Ikan, Perempuan, dan “Rampogan”
Dalam kanvas-kanvas itu realitas dipotret telanjang. Apa adanya dan tak ada yang ditutup-tutupi.
Bagai pendekar yang marah, Sri Warso Wahono yang vakum berpameran selama enam tahun kembali turun gunung. Dia pun menyapu kuasnya kesana-kemari, melontarkan segala kegelisahannya. Dan lihatlah, sebagian berwujud ikan, sepatu lars, dan tentara-tentara itu.
Waktu berkunjung ke Brasil tahun 1989 silam, seniman Sri Warso Wahono tertarik pada seekor ikan. Tentu saja bukan ikan biasa, karena itu adalah ikan purba yang telah menjadi fosil. Dia pun membelinya dan berniat membawa pulang ke Tanah Air sebagai oleh-oleh perjalanan. Sayang, saat melewati imigrasi dia baru sadar fosil ikan purba itu adalah benda cagar budaya dan tak boleh dibawa keluar Brasil. Kecewa? Tentu saja. Entah apa menariknya ikan itu bagi Sri Warso, tapi nyatanya sejak saat itu dia terobsesi pada figur ikan.
Lihat saja dalam pameran tunggalnya yang ke-15 yang digelar 4-12 Juni di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jakarta. Di situ, ikan-ikan karya Warso digelar. Dari total 58 karya yang dipamerkan, setidaknya ada 24 kanvasnya yang khusus bercerita tentang ikan. Sri Warso yang absen berpameran selama enam tahun masih memiliki ketajaman intuisinya untuk “menghidupkan” ikan-ikan itu.
Awalnya yang hanya sekadar ikan membatu –fosil ikan purba di Brasil itu- kemudian temanya berkembang. Tumbuh dewasa, beranak-pinak, beberapa berubah bentuk, dan beberapa lainnya berubah maknanya. Ikan-ikan terkadang muncul dalam bentuknya yang aktual, tapi tak jarang ikan-ikan itu juga sering mengambil bentuk yang dekoratif yang seolah tiba-tiba saja meloncat keluar dari dimensi meditatif seorang Sri Warso.
Menarik untuk mencermati perkembangan ikan-ikan Sri Warso dalam pameran kali ini, dari Akuarium Purba, yang membungkus fosil ikan itu, lalu Ikan Dalam Batu Hijau, Batu Ikan dan Rembulan, Roh Batu Ikan, sampai Batu Ikan Merah. Ikan itu seperti terpenjara dalam ke-fosil-an dan menggeliat ingin keluar. Setelah berhasil membebaskan diri dari “batu” yang mengurungnya, ikan itu mengembara menjelajah dunia. Seekor Ikan Yang Waspada, Kelompok Ikan Mengintai, Ikan-Ikan Di Ceruk, Ikan Terbang Dan Rembulan, Ikan Dan Lelumutan, sampai dengan Ikan Bercinta atau yang lebih religius dalam Ikan Dalam Formasi Salib. Bagi seniman asal Solo ini ikan adalah jendela untuk memahami dunia dan pengetahuan baru.
Selain menggarap ikan, dua tema lain yang intens digarap dalam pameran kali ini adalah perempuan dan rampogan. Perempuan-perempuan dalam kanvas Sri Warso kali ini adalah perempuan yang diam-diam menyimpan pemberontakannya. Beberapa figurnya digambar telanjang, tapi walau begitu tampaknya Sri Warso menjauhi perdebatan. Ketelanjangan itu disimpannya dalam rumah, kamar tidur, atau sofa. Semua di ruang pribadi dan Sri Warso tak berniat beranjak keluar memancing polemik.
Rampogan berasal dari khasanah pewayangan. Bila sehelai wayang kulit biasanya mewakili sebuah karakter atau individu tertentu dengan ekspresi tertentu juga, maka rampogan adalah sehelai wayang yang melukiskan banyak orang sekaligus. Ia adalah massa. Ia juga bisa melukiskan tentara yang sedang berbaris menuju medan perang.
Melukis Dengan Geram
Menikmati karya-karya Sri Warso dalam rampogan seperti kita menikmati sebuah film dokumenter yang hitam-putih. Dalam kanvas-kanvas itu realitas dipotret telanjang. Apa adanya dan tak ada yang ditutup-tutupi. Menurut Sri Warso, karya-karyanya dalam rampogan berangkat dari kegeraman terhadap keadaan yang terjadi di masyarakat. Tema yang digarap beragam, dari semburan lumpur Lapindo, kerusuhan 1998, peristiwa 27 Juli, sampai potret gejolak masyarakat; kenaikan BBM. “Gemas sekali saya dengan keadaan itu, sementara sebagai seniman pendekatan saya hanya seni,” tuturnya.
Mungkin karena berangkat dari geram itu, Sri Warso akhirnya benar-benar seperti njeblug –meledak- dalam rampogannya. Energinya total dihabiskan di sana. Sapuan kuas tegas, bahkan kadang dengan makna yang langsung terhidang dalam sekali pandang. Dalam Rampogan Jakarta misalnya, kanvas didominasi warna hijau, dengan latar belakang gedung-gedung yang terbakar. Juga sepatu lars, pucuk-pucuk senapan yang digambar samar-samar. “Dominan warna hijau karena tentara yang saat itu paling dominan perannya” ujar Sri Warso memberi alasan.
Dalam Gerbang Negeri Rampogan, Sri Warso menggambar sebuah panggung yang didominasi warna biru. Sebuah burung garuda ditempatkan di tengah atas. Di panggung samar-samar terlihat figur orang-orang telanjang yang sedang menari. Di latar depan sama saja, figur samar-samar itu juga larut dalam tarian. Menutup tepian panggung itu, dua perempuan yang berdiri di punggung serta seekor anjing menenteng sebuah senapan serbu. Enam buah topeng juga dibariskan dari sisi kiri ke ujung kanan. Sementara di bagian bawah, bertumpuk-tumpuk orang dalam figur hitam dan putih bergelimpangan.
Dalam Rampogan Lapindo, mungkin saking geramnya Sri Warso malah lebih ngedan. Dalam kanvas itu, Sri Warso melukis sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang duduk di singgasana. Si lelaki sedang merangkul bahu dan memegang tangan si perempuan. “Tak apalah mereka tenggelam yang penting kita panen harta” begitu tulis Sir Warso pada perempuan itu. Sebuah bendera dikibarkan, samar-samar berwarna merah putih dengan tulisan dalam bahasa jawa yang sarkas. “isih malati tho… ukoro sing salah bakal seleh. Saiki jaman asu edan, laki neng ndalan malah kajen (masih bertuahkah, kalimat yang salah bakal kalah. Sekarang jaman anjing edan, berzina di jalan malah dihormati” Di bagian paling atas digambarnya sepasukan tentara yang berbaris, berturut-turut di bawahnya badut-badut dan dua ekor anjing. Sementara di bagian paling bawah, Sri Warso kembali meletakan figur-figur yang bertumpuk-tumpuk antar sesamanya, sebagian hanya digambar kepalanya saja. Inilah figur massa kebanyakan.
Cerita-cerita mirip ada di Rampogan 27 Juli, Aluhamah, Panghorong Sidoarjo, Enam Manusia Gombal. Rampogan bagi Sri Warso adalah katup untuk melepaskan geram dan gemas saat dirinya tak tahan lagi menyaksikan ketidak adilan, keserakahan, dan segala ketidakberesan. Pendeknya rampogan adalah petaka.
adiyanto/teguh nugroho
Koran Jakarta edisi Minggu, 14 Juni 2009/foto Koran Jakarta-Wachyu AP
