Semar Yang Mengglobal
Semar tak lagi dicitrakan sebagai sosok lucu dan berperut buncit. Dia bisa pula gagah, bermata sipit, bahkan brewok seperti orang arab. Semar dengan cita rasa baru, cita rasa F Widiyanto.
Dalam cerita wayang, Semar dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan Mahabharata dan Ramayana. Tokoh punakawan berperut buncit ini merupakan sosok paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda.
Namun, dia tentu bukan tokoh sakti mandraguna yang tidak bisa didekontruksi wujudnya. Cerpenis Seno Gumira Aji Darma, misalnya, pernah “bermain-main” dengan Sembilan Semar. Di situ, Seno menafsirkan sosok semar sesuai imajinasinya.Keberadaan semar-semar itu, dalam cerita Seno, bahkan mampu membuat repot seorang komandan intel.
Dan, Jumat lalu, di Galeri Nasional, tak tanggung-tanggung puluhan semar digelar sekaligus. Itulah semar-semar keramik karya F Widiyanto. Dalam pameran bertajuk Semarak 30 Semar yang berlangsung hingga 12 Juni itu, juga dipajang 19 relief tokoh punakawan tersebut.
Seperti halnya Seno, Widiyanto juga mendekontruksi makna dan wujud semar-semar tersebut. Dimulai saat pembukaan pameran, pentas lakon Semar Meteng yang didalangi Slamet Gundono, telah mencerminkan hal tersebut. Walau tak “berpakem”, lakon ini justru lebih mengena tanpa perlu kehilangan nilai filosofisnya.
Semar Meteng berkisah tentang Semar tanah yang sedang hamil. Sebagai sang pamomong sejati, jabang bayinya adalah tunas yang kelak akan melanjutkannya menjadi “sang penjaga dunia”. Sayang, proses kehamilannya yang kadang selama seabad atau bahkan tiga abad, tak lagi cocok dengan dunia yang sedang berderap cepat, dunia pasar. Dan dia harus mempercepat kelahirannya. Karena bimbang, Semar menghadap ayahnya, Hyang Tunggal untuk meminta nasihat bagaimana dia harus bersikap. Di wejang ayahnya, Semar kembali ke bumi dengan pemahaman baru. Dunia memang sedang berubah.
Begitu pun saat memasuki ruang pameran Widiyanto kali ini. Tak ada lagi semar-semar tradisional. Di pintu utama, sang seniman keramik ini menyapa dengan sosok semar Ni How yang berdiri gagah dengan tangan bersedekap di dada. Dia nyaris telanjang hanya dengan secarik kain yang dicantelkan pada seutas tambang yang melingkar di perut buncit dan pusar bodong-nya. Walau mengucap Ni how –apa kabar dalam bahasa China- raut muka semar justru tak kelihatan ramah dengan gigi tunggal yang dihiasi batu mulia itu.
Dengan ucapan Ni how-nya, pengunjung memang langsung paham. Ini bukan semar Jawa. Inilah sang pamomong di jaman global. Semar yang go to international. Begitu pun dalam King Izmy. Semar ini “bercita-rasa” Mesir, lengkap dengan jenggotnya yang berpilin-pilin lancip dan jambul yang ujungnya berkelapa ular, juga senjata dan kain penutup aurat yang bermotif burung nazar. Juga Think Smar si pemikir, Belly Dragon yang berkulit coklat dan bergaya binaraga, Lotus Fall dengan kulit penuh batik, Moody Blue yang genit dengan kulit birunya, Zeus Mar, Dali Mania, Hunky Myth, God Will Do, sampai Emperor of the East.
Sementara Tumaritis Dream, Smarasati, Ki Nayantaka, Kakang Pinuji, Sang Hyang Jiteng, Leyeh-Leyeh sampai Kencrung Semar yang berasa lokal, gesturnya nyaris sama, wajah yang cemberut, menyeringai, atau angkuh, berdandan dan tampak sekali menikmati hidupnya. Di beberapa “Semar”-nya Widiyanto juga menyelipkan batu mulia di cincinnya atau di gigi tunggalnya. Sepertinya tak nampak satupun dari karyanya kali ini mengakomodasi semar “tradisional” yang dikenal ramah, sederhana, dan berjiwa pamomong.
Extravaganza
Widiyanto, hanya mengambil penanda ke-semar-an itu dari bentuknya. Perut buncit dengan pusar lebih, rambut kuncung, gigi tunggal, dan kliningan –lonceng- di pergelangan tangan. Selebihnya semar-semar itu benar-benar mengglobal. “Semar kali ini memang bukan semata-mata untuk orang Jawa tetapi semar untuk dunia,” cerita Yanto –panggilan akrab Widiyanto- di sela-sela acara pembukaan pamerannya.
Menurutnya, semar klasik sudah banyak dibuat orang, maka dalam Semarak 30 Semar dia memang berniat membuat karya baru, nilai baru, dan tentu dalam tafsir baru. “Semar yang tampil extravaganza” ujarnya. “Kebaruan itu juga termasuk memosisikan semar sebagai yang ‘ter’,” tambahnya sambil mencontohkan Zeus Mar yang merupakan rajanya dewa dalam mitologi Yunani, atau King Izmy yang dikenal sebagai Black Pharaoh, Pharaoh paling jaya di Mesir, juga Emperor of the East yang penuh dengan atribut-atribut kebesaran.
Lepas dari kesan mewah yang tampil karena pewarnaan dan aksesoris yang dikenakan, semar-semar ini memang digarap dengan seksama. Tak heran, bila patung-patung itu dibanderol dengan harga selangit. Berkisar 85 juta hingga 130 juta rupiah . Namun demikian, hal itu tak menyurutkan animo para “Semarmania”. Buktinya, sebanyak 15 patung Semar habis dipesan saat pembukaan pameran. adiyanto/teguh nugroho/foto Wachyu AP
Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta Minggu, 07 Juni 2009 00:08 WIB
