P E R S I N G G A H A N

Puisi Yang Marah Dan Gelisah

Anis Sholeh NoviAku melihat di atas sini….

Cambuk berayun ke ini negeri..

Sebenarnya kalimat itu adalah puisi berjudul Suluk Keseimbangan, tapi dengan iringan musik puisi itu justru menemukan roh-nya. Seperti merayap, kelembutan puisi-puisi itu perlahan menjelma menjadi bahasa-bahasa yang beringas, keras, dan tegas dalam menyoal keadaan. Begitulah kelompok Sampak GusUran memulai pertunjukannya, Rabu (11/6) di Bentara Budaya, Jakarta.

Usai dengan Suluk Keseimbangan, menyusul berikutnya Suluk Zaman Wis Akhir, lalu berturut-turut Suluk Bahasa Batu, Suluk Montang-Manting, Suluk Persembunyian, Suluk Pintu Terkunci, dan beberapa lainnya lagi. Oleh Anis Sholeh Ba’asyin, puisi itu diracik dengan musik, sesekali monolog dan dikemas menjadi pertunjukan yang baru sama sekali. Bukan semata-mata baca puisi, juga bukan konser musik. Sesekali terdengar nge-rock dengan lengkingan melodi atau gebukan drum yang kental, atau tiba-tiba menjadi syahdu dengan petikan-petikan akustiknya. Nuansa etnik juga sesekali menyeruak melalui biola, rebana, kendang, atau saron dan bonang. Walau tempo musiknya naik turun , syairnya tetap saja, memerahkan telinga dengan bahasa-bahasa yang lugas.

Simak saja Suluk Mabuk Segala Jurusan:

Karena tiap pikiran kamu perdaya bentuknya/ karena tiap mimpi kamu kurung batasnya/, karena tiap langkah kamu hadang arahnya/ maka kami memilih lupa! …
Kamu bilang kerakyatan, kami bilang; prek!
Kamu bilang perubahan, kami bilang; prek!/
Kamu bilang lanjutkan, kami bilang; prek!.

Anis menyebut irama marah dan gelisah yang tampil di Bentara Budaya itu sebagai Bersama Kita Gila. Orkes Puisi Sampak GusUran. Musik sampak atau sampakan adalah irama yang biasa digunakan untuk mengiringi adegan perang dalam pewayangan, sementara GusUran, berasal dari kata tubagus dan ura-ura atau tembang. “Tembang yang bercerita tentang soal-soal pinggiran,” jelas Anis ditemui usai pertunjukan. Menurutnya orkes puisi ini tercipta sebagai ungkapan keprihatinan terhadap situasi aktual bangsa.

Sampakan GusUran adalah kelompok musik yang lahir tahun 2005 di Pati, Jawa Tengah dengan anggota yang berangkat dari latar belakang yang beragam. Ada yang petani, pedagang atau memang murni seniman. Yang menyatukan mereka sama. Kegelisahan.

Dibredel di Internet
Walau kegelisahan dan kemarahan itu sudah dikemas dalam puisi dan dimusikalisasi untuk memberikan sentuhan estetisnya, tak lalu racikan itu kemudian bisa diterima semua kalangan. Sehari sebelum mentas di Bentara Budaya itu, lagu mereka Pantun Jadi-Jadian dibredel di situs Facebook. Anis hanya menerima pemberitahuan singkat melalui surat elektronik dari admin situs tersebut bahwa kontennya mengandung unsur violence. Kejadian itu bukan kali pertama dialami Anis, sebelumnya kejadian serupa pernah menimpa lagunya yang berjudul Bersama Kita Gila, cuma bedanya lagu itu ada di situs Youtube.

“Yang di Youtube malah tanpa penjelasan apapun, tahu-tahu kemudian lagu itu nggak bisa dilihat lagi,” ujar Anis. Menurut Anis, lirik maupun syair lagunya itu terbilang biasa saja, “Mungkin judulnya membuat seseorang tersinggung,” tambahnya kemudian. Padahal, untuk lagu yang sama, dan dua lagu lainnya Suluk Zaman Akhir dan Suluk Pintu Terkunci mendapat pujian dari kritikus dan musisi dunia karena aransemennya yang dianggap orisinal. Bahkan untuk lagu Suluk  Zaman Akhir mendapatkan penghargaan dari situs garageband.com sebagai “World Fusion Track of the Week” pada 15 Desember 2008 lalu. Penghargaan yang sama juga diberikan pada Suluk Pintu Terkunci pada 29 Desember 2008. teguh nugroho/adiyanto/foto Novi

Koran Jakarta edisi Minggu, 14 Juni 2009

Written by persinggahan

Juni 14, 2009 pada 5:1 pm

Ditulis dalam tragedi

Ditandai dengan ,