P E R S I N G G A H A N

Sosialisme: Utopis dan Ilmiah Engels 1880

Surat Edaran Marx dan Engels


Mula-mula diterbitkan dalam edisi Inggris dari tulisan Engels Socialism: Utopian and Scientific (Sosialisme: Utopis dan Ilmiah) yang terbit di London dalam tahun 1892.

Dicetak bersamaan waktu di Jerman dalam majalah Neue Zeit untuk 1892-1893.

Dicetak menurut naskah edisi Inggris tahun 1892. Ditulis dalam bahasa Inggris.


Introduksi Khusus Pada Edisi Inggris Tahun 1892

Buku kecil ini, semula, adalah sebagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Kira-kira pada tahun 1875, Dr. E. Dühring, privatdocent[1] pada Universitas Berlin, sekonyong-konyong dan dengan agak ramai-ramai mengumumkan pembalikannya kepada Sosialisme, dan menjadikan kepada khalayak-ramai Jerman tidak hanya suatu teori sosialis yang teliti-rapi, tetapi juga suatu rencana praktis yang lengkap untuk mereorganisasi masyarakat. Sudah barang tentu, dia menyerang pendahulu-pendahulunya; di atas segala-galanya dia menghormati Marx dengan melampiaskan kemarahannya kepadanya.

Hal ini terjadi kira-kira pada waktu kedua seksi dari Partai Sosialis di Jerman – kaum Eisenacher dan kaum Lasallean[2] – baru saja melaksanakan fusi mereka dan dengan begitu tidak hanya mendapat penambahan kekuatan yang sangat besar tetapi, bahkan, kemampuan untuk mempergunakan seluruh kekuatan ini terhadap musuh bersama. Partai Sosialis di Jerman cepat menjadi suatu kekuatan. Tetapi untuk menjadikannya suatu kekuatan, syarat pertama ialah bahwa persatuan yang baru direbut itu jangan dibahayakan. Dan Dr. Dühring dengan terang-terangan terus membentuk di sekitarnya sendiri suatu sekte, inti bakal Partai yang tersendiri. Dengan begitu perlulah menerima tantangan yang diajukan kepada kita, dan melakukan perjuangan apakah kita suka atau tidak.

Akan tetapi hal ini, meskipun mungkin bukan suatu pekerjaan yang terlalu sukar, namun terang sekali suatu pekerjaan yang berlarut-larut. Sebagaimana diketahui, kami orang-orang Jerman adalah orang-orang yang mempunyai sifat Grünlichkeit (ketelitian) yang sangat lembam, kedalaman yang radikal atau keradikalan yang mendalam, apa saja orang mungkin mau menamakannya. Bilamanapun seseorang dari kami menguraikan apa yang dia anggap ajaran baru, dia pertama-tama harus mengerjakannya dengan teliti menjadi suatu sistem yang meliputi segala-galanya. Ia harus membuktikan bahwa baik prinsip-prinsip pertama dari logika maupun hukum-hukum fundamentil dari alam-dunia telah ada untuk selama-lamanya dengan maksud tiada lain daripada untuk pada akhirnya menuju ke teori yang memahkotai, yang baru ditemukan ini. Dan Dr. Dühring, dalam hal ini, memenuhi sekali tuntutan nasional itu. Tiada kurang daripada sebuah buku “Sistem Filsafat” yang lengkap, mental, moral, alam dan sejarah; sebuah buku “Sistem Ekonomi Politik dan Sosialisme” yang lengkap: dan, akhirnya, “Sejarah Kritis dari Ekonomi Politik” – tiga jilid besar dalam oktavo, berat dalam bentuk dan isi, tiga korps-tentara argumen-argumen yang dimobilisasi untuk melawan semua ahli filsafat dan ahli ekonomi terdahulu pada umumnya, dan untuk melawan Marx pada khususnya – sebenarnya suatu percobaan untuk mengadakan suatu “revolusi dalam ilmu” yang sempurna – hal-hal inilah yang harus saya tandangi. Saya harus membicarakan semua dan setiap pokok pembicaraan yang mungkin, dari konsepsi-konsepsi tentang waktu dan ruang sampai pada Bimetallisme (sistem penggunaan dua logam – emas dan perak – sebagai standar nilai uang, Red. JP); dari keabadian materi dan gerak sampai pada sifat fana dari ide-ide moril; dari seleksi alamiah Darwin sampai pada pendidikan pemuda dalam masyarakat masa depan. Bagaimana juga, keluasan yang sistematis dari lawan saja memberikan kesempatan kepada saya untuk mengembangkan, dalam melawan dia, dan dalam bentuk yang lebih berangkaian daripada yang telah dilakukan sebelumnya, pandangan-pandangan yang dipertahankan oleh Marx dan saya sendiri mengenai soal-soal yang sangat aneka warna ini. Dan itulah alasan pokok yang memaksa saya memikul tugas yang dalam hal lain tak tahu terimakasih ini.

Jawaban saya mula-mula diterbitkan dalam suatu seri artikel dalam “Vorwärts” Leipzig, organ utama Partai Sosialis,[3] dan kemudian sebagai buku: “Herrn Eugen Dührings Umwälzung der Wissenschaft” (”Revolusi dalam Ilmu” dari Tuan E. Dühring), yang edisinya yang kedua terbit di Zürich, 1886.

Atas permintaan teman saya, Paul Lafargue, sekarang wakil Lille dalam Dewan Perwakilan Perancis, saya susun tiga bab dari buku itu sebagai brosur, yang dia terjemahkan dan terbitkan dalam tahun 1880 dengan judul: “Socialisme utopique et Socialisme scientifique” (Sosialisme utopis dan Sosialisme Ilmiah). Dari naskah bahasa Perancis ini disiapkan edisi Polandia dan Spanyol. Dalam tahun 1883, teman-teman Jerman kita mengeluarkan brosur itu dalam bahasa aslinya. Sejak itu diterbitkan terjemahan Italia, Rusia, Denmark, Belanda dan Rumania, berdasarkan naskah Jerman. Dengan begitu, dengan edisi Inggris ini, buku kecil ini beredar dalam sepuluh bahasa. Setahu saya tak ada sesuatu karya sosialis lainnya, bahkan “Manifes Komunis” kami tahun 1848 atau “Kapital” Marx sekalipun, yang telah begitu sering diterjemahkan. Di Jerman telah ada empat edisi dari kira-kira 20.000 eksemplar seluruhnya.

