P E R S I N G G A H A N

Menyelami Masa Kecil Lewat Hip Hop

WAP20090603_06Hip hop sejatinya adalah genre musik yang popular di Amerika, tepatnya di New York pada dekade 70-an. Seperti halnya musik reggae yang melahirkan goyang reggae, hip hop yang dimainkan warga afro-amerika ini pun melahirkan subkultur lainnya, termasuk fesyen dan tari.

Hip hop identik dengan rap yang liriknya kerap berisi makian terhadap penguasa. Hal ini lumrah karena musik ini berasal dari mereka yang terpinggirikan, kaum afro-amerika itu. Mereka biasa memainkannya di jalanan atau di pesta-pesta rumahan. Dari sini lah musik dan tarian itu menyebar hingga ke penjuru dunia.

Masuknya hip hop ke Perancis tak lepas dari warga afrika yang menjadi imigran di negeri tersebut. La Courneuve, sebuah komune di pinggiran timur laut Paris yang dihuni oleh imigran dan keturunannya, menjadi ladang subur pengembakbiakan budaya ini. Bahkan, pada 2003 Pockemon Crew, kelompok tari hip hop Perancis berhasil menjadi juara dunia di Hannover, Jerman, menyisihkan grup-grup dari Paman Sam.

Setelah Pockemon Crew singgah di Indonesia dua tahun silam, kini giliran Cie Accrorap kelompok tari hip hop Perancis lainnya yang menyambangi Tanah Air. Mereka tampil di beberapa kota seperti Bandung, Balikpapan, dan Surabaya. Dan, ruang Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa malam lalu pun, dibuat meriah oleh penampilan kelompok ini.

Selama sekitar sekitar dua jam, kelompok yang terdiri dari Kader Attou, Eric Mezino, Mourad Merzouki, Caoki Said, dan Gilles Rondot itu terus bergerak dinamis dan variatif. Mereka mengusung tema Petites histoires.com, kenangan masa kecil. Tidak seperti hip hop di Amerika yang diiringi dentuman musik dari turntable yang dimainkan seorang discjockey (DJ), kelompok tari ini juga bisa atraktif dengan ilustrasi musik akordeon.

Bahkan, mereka menggabungkan tarian ini dengan break dance, gerakan akrobatik, serta pantomin. Cie Accrorap juga berani bermain-main dengan objek seperti, kursi, sepeda kecil roda tiga, bulu unggas, bahkan taplak meja. Benda-benda ini tak hanya dielaborasi maknanya, tapi juga dimaksimalkan sebagai unsur teatrikal yang bercerita. Hasilnya? Petites-histoires.com tak sekadar menjadi tarian yang menjadi tontonan. Dia juga menjadi jendela untuk menengok dunia masa kecil yang penuh kecerian dan kegembiraan.adiyanto/teguh nugroho/foto Wachyu AP

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta Minggu, 07 Juni 2009

Written by persinggahan

Juni 7, 2009 pada 10:1 am

Ditulis dalam Seni Budaya

Ditandai dengan , ,