Archive for Maret 13th, 2007
Senja Semampai
Cerita Senja
Bersama hari yang mulai menghitam di langitnya, gadis berusia awal dua puluh tahun itupun beranjak mengemasi dagangannya. Satu-persatu kainnya dilipat pelan, kaos ditumpuk dengan kaos, baju dengan baju, celana dengan celana dan sprei dengan sprei. Setelah terlihat rapi, sebuah taplak meja bercorak bathik menyatukannya. Cara yang sudah diingatnya ratusan kali. Taplak meja di gelar dan kain-kain menyusul diatasnya. Ujung taplak disatukan diikat dan disimpul mati. Begitu memang dan hanya begitu, ratusan kali di lakukan menjelang tutup dasaran.
Di tuntunnya sebuah sepeda pancal yang nyaris seumuran dengannya keluar dari parkiran. Sepeda pancal yang ngenes, bannya yang gundul, catnya yang mengelupas di sana-sini, baut remnya yang lepas, pedhalnya yang kalau digenjot -mengeluarkan paduan suara ratusan burung emprit-.
Keranda Kereta
Gaya Baru Malam menderu membelah dingin, melewati satu demi satu persinggahan tetapi masih tetap terlambat datang dimana-mana. Dengusnya terengah terberati beban disepanjang gerbongnya. Bayangkan !!. Sepuluh gerbong. Gerbong-gerbong yang hidup dalam kehidupannya sendiri. Beberapa berisi cinta, beberapa berisi pedih, beberapa berisi tangis yang tertahan dan beberapa lainnya adalah potret yang sepi. Ribuan cinta dalam gerbong dibawa berlari, ribuan caci maki dalam gerbong dibekap angin, ribuan warna-warni dipelangikan, bahkan yang lebih jelas ribuan sedih dalam gerbong dibawa mati.
Dalam gerbong yang melaju cepat aku masih saja terpekur, bertanya-tanya akan wajah-wajah yang melintas cepat. Mengutuk panjang pendeknya nasib dan keberanian yang nyaris tak berarti apapun. Perjalanan ini seperti kesepian yang tak pernah dimengerti bahkan oleh nasib sekalipun, nasib yang dengan caranya sendiri memilih tak pernah berkompromi.
(Walau begitu bukan berarti aku tak pernah merayunya, seringkali bahkan aku membujuknya dengan membawakan sang nasib sebuah permen manis atau sekedar coklat yang diam-diam kusisipkan ditangannya ketika bersalaman. Kadang sesekali kutemui wajahnya dalam bentuknya yang paling tulus, senyum sabar di setiap perempatan-perempatan, terminal-terminal serta stasiun-stasiun yang bising. Tetapi di tanah yang congkak ini, wajahnya lebih sering menampilkan teriakan ketakutan, jerit sedih dan tawa kematian, bahkan oleh sebab-sebab yang paling sepele sekalipun)
Mono-Lho-Kok?
Suatu hari kamu pernah mengatakan sesuatu yang kedengarannya seperti bunyi lafal Monolog atau Monolock atau bahkan Mono Lho Kok, lok pakai ge atau lok pakai ck bagiku nyaris tak ada bedanya dan nggak penting banget. Tetapi ada sesuatu yang langsung kuingat ketika kau menyebutkan lafal itu.
Ya.. aku langsung teringat Dialognya (pakai g) Plato. Termasuk didalamnya Apology dan Crito-nya, keduanya mengisahkan tentang peradilan gurunya, Sokrates dan pembicaraan-pembicaraan terakhirnya sebelum di eksekusi minum racun. Sementara dalam Phaedo, Plato memusatkan obrolannya tentang “Idea of the Good”.
Kenapa aku tiba-tiba, tanpa angin tanpa hujan mengajakmu bercerita tentang “Idea of the Good”? Tak ada penjelasan siy, selain aku ingin kamu berpikir ulang tentang Idea of the Good ini dan apa saja yang bisa dihasilkan olehnya.