Lampiran “Mark”,[4] ditulis dengan maksud untuk menyebarkan di kalangan Partai Sosialis Jerman sesuatu pengetahuan elementer tentang sejarah dan perkembangan milik tanah di Jerman. Hal ini kiranya lebih-lebih perlu pada waktu ketika asimilasi Rakyat pekerja di kota-kota oleh partai itu mendekati selesai dan ketika kaum buruh pertanian dan kaum tani harus digarap. Lampiran ini dimasukkan ke dalam terjemahan, karena bentuk-bentuk asli dari hak milik tanah yang umum bagi semua suku Teuton, dan sejarah kelapukan mereka lebih kurang dikenal lagi di Inggris daripada di Jerman. Saya biarkan teks itu sebagaimana adanya dalam aslinya, tanpa menyinggung-nyinggung hipotese yang baru-baru ini dimulai oleh Maxim Kowalevski, yang menurut hipotese itu pembagian tanah-tanah garapan dan padang-rumput di kalangan anggota-anggota Mark didahului oleh penggarapan tanah-tanah itu atas tanggungan bersama oleh persekutuan hidup keluarga patriarkal yang besar yang merangkum beberapa generasi (seperti yang dipercontohkan oleh Zadruga Slavonia Selatan yang masih ada), dan bahwa pembagian itu kemudian berlangsung ketika persekutuan hidup telah menjadi besar, sehingga menjadi terlalu kikuk bagi pengurusan atas tanggungan bersama. Kowalevski mungkin benar sekali, tetapi soalnya masih sub judice.[5]

Istilah-istilah ekonomi yang dipergunakan dalam karya ini, sebegitu jauh masih baru, adalah sesuai dengan istilah-istilah yang dipergunakan dalam Kapital Marx edisi Inggris. Kita namakan “produksi barang dagangan” fase ekonomi di mana barang-barang dihasilkan tidak hanya untuk dipergunakan kaum produsen, tetapi juga untuk maksud-maksud pertukaran; yaitu, sebagai barang dagangan, bukan sebagai nilai-nilai pakai. Fase ini merentang dari mula-pertama produksi untuk pertukaran sampai pada zaman kita sekarang; ia mencapai perkembangannya yang sepenuhnya hanya di bawah produks kapitalis, yaitu di bawah syarat-syarat di mana kapitalis, pemilik alat-alat produksi, mempekerjakan, dengan upah, kaum buruh, orang-orang yang terampas segala alat produksinya kecuali tenaga-kerja mereka sendiri, dan mengantongi kelebihan harga penjualan barang-barang-hasil di atas pengeluarannya. Kita bagi sejarah produksi industri sejak Abad Pertengahan menjadi tiga periode: (1) kerajinan tangan, tukang-tukang ahli kecil dengan beberapa tukang-pembantu dan magang di mana setiap buruh menghasilkan barang jadi; (2) manufaktur, di mana jumlah pekerja yang lebih besar berkumpul dalam satu bangunan besar, menghasilkan barang jadi berdasarkan prinsip pembagian kerja, masing-masing pekerja melakukan hanya satu bagian pekerjaan, sehingga barang-hasil itu selesai baru sesudah berturut-turut melalui tangan semuanya; (3) industri modern, di mana barang-hasil dihasilkan dengan mesin-mesin yang dijalankan oleh tenaga listrik dan di mana kerja si buruh terbatas pada mengawasi serta membetulkan kerjanya alat mesin.

Saya tahu betul bahwa isi karya ini akan menemui keberatan-keberatan dari sebagian besar publik Inggris. Tetapi jika kami orang-orang Kontinen sedikit saja memperhatikan prasangka-prasangka “kaum terhormat” Inggris, kami lebih jelek lagi keadaannya daripada kami sekarang. Buku ini membela apa yang kami namakan “materialisme histori” dan perkataan materialisme menyakitkan telinga mayoritet yang sangat besar dari para pembaca Inggris. “Agnostisisme”[6] bisa dibiarkan, tetapi materialisme sama sekali tak dapat diterima.

Tapi toh tanah air asli dari segala materialisme modern, dari abad ke-17 seterusnya, adalah Inggris.

“Materialisme” adalah anak kandung Inggris Raya. Sudah sejak skolastikus (ahli filsafat abad pertengahan) Inggris, Duns Scotus, bertanya ‘apakah tidak mungkin bagi materi untuk berpikir?’

Untuk melaksanakan keajaiban ini, ia berlindung kepada kemahakuasaan Tuhan, yaitu, ia menyuruh teologi (ilmu ke-Tuhanan) mengkhotbahkan materialisme. Lagipula ia adalah seorang nominalis. Nominalisme,[7] bentuk pertama materialisme, terutama terdapat di kalangan para skolastikus Inggris.

Datuk yang sebenarnya dari materialisme Inggris adalah Bacon. Baginya filsafat alam adalah satu-satunya filsafat yang benar dan ilmu fisika yang berdasarkan pengalaman pancaindera adalah bagian yang terpenting dari filsafat alam. Anaxagoras dengan homoiomeriaenya, Democritus dengan atomnya, sering dikutipnya sebagai sumber-sumbernya. Menurut dia pancaindera tak dapat salah dan sumber dari segala pengetahuan. Semua ilmu adalah berdasarkan pengalaman dan berupa penerapan metode penyelidikan yang rasionil pada bahan-bahan yang diberikan oleh pancaindera. Induksi, analisa, pembandingan, pengamatan, eksperimen, adalah bentuk-bentuk pokok dari metode rasionil sedemikian itu. Di antara sifat-sifat yang terkandung dalam materi, gerak adalah yang pertama dan terutama, tidak hanya dalam bentuk gerak mekanis dan matematis, tetapi terutama dalam bentuk suatu impulsi (dorongan), semangat-hidup, ketegangan – atau ‘qual’, menggunakan istilah Jakob Böhme[8] – dari materi.

Pada Bacon, penciptanya yang pertama, materialisme masih menutupi di dalam dirinya benih-benih perkembangan yang banyak-segi. Di satu pihak, materi, yang dikelilingi oleh kilauan kepancainderaan yang puitis, nampaknya menarik seluruh kesatuan manusia dengan senyum yang menambat hati. Di lain pihak, ajaran yang dirumuskan secara aforis (bersifat pepatah) itu digerumuti dengan ketidakkonsekuenan-ketidakkonsekuenan yang diimpor dari teologi.

