Archive for Juni 2009
Aviliani
Minggu 28 Juni 2009
Moderator debat capres ini bercerita tentang kenapa dia masih independen, berpindahnya pilihan masyarakat setelah menonton debat, dan ketidakmatangan visi ekonomi para capres.
Pemilihan presiden kali ini disebut sebagai pertarungan para ekonom. Di balik visi para capres bertengger para ekonom, sehingga membuat pertarungan politik kali ini lebih menjual gagasan ekonomi. Para ekonom pun terpolarisasi dalam kubu persaingan. Tidak banyak ekonom yang bersikukuh independen, seperti Aviliani. Rekan-rekannya di INDEF terpecah, Dradjat Wibowo ke kubu Jusuf Kalla, sementara Didik J Rachbini ke kubu Megawati.
Dengan posisi netralnya itu, Aviliani kembali dipercaya memandu debat capres. Pada 2004 dia juga menjadi moderator pemaparan visi ekonomi capres. Aviliani percaya, meski acara debat capres itu hanya ditonton oleh kelas menengah, terutama di daerah perkotaan, tapi sangat mempengaruhi berpindahnya selera pemilih di kotak suara 9 Juli nanti.
Cinta Yang Bersepakat Dengan Takdirnya
Minggu, 28 Juni 2009
Takdir yang kejam berpesta mengalahkan para pencinta. Tinggal lah sang kakak meratap pedih
Cinta dan tragedi mirip dua sisi mata uang, menyatu sekaligus terpisah sama sekali. Di Eropa kita mengenal Romeo-Juliet karya Shakerspeare atau Nizhami dalam Khais-Layla di padang pasir Arab, dan kisah Roro Mendut-Pranacitra di Jawa. Adat, budaya, agama, atau apapun namanya seringkali menyerupai “baju” yang terlalu sempit bagi cinta. Namun, mereka yang berani berjuang untuk cinta- walau kemudian menjadi abu, terbingkai kisahnya, dituturkan abadi dari generasi ke generasi melintasi ruang dan waktu.
Mengadopsi dari sastra tutur Bugis berjudul Tolo pessena La Fadomai, sutradara sekaligus penulis naskah Andi Mariowawo Mochtar, kemudian mengemas cerita serupa menjadi drama klasik berjudul We Sangiang I Mangkawani yang dipentaskan 22-23 Juni di Gedung Kesenian Jakarta dalam rangka Jakarta Anniversary Festival VII 2009.
Pesona Yang Setengah Hati
Minggu, 28 Juni 2009
Sekelompok mahasiswa seni Bandung coba mengangkat pesona budaya Parahyangan. Namun sayang, keindahan pertunjukan seni tradisi itu minim apresiasi.
Pagelaran itu dibukan mirip dengan tontonan ronggeng di kampung-kampung, dengan pengrawit yang berbaris di belakang dan seorang seorang sinden yang duduk bersimpuh. Di depannya, lima lelaki berbaju merah mencolok langsung mendentumkan kendangnya begitu panggung dibuka. Masing-masing menghadap tiga kendang, satu kendang besar dan dua ketipung.
Suara gemuruh yang dinamis langsung menebar dari 15 kendang yang ditabuh bersamaan. Gerakannya kompak dan terlatih. Tak hanya menabuh, sesekali dalam posisi duduk bersila, mereka berlima berimprovisasi dalam cara menabuhnya. Saat gemuruh belasan kendang itu mereda, seorang penari –Nur Feti- bersimpuh di tengah panggung membelakangi penonton.
Baca entri selengkapnya »
Mimpi-Mimpi Para Badut
Minggu, 21 Juni 2009
Tak ada dandanan mencolok, tak ada lelucon slapstik, semua mengalir natural.
Dua seniman Prancis menggabungkan teater, kabaret, serta opera untuk menampilkan kelucuan-kelucuan yang segar dan orisinal. Tak sekadar mengundang tawa, tapi juga tafsir imaji para penonton.
Dua buah kardus besar bekas pembungkus kulkas tergeletak begitu saja, ketika panggung pelan-pelan terang disiram cahaya. Hanya kardus kosong? Tidak. Karena tiba-tiba kardus itu bergerak-gerak dan dari bagian atasnya yang terbuka sebuah balon besar warna biru terikat tali menerobos keluar.
