernie dan Philipe yang terakhir dibantu dengan sebuah katrol hidrolik. Burung-burung itu dimainkan mirip sirkus. Memecahkan balon, dimainkan untuk membelit tubuh atau melompati lingkaran api hingga burung kertas itu terbakar. Karena tak ada lagi yang bisa diterbangkan, mereka lantas menerbangkan diri mereka. Tubuhnya dicantel katrol, ancang-ancang dan hups…. Mereka terbang, melayang-layang dalam cahaya biru yang temaram menutup pertunjukan. Mimpi untuk terbang pun menjadi nyata. Teguh nugroho/adiyanto

Written by persinggahan

Juni 21, 2009 pada 10:1 am

Ditulis dalam tragedi

Ditandai dengan