Dalam evolusinya lebih lanjut materialisme menjadi berat sebelah. Hobbes-lah orang yang mensistematiskan materialisme Bacon. Pengetahuan yang berdasarkan pancaindera kehilangan bunga puitisnya, ia menjadi pengalaman yang abstrak dari seorang matematikus; geometri diproklamasikan sebagai ratu ilmu. Materialisme mulai suka pada misantropi (kebencian kepada manusia – Red. JP). Jika ia hendak mengatasi lawannya, spiritualisme tak berdaging yang misantropis, dan itu di tanah lawannya sendiri, materialisme harus mendera badannya sendiri dan menjadi pertapa. Dengan demikian, dari keadaan sensuil ia menjadi keadaan intelektuil; tetapi dengan demikian pula ia mengembangkan segala kekonsekuenan, dengan tak mempedulikan konsekuensi-konsekuensi, yang khas bagi intelek.

Hobbes, sebagai penerus Bacon, berdalil demikian: jika semua pengetahuan manusia diberikan oleh pancaindera, maka konsepsi-konsepsi dan ide-ide kita hanyalah maya (khayalan), yang terlepas dari bentuk-bentuk sensuilnya, dari dunia nyata. Filsafat hanya dapat memberikan nama-nama kepada maya-maya ini. Satu nama dapat dipakai untuk lebih daripada satu diantaranya. Bahkan mungkin ada nama-nama dari nama-nama. Ini akan berarti suatu kontradiksi jika, di satu pihak, kita mempertahankan bahwa semua ide berasal dari dunia sensasi dan, di pihak lain, bahwa sepatah kata adalah lebih daripada sepatah kata; bahwa di samping keadaan-keadaan yang kita kenal dengan pancaindera kita, keadaan-keadaan yang adalah satu dan semua individu, ada juga keadaan-keadaan yang bersifat umum, tidak bersifat individuil. Suatu substansi yang tak berbadan adalah sama tidak masukakalnya seperti badan yang tidak berbadan. Badan, keadaan, substansi, hanyalah istilah-istilah yang berbeda-beda untuk realitet yang sama. Tidaklah mungkin memisahkan pikiran dari materi yang berpikir. Materi ini adalah alas dari segala perubahan yang berlaku di dunia. Kata tak terbatas tak berarti, kalau ia tidak menyatakan bahwa pikiran kita sanggup melakukan proses penambahan yang tiada akhirnya. Karena hanya hal ihwal-hal ihwal materiil yang dapat kita persepsikan, maka kita tidak dapat mengetahui sesuatu pun tentang adanya Tuhan. Hanya adanya saja sendirilah yang pasti. Setiap nafsu manusia adalah gerakan mekanis yang mempunyai awal dan akhir. Obyek-obyek dorongan-hati adalah apa yang kita namakan baik. Manusia tunduk kepada hukum-hukum yang sama seperti alam. Kekuasaan dan kemerdekaan adalah identik.

Hobbes telah mensistematiskan Bacon, akan tetapi tanpa memberikan suatu bukti kepada prinsip fundamentil Bacon, bahwa sumber semua pengetahuan manusia itu adalah dunia sensasi. Locke-lah yang dalam tulisannya ‘Essai tentang Pengertian Manusia’ memberikan bukti ini.

Hobbes telah menghancurkan prasangka-prasangka teistis[9] dari materialisme Bacon; Collins, Dodwell, Coward, Hartley, Priestley juga menghancurkan rintangan-rintangan teologi yang terakhir yang masih mengepung sensasionalisme Locke. Biar bagaimana juga, bagi kaum materialis praktis, Deisme[10] hanyalah jalan yang gampang-gampangan untuk melepaskan diri dari agama.”[11]

Demikianlah Karl Marx menulis tentang asal-usul materialisme modern Inggris. Jika orang-orang Inggris sekarang ini – justru tidak menikmati komplimen (pujian) yang dia berikan kepada leluhur mereka, lebih-lebih lagi sayangnya. Biarpun demikian tidaklah dapat dipungkiri bahwa Bacon, Hobbes dan Locke adalah bapak-bapak mazhab yang gemilang dari kaum materialis Perancis yang membuat abad ke-18, kendatipun segala pertempuran di darat dan di laut di mana orang-orang Perancis dikalahkan oleh orang-orang Jerman dan Inggris, suatu abad Perancis yang unggul, bahkan sebelum Revolusi Perancis yang memahkotai itu, yang dengan hasil-hasilnya itu kita orang-orang luar, baik di Inggris maupun di Jerman, masih mencoba membiasakan diri.

Ini tak dapat disangkal. Kira-kira pertengahan abad ini, yang menyolok bagi setiap orang asing beradab yang menetap tinggal di Inggris, ialah apa yang dia pada waktu itu pasti anggap kegila-gilaan keagamaan dan kebodohan dari kelas-tengah Inggris yang patut dihormati itu. Kita semua pada waktu itu adalah kaum materialis atau, sekurang-kurangnya, kaum vrij-denker yang sangat maju dan bagi kita rasanya tak terbayangkan bahwasanya hampir semua orang yang terpelajar di Inggris masih percaya kepada segala macam keajaiban yang mustahil dan bahkan geologis-geologis seperti Buckland dan Mantell memutarbalikkan fakta-fakta ilmu mereka agar supaya tidak begitu banyak bentrok dengan mithe-mithe dari kita Genesis (Kitab Kejadian); sedang, untuk menemukan orang-orang yang berani menggunakan bakat-bakat intelek mereka sendiri mengenai soal-soal keagamaan, orang harus pergi ke kalangan kaum tak terpelajar, “bagian besar yang belum dicuci”, sebagaimana mereka dinamakan pada waktu itu, Rakyat pekerja, terutama kaum sosialis Owenis.

Tetapi sejak itu Inggris telah “diperadabkan”. Pameran tahun 1851 membunyikan lonceng kematian bagi keeksklusifan secara insuler dari Inggris. Inggris secara berangsur-angsur menjadi diinternasionalisasi, dalam makanan, dalam tata cara, dalam ide-ide, sedemikian banyaknya sehingga saya mulai mengharap bahwa beberapa tata cara dan kebiasaan Inggris membuat begitu banyak kemajuan di Kontinen seperti halnya kebiasaan-kebiasaan Kontinen lainnya di sini. Bagaimanapun juga, masuk dan tersebarnya minyak-selada (sebelum tahun 1851 hanya dikenal oleh kaum ningrat) telah diikuti oleh perluasan yang fatal dari skeptisisme Kontinen dalam soal-soal keagamaan, dan telah sampai sebegitu jauh, bahwa agnostisisme, meskipun belum dianggap sebagai “sesuatu” yang sebegitu rupa seperti Gereja Inggris, namun telah hampir setaraf dengan Baptisme, sebegitu jauh mengenai kehormatan, dan pasti menduduki tempat di atas Bala-Keselamatan. Dan saya harus percaya bahwa di bawah keadaan demikian ini akan terhibur banyak orang yang dengan tulus menyesali dan menghukum kemajuan dari ketidakpercayaan ini mendengar bahwa “gagasan-gagasan model baru” ini tidak berasal dari luar negeri, bukan “dibikin di Jerman”, seperti begitu banyak barang-barang keperluan sehari-hari lainnya, tetapi tidak ragu-ragu dari Inggris Lama, dan bahwa pencipta-pencipta Inggris mereka itu dua ratus tahun yang lalu telah lebih jauh daripada yang berani dilakukan oleh anak cucu mereka sekarang.

