Larung
Bosanku hidup di sini, sebuah negeri senja, uzur dan penuh penyakit. Negeri yang dirapuhkan oleh compang-campingnya kemarahan dan selalu tak pernah merasa puas oleh apinya. Negeri yang selalu terkutuk dan dikutuk oleh pengabaian rajanya.
Sering kali aku memilih merenggutkan diri dan meloncat turun dari gendongan bunda. Mencoba memanggulmu dipundak dan memilih berhenti menyapaMu. Aku juga bosan menyapa terbitnya matahari yang rutin dan membosankan. Matahari di negeri sekarat seperti ini tetaplah berpihak pada penguasa.
Aku selalu minta maaf sepenuh hati pada-Mu, karena mimpi-mimpi kita mesti terpisah disimpang jalan yang membingungkan. Aku selalu minta maaf membayangkan Kau berdiri menyambutku setiap matahari terik diatas gugusan pulau-pulau.
Menebar darah dan melarungnya sekaligus, bersama sakit hatiNya.
Aku merindu nerakaku, karena setidaknya disana iblisnya tak perlu sembunyi-sembunyi.