Kemudian sebuah tangan terlihat dari kardus itu, lalu kepala menyembul, lantas utuh seluruh badan, berwujud seorang laki-laki berkacama, berjas hitam, dan berdasi. Pria itu tersenyum kepada penonton dan terheran-heran melihat kotak kardus di sebelahnya masih tetap diam.Tak diam sebetulnya, karena kotak itu mulai bergerak. Sama dengan kotak yang pertama. Sebuah balon dan seorang badut berwajah lucu keluar dari kardus itu.
Lelaki berjas, berdasi dan berkacamata itu Bernie Collins, dan yang berdandan ala badut adalah Philipe Martz. Wonderful World begitu mereka memberi judul pertunjukan yang ditampilkan Jumat (19/6) di Gedung Kesenian Jakarta. Sejak 17 tahun silam keduanya sudah tampil bersama dengan membentuk Cie BP Zoom yang menggabungkan teater, kabaret, dan opera untuk menampilkan kelucuan-kelucuan yang segar dan orisinal.
Dengung Yang Menjadi Jembatan Itu
Minggu, 21 Juni 2009
Sejak dulu kala manusia sudah mempelajari tentang misteri kehidupan. Benarkah ada dunia lain selain dunia yang mereka huni sekarang ? Jika ada, bagaimana caranya ke arah sana? Sejumlah ilmuwan bahkan telah meneliti tentang lompatan kuantum yang dapat memindahkan manusia dari satu dimensi ke dimensi lain. Tapi sayang, hasilnya nihil alias belum terwujud.
Obsesi itu baru sebatas direalisasikan dalam film-film atau cerita fiksi ilmiah. Salah satunya Sliders. Dalam serial televisi itu, ilmuwan Malory Quinn secara tak sengaja berhasil menciptakan sebuah alat mirip Einstein-Rosen Brigde (jembatan) yang bisa membawanya berkelana menjelajah ke dunia-dunia paralel lain. Di dunia yang lain itu tak jarang dia bertemu dengan dirinya yang menghuni dunia tersebut, walau wujud fisiknya sama persis tapi sifat dan kehidupannya ternyata sama sekali berbeda.
Perjalanan dari satu dunia ke dunia lain yang dilakukan oleh Quinn itu jugalah yang dialami Arian dalam lakon Frekwensi Frontal karya Teater SIM yang mentas 16-17 Juni di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Cerita diawali dengan setting panggung yang sederhana, satu set sofa berwarna hijau, beberapa kursi jengki, sebuah meja telepon, dan sebuah pintu di belakang sofa yang sekaligus digunakan sebagai akses keluar masuk pemain ke panggung. Pertunjukan selama hampir dua jam itu kemudian dibagi menjadi empat “dunia” yang berdiri sendiri.
Ikan, Perempuan, dan “Rampogan”
Dalam kanvas-kanvas itu realitas dipotret telanjang. Apa adanya dan tak ada yang ditutup-tutupi.
Bagai pendekar yang marah, Sri Warso Wahono yang vakum berpameran selama enam tahun kembali turun gunung. Dia pun menyapu kuasnya kesana-kemari, melontarkan segala kegelisahannya. Dan lihatlah, sebagian berwujud ikan, sepatu lars, dan tentara-tentara itu.
Waktu berkunjung ke Brasil tahun 1989 silam, seniman Sri Warso Wahono tertarik pada seekor ikan. Tentu saja bukan ikan biasa, karena itu adalah ikan purba yang telah menjadi fosil. Dia pun membelinya dan berniat membawa pulang ke Tanah Air sebagai oleh-oleh perjalanan. Sayang, saat melewati imigrasi dia baru sadar fosil ikan purba itu adalah benda cagar budaya dan tak boleh dibawa keluar Brasil. Kecewa? Tentu saja. Entah apa menariknya ikan itu bagi Sri Warso, tapi nyatanya sejak saat itu dia terobsesi pada figur ikan.
Lihat saja dalam pameran tunggalnya yang ke-15 yang digelar 4-12 Juni di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jakarta. Di situ, ikan-ikan karya Warso digelar. Dari total 58 karya yang dipamerkan, setidaknya ada 24 kanvasnya yang khusus bercerita tentang ikan. Sri Warso yang absen berpameran selama enam tahun masih memiliki ketajaman intuisinya untuk “menghidupkan” ikan-ikan itu.