Apakah, sesungguhnya, agnostisisme itu kecuali, menggunakan istilah Lancashire yang ekspresif, materialisme yang “kemalu-maluan”? Konsepsi agnostikus tentang Alam adalah seluruhnya materialis. Seluruh dunia alam dikuasai oleh hukum dan sama sekali menutup kemungkinan campur tangan aksi dari luar. Tetapi, ia menambahkan, kita tidak mempunyai alat baik untuk memastikan maupun untuk menyangkal adanya sesuatu Yang Maha kuasa di luar alam-dunia yang telah dikenal. Baiklah, ini mungkin benar pada waktu itu ketika Laplace, atas pertanyaan Napoleon, mengapa dalam buku ahli ilmu perbintangan Mécanique céleste[12] yang besar itu sama sekali tidak disebut-sebut Pencipta, dengan angkuh menjawab: “Je n’avais pas besoin de cette hypothèse.”[13] Tetapi dewasa ini, dalam konsepsi evolusioner kita tentang alam-dunia, sama sekali tidak ada tempat baik bagi seorang Pencipta maupun seorang Penguasa; dan berbicara tentang Yang Maha kuasa yang terasing dari seluruh dunia yang ada, berarti suatu kontradiksi dalam istilah-istilah dan, sebagaimana tampaknya bagi saya, suatu penghinaan yang tak beralasan terhadap perasaan-perasaan orang-orang yang beragama.

Lagi, agnostikus kita itu mengakui bahwa segala pengetahuan kita berdasarkan informasi yang diberikan kepada kita oleh pancaindera kita. Tetapi, ia menambahkan, bagaimana kita tahu bahwa pancaindera kita memberikan kepada kita gambaran yang tepat dari benda-benda yang kita persepsi melalui pancaindera itu? Dan dia meneruskan memberitahukan kepada kita bahwa, kapan saja ia berbicara tentang benda-benda atau kualitet-kualitetnya, pada hakikatnya ia tidak memaksudkan benda-benda dan kualitet-kualitet ini, yang tidak dapat ia ketahui sesuatunya dengan pasti, tetapi hanyalah kesan-kesan yang telah mereka timbulkan pada pancainderanya. Baiklah, garis pendalilan ini niscaya rasanya sukar dikalahkan hanya dengan argumentasi belaka. Tetapi sebelum ada argumentasi sudah ada aksi. Im Anƒang war die Tat.[14] Dan tindakan manusia telah memecahkan kesukaran itu jauh sebelum kecerdikan manusia menemukannya. Pengecapan puding adalah ketika dimakan. Dari saat kita mengubah benda-benda ini untuk kita pergunakan sendiri, menurut kualitet-kualitet yang kita persepsi pada benda-benda itu, maka kita mengadakan ujian yang pasti akan kebenaran atau kesalahan persepsi pancaindera kita. Jika persepsi-persepsi ini salah, maka penilaian kita mengenai kegunaan untuk mana suatu benda bisa diubah mesti salah pula, dan percobaan kita mesti gagal. Tetapi jika kita berhasil mencapai tujuan kita, jika kita dapati bahwa benda itu betul sesuai dengan ide kita tentang benda tersebut, dan betul menjawab maksud yang kita kehendaki, maka itulah bukti yang positif bahwa persepsi kita tentang dia dan tentang kualitet-kualitetnya, sejauh itu, sesuai dengan kenyataan di luar kita sendiri. Dan kapanpun kita mendapatkan diri kita berhadapan dengan kegagalan, maka pada umumnya kita tidak lama-lama menemukan sebab yang membikin kita gagal; kita dapati bahwa persepsi di atas dasar mana kita bertindak atau tidak lengkap dan dangkal, atau dikombinasikan dengan hasil-hasil persepsi-persepsi lain dengan cara yang tidak mereka benarkan – apa yang kita namakan pemikiran yang tidak sempurna. Selama kita berhati-hati melatih dan menggunakan pancaindera kita sebagaimana mestinya dan menjaga tindakan kita di dalam batas-batas yang ditetapkan oleh persepsi-persepsi yang dibuat dan dipergunakan sebagaimana mestinya, maka selama itu akan kita dapat bahwa hasil tindakan kita membuktikan persesuaian persepsi-persepsi kita dengan sifat obyektif dari hal ihwal-hal ihwal yang dipersepsi. Selama ini, tidak dalam satu hal pun kita telah terbawa kepada kesimpulan bahwa persepsi-persepsi pancaindera kita, yang terkontrol secara ilmiah, menimbulkan dalam pikiran kita ide-ide mengenai dunia luar yang, karena sifat mereka sendiri, berlawanan dengan kenyataan, atau bahwa ada pertentangan yang bersenyawa antara dunia luar dengan persepsi-persepsi pancaindera kita mengenainya.

