Figur-Figur Kesepian
Lelaki itu berdiri termangu. Dari raut muka dan bahasa tubuhnya, jelas lelaki itu ragu dengan apa yang terhampar di depannya. Sebuah jalan panjang yang nyaris tak berujung. Jalan itu disusun menggunakan bata merah yang saling direkatkan satu sama lain menggunakan semen. Laki-laki peragu itu mungkin sedang berpikir, “Haruskah aku menempuh perjalanan ini? Atau tetap di sini, sendiri, berdiri, tak bergerak sama sekali.”
Lelaki itu berdiri termangu. Dari raut muka dan bahasa tubuhnya, jelas lelaki itu ragu dengan apa yang terhampar di depannya. Sebuah jalan panjang yang nyaris tak berujung. Jalan itu disusun menggunakan bata merah yang saling direkatkan satu sama lain menggunakan semen. Laki-laki peragu itu mungkin sedang berpikir, “Haruskah aku menempuh perjalanan ini? Atau tetap di sini, sendiri, berdiri, tak bergerak sama sekali.”
Standing, begitu Nurdian Ichsan memberi judul karyanya dalam pameran bertajuk Nowhere Man, 22 Mei – 5 Juni di hall Japan Foundation gedung Sumitmas Jakarta. Tak hanya dalam Standing, delapan karya lainnya yang dipajang dalam pameran itu menceritakan perihal yang sama. Figur manusia putih mengilap terbuat dari keramik, dan susunan bata merah yang seringkali dibentuk menjadi tembok atau lantai.
Dalam karya-karya Ichsan, bata merah kecil (1×3 cm) disusun dengan membiarkan warna aslinya tampil. Bagi Ichsan bata merah itu merupakan bagian dari sesuatu yang dekat dan akrab yang seringkali dimaknai sebagai penanda tingkat peradaban yang bahkan telah menjadi bagian dari keseharian manusia. Pendeknya, menurut Ichsan, bata merah adalah cermin upaya manusia untuk bertahan hidup dengan mengembangkan teknologinya. Sementara untuk figur manusianya, Ichsan menggunakan miniatur dirinya, termasuk badannya yang kerempeng dengan rambut ikalnya itu. Semacam potret diri.
Ichsan sudah mengerjakan bata-bata merah mini itu sejak empat tahun silam. Baru di awal tahun 2008, dia mulai menggabungkan bata-bata merah itu dengan figur manusia. Hasilnya, figur manusia di antara bata merah itu menghadirkan banyak aspek menarik. Posisi-posisi figur terhadap susunan-susunan bata itu tak tunggal, ada yang berdiri membelakangi, bergantung, bersandar, menghadap, atau bersujud mengesankan kesendirian yang pekat. Tak hanya itu, penempatan-penempatan figur yang bervariasi itu juga membuat imajinasi tentang tempat, skala, dan juga jarak menjadi relatif. Kadang mengembang, kadang juga mengerut.
Dalam Hanging misalnya, Ichsan mempigura “tembok bata” buatannya dengan sebuah bingkai kayu. Sementara figur manusia-nya dicantelkan begitu saja. Menggapai dan bingkai dan berusaha keras agar tak jatuh. Manusia ditubir peradabannya. Dalam karya lainya berbagai posisi figur itu memberi penggambaran yang berbeda, tertelengkup membujur di atas bidang bata itu atau jongkok memeluk lutut mirip orang frustasi. Tentu saja, karena figur itu jongkok di pinggir bata yang disusun menyerupai tembok, seolah mau bunuh diri.
Ichsan dalam tulisan pengantar pamerannya mengakui, figur-figur dalam karyanya memang seakan-akan tak memiliki intensi, tanpa tujuan, tidak ada ekspresi, kosong, atau bodoh. Bengong begitu Ichsan menyebut. “Saya kira demikianlah bila kita berusaha memahami keberadaan kita,” tambahnya.
Mungkin memang begitu, seperti lagu Nowhere Man milik The Beatles yang sayup-sayup di dengar Ichsan dalam perjalanan pulang dari Osaka menuju tempat residensinya di Shigaraki, pada suatu ketika.
He’s a real nowhere man,
Sitting in his nowhere land,
Making all his nowhere plans
For nobody.
Teguh nugroho/adiyanto/foto Wachyu AP
dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi Minggu, 31 Mei 2009
