P E R S I N G G A H A N

Dengung Yang Menjadi Jembatan Itu

teater simMinggu, 21 Juni 2009

Sejak dulu kala manusia sudah mempelajari tentang misteri kehidupan. Benarkah ada dunia lain selain dunia yang mereka huni sekarang ? Jika ada, bagaimana caranya ke arah sana? Sejumlah ilmuwan bahkan telah meneliti tentang lompatan kuantum yang dapat memindahkan manusia dari satu dimensi ke dimensi lain. Tapi sayang, hasilnya nihil alias belum terwujud.

Obsesi itu baru sebatas direalisasikan dalam film-film atau cerita fiksi ilmiah. Salah satunya Sliders. Dalam serial televisi itu, ilmuwan Malory Quinn secara tak sengaja berhasil menciptakan sebuah alat mirip Einstein-Rosen Brigde (jembatan) yang bisa membawanya berkelana menjelajah ke dunia-dunia paralel lain. Di dunia yang lain itu tak jarang dia bertemu dengan dirinya yang menghuni dunia tersebut, walau wujud fisiknya sama persis tapi sifat dan kehidupannya ternyata sama sekali berbeda.

Perjalanan dari satu dunia ke dunia lain yang dilakukan oleh Quinn itu jugalah yang dialami Arian dalam lakon Frekwensi Frontal karya Teater SIM yang mentas 16-17 Juni di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Cerita diawali dengan setting panggung yang sederhana, satu set sofa berwarna hijau, beberapa kursi jengki, sebuah meja telepon, dan sebuah pintu di belakang sofa yang sekaligus digunakan sebagai akses keluar masuk pemain ke panggung. Pertunjukan selama hampir dua jam itu kemudian dibagi menjadi empat “dunia” yang berdiri sendiri.

Dalam dunia pertama, Arian –diperankan Manahan Hutahuruk- menjadi anak muda yang harus bertanggung jawab atas kehamilan Riska, bekas pacarnya. Riska yang judes itu kemudian datang ke rumah Arian dan meminta pertanggung-jawaban Weni, ibu Arian. Belum beres terkaget-kaget, dering telepon menyentak sang ibu mengabarkan berita duka dari Sofyan, sopirnya; Arian meninggal dalam kecelakan pesawat terbang. Menutup adegan pertama itu, sebuah dengung panjang dengan nada rendah mengantar lakon ke “dunia” berikutnya.

Dengung itu tenyata terlempar Arian ke dunia lain berikutnya. Kali ini dia menjadi anak muda yang gaul. Pacarnya tak lagi Riska, tapi Lana. Semua yang dikenal Arian dari dunia sebelumnya tetap orang-orang yang sama. Ada Jeni, Uta, Riska, Sofyan, dan Rengga, Yusi, dan Omar. Hanya saja mereka semua bertukar peran, sifat, dan kehidupan. Yusi yang sebelumnya pembantu di rumah Arian, dalam “dunia” kedua itu menjadi calon mertuanya. Begitu juga yang lain. “Lana, Omar!!” Uta tergopoh-gopoh mengabarkan berita duka. “Arian.. Arian….ketabrak!!.” Panggung menggelap dan beralih ke “dunia” berikutnya.

Dalam cerita ketiga, Arian adalah kakek-kakek penyabar yang dicintai cucu-cucunya, tapi justru ditelantarkan oleh Omar anak laki-lakinya yang berniat mengirimnya ke panti jompo. “Aku pernah mengalami ini, aku pernah. Aku berkali-kali mati dan pergi meninggalkan tempat ini tapi aku kembali hidup. Kita akan bertemu kembali walau kita tak saling kenal” ujar Arian si kakek malang seseaat sebelum terusir dari rumahnya.

Begitu terus dari lakon ke lakon dari dunia satu ke dunia yang lain. Umur Arian ikut maju mundur. Menjadi anak muda, lalu bertukar menjadi kakek-kakek, atau lalu mengkerut lagi menjadi anak umur belasan tahun. Ide tentang dunia paralel dalam Frekwensi Frontal yang disutradarai oleh Manahan Hutauruk bisa disebut sebagai ide orisinal yang jarang dilirik pertunjukan teater. Dengan Membagi pertunjukan menjadi empat cerita yang berdiri sendiri dan karakter tokoh yang berbeda sama sekali, mau tidak mau menuntut para pemain menampilkan totalitasnya dalam berakting.
Tokoh Rengga misalnya, dalam cerita pertama dia hanya menjadi penjaga gedung teater, menjadi pacar yang lelet, lalu menjadi anak idiot. Atau peran Uta tampil sepintas menjadi penonton, memerankan karakter banci, lalu di cerita terakhir menjadi anak badung.

Bila serial Slider, dunia paralel itu digambarkan ilmiah lengkap dengan penciptaan Einstein-Rosen Brigde sebagai sarana perjalanan antardimensi, Manahan tak bergerak ke sana. Sebagai jembatannya, Manahan hanya menghadirkan dengung panjang dengan nada rendah yang meneror. Bukan dengan hitung-hitungan fisika kuantum atau alat-alat canggih, yang hendak ditampilkan oleh Manahan justru sisi manusiawi dari seorang Arian yang harus cepat beradaptasi dengan dunia yang tiba-tiba berubah dengan cepat. Tak ada pilihan bagi Arian, berharap kembali ke dunianya yang lama, menyaksikan satu persatu orang yang dikenalnya mati, atau mengikuti saja “perjalanannya” sampai saatnya tiba?

Teater SIM dibentuk tahun 1994 oleh Manahan yang dalam lakon ini selain berperan sebagai Arian juga menjadi sutradara. Dalam Festival Teater Jakarta tahun 2002, Teater SIM berhasil menjadi juara dan dinobatkan menjadi teater senior oleh Dewan Kesenian Jakarta. Selain itu dalam Festival Teater Alternatif yang diadakan Gedung Kesenian Jakarta, mereka juga menyabet gelar sebagai grup terbaik. Teguh nugroho/adiyanto. Foto Koran Jakarta/Wachyu AP

Written by persinggahan

Juni 21, 2009 pada 10:1 am

Ditulis dalam Seni Budaya

Ditandai dengan