Tetapi lalu datang kaum agnostikus neo-Kantian dan berkata: Kita mungkin mengamati dengan benar kualitet-kualitet suatu benda, tetapi kita tidak dapat dengan sesuatu proses kepancainderaan atau proses mental memahami benda-dalam-dirinya sendiri. “Benda-dalam-dirinya sendiri” ini adalah di luar daya-tangkap kita. Terhadap ini Hegel sudah sejak lama telah menjawab: Jika orang mengenal semua kualitet sesuatu benda, maka orang itu mengenal benda itu sendiri; tiada yang tinggal kecuali kenyataan bahwa benda tersebut ada di luar kita; dan apabila pancaindera orang telah mengajarkan kepadanya tentang kenyataan itu, maka dia telah memahami sisa terakhir dari benda-dalam-dirinya sendiri, Ding an sich yang tak dapat diketahui yang terkenal dari Kant. Kepadanya dapat ditambahkan bahwa di masa Kant pengetahuan kita tentang benda-benda alam memang begitu fragmentaris (sepotong-potong) sehingga dia mungkin menyangka, di belakang yang sedikit kita ketahui tentang masing-masingnya, ada suatu “benda-dalam-dirinya sendiri” yang rahasia. Tetapi satu demi satu benda-benda yang tidak dapat dipahami itu telah dipahami, dianalisa dan, bahkan, direproduksi oleh kemajuan raksasa ilmu; dan apa yang dapat kita hasilkan tentu saja tidak dapat kita anggap sebagai tidak dapat diketahui. Bagi ilmu kimia pada pertengahan pertama abad ini zat-zat organik merupakan benda-benda yang begitu rahasia; sekarang kita belajar untuk membangun mereka satu demi satu dari elemen-elemen kimianya tanpa bantuan proses-proses organik. Ahli-ahli kimia modern menyatakan bahwa segera sesudah dikenal susunan secara kimia tak peduli dari benda apapun, ia dapat dibangun dari elemen-elemennya. Kita masih jauh dari mengetahui susunan zat-zat organik yang tertinggi, benda-benda yang mengandung zat telur; tetapi tiada alasan mengapa kita tak akan mencapai pengetahuan itu, kalaupun sesudah berabad-abad dan bersenjatakan pengetahuan itu menghasilkan zat-telur-buatan. Tetapi jika kita mencapai itu, maka bersamaan itu kita sudah akan menghasilkan kehidupan organik, karena kehidupan, dari bentuk-bentuknya yang terendah sampai pada yang tertinggi, hanyalah cara eksistensi yang normal dari benda-benda yang mengandung zat telur.

Akan tetapi segera setelah agnostikus kita itu membuat reserve-reserve mental yang formil ini, dia berbicara dan bertindak sebagai seorang materialis tulen pada dasarnya. Dia bisa berkata bahwa, sepanjang yang kita ketahui, materi dan gerak, atau seperti yang dinamakan sekarang, energi, tidak dapat diciptakan ataupun dihancurkan, tetapi bahwa pada kita tidak ada bukti bahwa mereka tidak diciptakan pada satu atau lain waktu. Tetapi jika orang mencoba menggunakan pengakuan ini untuk menentang dia dalam sesuatu hal tertentu, maka dia akan cepat-cepat menyatakan tidak bisa diterima. Jika dia mengakui kemungkinan spiritualisme in abstracto, dia tidak mau tahu hal itu in concreto. Sepanjang yang kita ketahui dan dapat kita ketahui, dia akan mengatakan kepada orang bahwa tidak ada Pencipta dan tidak ada Penguasa alam-dunia; sejauh mengenai kita, materi dan energi tidak dapat diciptakan ataupun dihancurkan; bagi kita, pikiran adalah cara energi, suatu fungsi otak; semua yang kita ketahui ialah bahwa dunia materiil dikuasai oleh hukum-hukum yang tak dapat diubah, dan seterusnya. Dengan demikian, selama dia seorang ilmiah, selama dia mengetahui sesuatu, dia adalah seorang materialis; di luar ilmunya, dalam lapangan-lapangan yang sama sekali tidak dia kenal, dia terjemahkan ketidaktahuannya ke dalam bahasa Yunani dan menamakannya agnostisisme.

Bagaimanapun juga, satu hal kiranya jelas: kalaupun saja seorang agnostikus, adalah jelas bahwa saya tidak bisa menamakan konsepsi sejarah yang dibagankan dalam buku kecil ini sebagai “agnostisisme histori”. Orang-orang yang beragama akan menertawakan saya, kaum agonstikus dengan marah akan bertanya, apakah saya hendak mempermainkan mereka? Dan demikianlah saya harap kaum terhormat Inggris pun tidak akan terlalu terkejut jika saya gunakan, dalam bahasa Inggris maupun dalam begitu banyak bahasa lainnya, istilah “materialisme histori”, untuk menamakan pandangan dari haluan sejarah yang mencari sebab terakhir dan tenaga penggerak besar dari semua kejadian sejarah yang penting dalam perkembangan ekonomi masyarakat, dalam pergantian cara-cara produksi dan pertukaran, dalam pembagian sebagai akibatnya dari masyarakat ke dalam kelas-kelas yang berbeda-beda dan dalam perjuangan-perjuangan dari kelas-kelas ini di antara satu sama lain.

Kemurahan hati ini barangkali akan makin lebih cepat diberikan kepada saya jika saya tunjukkan bahwa materialisme histori dapat menguntungkan bahkan bagi kaum terhormat Inggris pun. Telah saya sebutkan kenyataan bahwa kira-kira empat puluh atau lima puluh tahun yang lalu, seseorang asing yang berkebudayaan yang menetap tinggal di Inggris terkejut dengan apa yang pada waktu itu pasti dianggapnya sebagai kegila-gilaan keagamaan dan ketololan kelas-tengah yang terhormat itu. Sekarang akan saya buktikan bahwa kelas-tengah Inggris yang terhormat pada masa itu tidak setolol seperti tampaknya bagi orang asing yang inteligen. Kecenderungan-kecenderungan keagamaannya dapat dijelaskan.

Ketika Eropa muncul dari Abad Pertengahan, kelas-tengah yang sedang naik di kota-kota merupakan elemennya yang revolusioner. Ia telah memenangkan kedudukan yang diakui di dalam organisasi feodal zaman pertengahan, tetapi kedudukan ini juga telah menjadi terlalu sempit bagi daya-meluasnya. Perkembangan kelas-tengah, borjuasi, menjadi bertentangan dengan pertahanan sistem feodal; karena itu sistem feodal mesti runtuh.

Tetapi pusat internasional yang besar dari feodalisme adalah Gereja Rum Katolik. Ia mempersatukan seluruh Eropa Barat yang terfeodalisasi, kendatipun segala peperangan dalam negeri, menjadi satu sistem politik yang besar, yang berlawanan baik dengan orang-orang Yunani schismatik maupun dengan negeri-negeri Islam. Ia mengelilingi lembaga-lembaga feodal dengan lingkaran cahaya pentahbisan ke-Tuhanan. Ia telah mengorganisasi hierarkinya sendiri menurut model feodal dan akhirnya ia sendiri adalah jauh lebih daripada tuan feodal yang sangat kuat memegang, sebagaimana dilakukannya, sepertiga penuh dari tanah dunia Katolik. Sebelum feodalisme yang tidak suci dapat diserang dengan berhasil baik di setiap negeri dan secara detail, maka ini, organisasi pusatnya yang kudus, harus dihancurkan.

