Archive for April 2007
Merapi
Di keremangan malam jum’at kliwon. Menghadapi segelas wedang ronde plus jagung bakar dan kemelun rokok klobot cap tingwe. Aku menggelar tikar menghadapi lembah kali kuning, yang ekornya memanjang menembus hingga ke kaliurang, sorga dari segala sorga kepelacuran itu.
Ditengah kekosongan dan kebolongan jagad gumelar, aku menggelar tikar untuk golekanĀ dibenam rintikan embun. “Bangun Maridjan! Bangun!!” suara tanpa rupa itu menggelegar mengagetkanku.
Aku tergeragap hingga meloncat dan menggigil, “Sopo iku !!!” teriakanku menggema menelusuri lembah mengalahkan suara jangkerik dan kodok.
“Aku mbah Petruk, ada pesan yang akan aku sampaikan padamu Maridjan”. Gigilku semakin kecang setelah tahu milik siapa suara tanpa rupa itu, ya … mbah Petruk. Di seantero Merapi ini siapa yang tak kenal Mbah Petruk sang mbaurekso Merapi.
tuhantuan
tuantuhanhantu
tuanhantutuhan
tuhantuanhantu
tuhanhantutuan
hantutuantuhan
hantutuhantuan
mencari tuhan
kau mencari-Ku?
kenapa nggak sms dulu bodoh!!
(sambil membetulkan celananya yang melorot sampai ke lutut)
jiangkriiik!!
Tangi turu jam sewelas awan. Blaik !! Srengengene wis duwur, pas mbun-mbunan, dlunnyur ngono wae, ra sabar ngeteni tangiku. Munyuukk !! kok iso kerinan ‘ki piye nyuk-nyuuk. Padahal janji ketemu karo wong jam setengah rolas. Walah ngalamat adil makmur ‘ki tanah air!
Pecicilan mencolot kamar mandi. Kemu thok wae, rasah sikatan. Tangan diathong’ke ngarep congor, haah.. abab mambu pete disebul. Biyung.. biyung, mambu bathang!!Kemu ‘ra sikatan batal. Sruk-usruk-usruk sikat, campur odol, campur banyu, campur iler. Tes abab neh. Haaah, lumayan. “Pel !! Ojeeek…!” celono jin bluwek, kaos kumel, sepatu mambu dadi andalan. Yes!! Siap tempur.”
senter
Sekian lama hidup tanpa cahaya dan larut dalam kegelapan yang pekat. Hari ini entah malaikat mana yang membisikan tiba-tiba aku ingin bersujud dan berdoa padaMu.
“Tuhan berikan cahayamu dan tuntunlah jiwa lemah ini menuju jalanmu. Terangi kegelapanku dan tunjukankan padaku haq adalah haq dan bathil adalah bathil. Ya, Tuhan aku lelah dan berikan sinarmu…”
Sebuah suara terdengar menukas ketus, “Aku Tuhan. Bukan senter, bodoh!” ujarnya sambil berlalu.
tuhanmu
Seorang badui arab, mampir di kuil Dzu al Khalashahz meminta restu kepada dewanya, ketika memutuskan hendak menuntut balas terhadap pembunuh ayahnya. Dilepaskanya anak panahnya, mungkin sedang sial, semua anak panahnya mengenai kata “terlarang” tiga kali berturut-turut. Sambil melempar panahya yang telah patah ke arah wajah “dewa”nya itu, ia mengumpat, “Terkutuklah engkau! Jika ayahmu yang terbunuh kamu pasti tidak melarangku untuk membalas dendam”
Tuhan si badui dalam cerita itu terasa begitu akrab, intim dan bersahabat. Seperti sepasang pengantin, sesekali cemberut, manyun tetapi selebihnya hanyalah pengertian yang mendalam. Ya, mereka begitu akrab dengan tuhannya karena tuhan adalah keseharian mereka.
Bagaimana dengan tuhan kita? Tadinya tuhan kita adalah pohon-pohon dan bebatuan, berhubung pepohonan banyak ditebang untuk rumah dan bebatuan dibuat candi belasan abad silam kita terpaksa mengimpor tuhan dari India. Tuhannya brahmana dan para kesatria. Cukup, belumlah. Karena tuhan-tuhan itu lebih senang berkelahi satu sama lainnya.
So, kita mesti impor lagi tuhan baru dari gurun arab di pertengahan milenium ini. Wuih… ternyata tuhan ini pun masih suka berantem dan main larang ini-itu.Udah ah capek, tuhan-tuhan itu bawaannya ribut mulu.
Kubuka dompetku, Anjriiiiiiitttttttt tak kulihat tuhanmu disana.