Lagipula, sejajar dengan timbulnya kelas-tengah berlangsunglah kehidupan-kembali ilmu secara besar-besaran; astronomi, mekanika, fisika, anatomi, fisiologi, dikembangkan kembali. Dan borjuasi, untuk perkembangan produksi industrinya, membutuhkan ilmu yang menyelidiki sifat-sifat fisika dari benda-benda alam dan cara-cara bekerjanya kekuatan-kekuatan alam. Sampai sekarang ilmu hanyalah menjadi pelayan yang hina dari Gereja, tidak diperbolehkan melangkahi batas-batas yang ditentukan oleh kepercayaan dan oleh karena itu tidaklah ada ilmu sama sekali. Ilmu memberontak melawan Gereja; borjuasi tidak bisa tanpa ilmu dan, karenanya, harus ikut serta dalam pemberontakan itu.

Yang tersebut di atas, meskipun hanya menyinggung dua dari hal-hal di mana kelas-tengah yang sedang naik pasti berbentrok dengan agama negeri, akan cukuplah menunjukkan bahwa, pertama, kelas yang sangat langsung berkepentingan akan perjuangan melawan hak-hak Gereja Rum adalah borjuasi; dan bahwa, kedua, setiap perjuangan melawan feodalisme pada waktu itu harus memakai kedok agama, harus pertama-tama ditunjukkan terhadap Gereja. Tetapi jika universitas-universitas dan kaum pedagang di kota-kota memulai seruannya, maka pastilah akan mendapatkan, dan betul telah mendapatkan, gema yang kuat di kalangan massa Rakyat pedesaan, kaum petani, yang di mana-mana, harus berjuang untuk hidup mereka sendiri melawan tuan-tuan feodal mereka, spirituil dan duniawi.

Perjuangan yang lama dari borjuasi melawan feodalisme memuncak dengan tiga pertempuran besar yang menentukan.

Yang pertama ialah apa yang disebut Reformasi Protestan di Jerman. Seruan perang melawan Gereja yang dilantangkan oleh Luther disambut oleh dua pemberontakan yang bersifat politik: pertama, pemberontakan kaum bangsawan rendahan di bawah Franz von Sickingen (1523), kemudian Perang Tani besar, 1525. Kedua-duanya dikalahkan, terutama sebagai akibat kebimbangan dari pihak-pihak yang berkepentingan, penduduk kota-kota – kebimbangan yang sebab-sebabnya tidak dapat kita masuki di sini. Dari saat itu perjungan merosot menjadi pertempuran antara pangeran-pangeran lokal dengan kekuasaan pusat dan berakhir dengan pencoretan Jerman, selama dua ratus tahun, dari nasion-nasion Eropa yang aktif dalam politik. Reformasi Luther memang menghasilkan kepercayaan baru, suatu agama yang disesuaikan dengan monarki absolut. Baru saja kaum petani di Jerman Timur Laut itu masuk Lutheranisme maka mereka merosot dari orang-orang merdeka menjadi hamba.

Tetapi di mana Luther gagal, Calvin menang. Kepercayaan Calvin adalah kepercayaan yang cocok bagi borjuasi yang paling berani pada zamannya. Ajarannya tentang takdir adalah pernyataan keagamaan dari kenyataan bahwa dalam dunia persaingan dagang sukses atau kegagalan tidak bergantung pada aktivitet atau kepintaran seseorang, tetapi pada keadaan-keadaan yang tidak dapat dia kendalikan. Bukan karena dia yang mau atau karena dia yang menyelenggarakan, tetapi karena kemurahan hati kekuatan-kekuatan ekonomi tertinggi yang tidak dikenal; dan hal ini terutama benar pada periode revolusi ekonomi, ketika semua jalan dan pusat perdagangan yang lama diganti oleh yang baru, ketika India dan Amerika menjadi terbuka bagi dunia dan ketika barang-barang kepercayaan ekonomi yang paling keramat pun – nilai emas dan perak – mulai goyang dan ambruk. Konstitusi gereja Calvin sama sekali demokratis dan republiken; dan di mana kerajaan Tuhan direpublikkan, dapatkan kerajaan-kerajaan di dunia ini tetap tunduk kepada raja-raja, biskop-biskop dan tuan-tuan? Sementara Lutheranisme Jerman menjadi alat yang menurut dalam tangan pangeran-pangeran, Calvinisme mendirikan republik di Nederland dan partai-partai republiken yang aktif di Inggeris dan terutama di Skotlandia.

Dalam Calvinisme pergolakan borjuis kedua yang besar mendapatkan ajarannya yang sudah siap-jadi. Pergolakan ini terjadi di Inggris. Kelas-tengah di kota-kota yang menyebabkannya dan kaum pemilik tanah kecil pedesaan memperjuangkannya. Cukup aneh, dalam semua tiga pemberontakan borjuis yang besar itu, kaum tani menyediakan tentara yang harus melakukan pertempuran; dan kaum tani adalah justru kelas yang, demi kemenangan tercapai, pasti sekali jatuh bangkrut karena akibat-akibat ekonomi dari kemenangan itu. Seratus tahun sesudah Cromwell kaum pemilik tanah kecil Inggris hampir lenyap. Bagaimanapun juga, seandainya bukan karena kaum pemilik tanah kecil dan elemen plebejis di kota-kota, borjuasi sendiri tidak akan pernah memperjuangkan sampai titik penghabisan dan tidak akan pernah membawa Charles I ke penggantungan. Untuk menjamin kemenangan-kemenangan borjuasi yang sudah matang untuk dipetik pun pada waktu itu, revolusi harus diteruskan banyak lebih jauh lagi – persis seperti di Perancis dalam tahun 1793 dan di Jerman dalam tahun 1848. Ini rupanya memang menjadi salah satu hukum evolusi masyarakat borjuis.

Nah, atas ekses dari aktivitet revolusioner ini mesti menyusul reaksi yang tak terelakkan yang pada gilirannya melampaui titik di mana ia semestinya dapat mempertahankan diri. Sesudah serentetan kegoyangan-kegoyangan, titik berat baru akhirnya tercapai dan menjadi titik pangkal baru. Periode agung dari sejarah Inggris, yang terkenal bagi kaum yang terhormat dengan nama “Pemberontakan Besar”, dan perjuangan-perjuangan yang berikutnya, telah ditutup oleh peristiwa yang menurut perbandingan kecil yang dinamakan oleh ahli-ahli sejarah liberal “Revolusi Jaya”.

Titik pangkal yang baru itu adalah suatu kompromi antara kelas-tengah yang sedang naik dengan pemilik-pemilik tanah bekas feodal. Yang tersebut belakangan ini, meskipun seperti sekarang dinamakan kaum ningrat, sudah sejak lama berada di atas jalan yang membawa mereka menjadi seperti Louis Philippe di Perancis pada periode jauh kemudian, “borjuis pertama dari kerajaan”. Untunglah bagi Inggris, bahwa baron-baron feodal lama telah saling-bunuh dalam Peperangan Mawar Putih-Mawar Merah (1455-1485, Red. JP.). Pengganti-pengganti mereka, meskipun kebanyakan cangkokan dari keluarga-keluarga lama, namun mereka telah begitu banyak di luar garis keturunan langsung sehingga mereka merupakan suatu kelompok yang sama sekali baru, dengan kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan yang jauh lebih banyak borjuis daripada feodal. Mereka sepenuhnya mengerti akan nilai uang dan lekas-lekas mulai menaikkan sewa tanah mereka dengan mengusir ratusan petani kecil dan menggantinya dengan domba. Henry VIII, sementara memboroskan tanah-tanah Gereja, menciptakan tuan-tuan tanah borjuis baru secara besar-besaran; konfiskasi-konfiskasi milik-tanah yang tak terhitung banyaknya, yang dihadiahkan kembali kepada orang-orang kaya baru absolut atau relatif, dan terus berlangsung sepanjang abad ke-17, mempunyai akibat yang sama. Karena itu, mulai sejak Henry VII, “kaum ningrat” Inggris, jauh daripada merintangi perkembangan produksi industri, malah sebaliknya telah mencari keuntungan dengan itu secara tak langsung; dan selalu ada sebagian dari pemilik-pemilik tanah besar yang suka, karena alasan-alasan ekonomi dan politik, bekerjasama dengan orang-orang terkemuka dar borjuasi finans dan industri. Karena itu kompromi 1689 mudah dicapai. Rampasan-rampasan politik “kekayaan dan kedudukan”, diserahkan kepada keluarga-keluarga pemilik-tanah besar, asalkan kepentingan-kepentingan ekonomi dari kelas-tengah finans, manufaktur dan dagang cukup diperhatikan. Dan kepentingan-kepentingan ekonomi ini pada waktu itu adalah cukup kuat untuk menentukan politik umum nasion. Mungkin ada percekcokan-percekcokan mengenai hal-hal yang kecil-kecil tetapi, pada umumnya, oligarki aristokratis tahu baik sekali bahwa kemakmuran ekonominya sendiri rapat berhubungan dengan tak dapat diperbaiki lagi dengan kepentingan-kepentingan kelas-tengah industri dan dagang.

Mulai dari saat itu borjuasi adalah suatu komponen (bagian) yang rendah, tapi toh komponen yang diakui dari kelas-kelas yang berkuasa di Inggris. Dengan selebihnya dari mereka, borjuasi mempunyai kepentingan yang sama dalam terus menundukkan massa pekerja yang luas dari nasion. Pedagang atau tuan pabrik sendiri berada dalam kedudukan sebagai majikan, atau, seperti yang dinamakan sampai belakangan ini, sebagai “atasan yang wajar” bagi juru tulis-juru tulisnya, bagi orang-orang pekerjanya, bagi bujang-bujangnya. Kepentingannya ialah untuk mempekerjakan mereka sebanyak dan sebaik mungkin; untuk maksud ini mereka harus dilatih patuh dengan sepatutnya. Dia sendiri beribadat; agamanya telah memberikan panji di bawah mana dia telah berjuang melawan raja dan tuan-tuan; dia tidak lama-lama dalam menemukan kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh agama ini juga kepadanya untuk mempengaruhi pikiran-pikiran bawahannya yang wajar dan membikin mereka patuh kepada perintah-perintah para majikan yang Tuhan berkenan meletakkannya di atas mereka. Pendeknya, borjuasi Inggris sekarang harus mengambil bagian dalam menekan “pangkat-pangkat rendahan”, massa penghasil yang luas dari nasion, dan salah satu alat yang dipergunakan untuk maksud itu ialah pengaruh agama.

Ada fakta lain yang membantu memperkuat kecenderungan-kecenderungan keagamaan dari borjuasi. Yaitu timbulnya materialisme di Inggris. Doktrin baru ini tidak hanya mengejutkan perasaan-perasaan kesalehan dari kelas-tengah; ia mempermaklumkan diri sebagai filsafat yang hanya cocok bagi sarjana-sarjana dan orang-orang yang berkebudayaan di dunia, berlawanan dengan agama, yang cukup baik bagi massa yang tidak berpendidikan, termasuk borjuasi. Dengan Hobbes ia melangkah ke atas panggung sebagai pembela dari hak istimewa dan kemahakuasaan raja; ia menyerukan kepada monarki absolut supaya menekan puer robustus sed malitiousus[15], yaitu, Rakyat. Begitu pula dengan pengganti-pengganti Hobbes, dengan Bolingbroke, Shaftesburry, dll., bentuk deistis baru dari materialisme tetap merupakan ajaran yang artistokratis, esoteris (rahasia), dan karena itu membencikan kelas-tengah baik karena bid’ah keagamaannya maupun karena hubungan-hubungan politiknya yang anti-borjuis. Karena itu, berlawanan dengan materialisme dan deisme dari kaum ningrat, sekte-sekte Protestan yang telah memberikan bendera dan pasukan bertempur melawan Stuart-Stuart terus memperlengkapi kekuatan pokok kelas-tengah yang progresif dan sekarangpun merupakan tulang punggung “Partai Liberal Besar”.

Dalam pada itu materialisme berpindah dari Inggris ke Perancis, di mana ia bertemu dan berpadu dengan mazhab ahli-ahli filsafat materialis lain, suatu cabang Cartesianisme. Juga di Perancis ia mula-mula tetap merupakan ajaran yang aristokratis semata-mata. Tetapi segera watak revolusionernya menonjolkan diri. Kaum materialis Perancis tidak membatasi kritik mereka pada soal-soal kepercayaan agama; mereka meluaskannya pada tradisi ilmiah atau lembaga politik apapun juga yang mereka jumpai; dan untuk membuktikan tuntutan ajaran mereka untuk diterapkan secara universil, mereka mengambil jalan memintas yang paling pendek dan dengan berani menerapkannya pada semua subyek pengetahuan dalam karya raksasa sesudah mana mereka dinamakan – Ensiklopedi. Dengan demikian, dalam salah satu dari dua bentuknya – materialisme yang terang-terangan diakui atau deisme – ia menjadi kepercayaan seluruh pemuda Perancis yang beradab; sedemikian rupa sehingga ketika Revolusi Besar meletus, ajaran yang ditetaskan oleh kaum Royalis Inggris memberikan bendera teoritis kepada kaum Republiken dan Teroris Perancis dan menyediakan teks bagi Deklarasi Hak-Hak Manusia. Revolusi Besar Perancis adalah pemberontakan borjuasi yang ketiga, tetapi yang pertama yang telah mencampakkan sama sekali jubah keagamaan dan telah diperjuangkan menurut garis-garis politik yang tak bertopeng; ia adalah yang pertama pula yang sungguh-sungguh diperjuangkan sampai pada penghancuran salah satu dari yang bertempur, kaum ningrat, dan kemenangan penuh bagi yang lain, borjuasi. Di Inggris keterusan lembaga-lembaga sebelum revolusi dan sesudah revolusi, dan kompromi antara tuan-tuan tanah dengan kapitalis-kapitalis, menemukan pernyataannya dalam keterusan preseden-preseden hukum dan dalam pemeliharaan secara keagamaan bentuk-bentuk feodal dari hukum. Di Perancis Revolusi itu merupakan pemutusan hubungan sepenuhnya dengan tradisi-tradisi masa lampau; ia menghabisi sisa-sisa feodalisme yang terakhir sekali dan menciptakan dalam Kitab Undang-Undang Sipil suatu penyesuaian yang sangat pandai dari undang-undang Romawi kuno – hampir merupakan pernyataan sempurna dari hubungan-hubungan hukum yang sesuai dengan tingkatan ekonomi yang oleh Marx dinamakan produksi barang dagangan – pada syarat-syarat kapitalis modern; begitu amat pandai sehingga kita undang-undang revolusioner Perancis ini masih berlaku sebagai model bagi perubahan-perubahan undang-undang tentang hak milik di semua negeri lainnya, Inggris tak terkecuali. Akan tetapi janganlah kita lupakan bahwa jika undang-undang Inggris terus menyatakan hubungan-hubungan ekonomi masyarakat kapitalis dalam bahasa feodal yang barbar itu yang sesuai dengan hal yang dinyatakan, persis seperti ejaan Inggris sesuai dengan ucapan Inggris – vous écrives Londres et vous prononcez Constantinople,[16] kata seorang Perancis – undang-undang Inggris itu juga adalah satu-satunya undang-undang yang telah mempertahankan sepanjang berabad-abad serta memindahkan ke Amerika dan Daerah-Daerah jajahan, bagian yang terbesar dari kemerdekaan pribadi Jerman lama, pemerintahan-sendiri lokal dan kebebasan dari segala campur tangan kecuali dari pengadilan-pengadilan yang di Kontinen telah hilang selama periode monarki absolut dan yang di mana-mana pun masih belum sepenuhnya diperoleh kembali.

Kembali kepada borjuis Inggris kita. Revolusi Perancis telah memberikan kepadanya kesempatan yang sangat bagus, dengan bantuan kerajaan-kerajaan Kontinen, untuk menghancurkan perdagangan maritim Perancis, untuk mencaplok jajahan-jajahan Perancis dan untuk memusnahkan hak-hak Perancis yang terakhir akan persaingan di laut. Itulah satu alasan mengapa dia memeranginya. Alasan lain ialah bahwa cara-cara revolusi itu sangat berlawanan dengan kemauannya. Tidak hanya terorismenya yang “ngeri”, tetapi justru percobaan untuk melaksanakan kekuasaan borjuis sampai pada ekstrim. Apakah yang akan diperbuat oleh borjuis Inggris tanpa kaum ningratnya, yang telah mengajarkan tata cara kepadanya, seperti halnya mereka, dan mereka-reka kebiasaan-kebiasaan untuknya – yang menyediakan perwira-perwira tentara, yang menjaga ketertiban di dalam negeri dan angkatan laut yang merebut daerah-daerah jajahan dan pasar-pasar baru di luar negeri? Tentu ada minoritet yang progresif di kalangan borjuasi, minoritet yang kepentingan-kepentingannya tidak begitu baik diperhatikan dalam kompromi; golongan ini, yang terutama terdiri dari kelas-tengah yang kurang kaya, memang bersimpati kepada Revolusi, tetapi ia tak berdaya di dalam Parlemen.

Dengan begitu, jika materialisme telah menjadi kepercayaan Revolusi Perancis, maka borjuis Inggris yang saleh semakin lebih kuat lagi berpegang pada agamanya. Tidakkah pemerintahan teror di Paris membuktikkan apa kesudahannya jika naluri-naluri keagamaan dari massa hilang? Makin menyebar materialisme dari Perancis ke negeri-negeri tetangganya dan diperkuat oleh aliran-aliran ajaran yang sama, khususnya oleh filsafat Jerman, sebenarnya materialisme dan pikiran bebas pada umumnya di Kontinen makin menjadi syarat-syarat yang diperlukan bagi seorang yang beradab, makin tegarlah kelas-tengah Inggris berpaku pada kepercayaan-kepercayaan keagamaannya yang bermacam-macam itu. Kepercayaan-kepercayaan ini bisa berbeda satu sama lain, tetapi mereka kesemuanya adalah kepercayaan-kepercayaan keagamaan, kepercayaan-kepercayaan Kristen, yang tegas-nyata.

Sementara Revolusi menjamin kemenangan politik bagi borjuasi di Perancis, di Inggris Watt, Arkwright, Cartwright dan lain-lainnya memulai revolusi industri, yang sepenuhnya memindahkan titik berat kekuasaan ekonomi. Kekayaan borjuasi meningkat dengan banyak lebih cepat daripada kekayaan kaum ningrat yang bertanah. Di kalangan borjuasi sendiri kaum ningrat finans, bankir-bankir, dsb., makin lama makin didesak ke belakang oleh tuan-tuan pabrik. Kompromi tahun 1689, bahkan sesudah perubahan-perubahan secara berangsur-angsur yang telah dialaminya dengan menguntungkan borjuasi, tidak lagi sesuai dengan kedudukan pihak-pihak yang bersangkutan dengannya. Watak dari pihak-pihak ini juga telah berubah; borjuasi tahun 1830 sangat berlainan dengan borjuasi abad yang lalu. Kekuasaan politik yang masih berada pada kaum ningrat dan dipergunakan oleh mereka untuk menentang hak-hak borjuasi industri baru menjadi bertentangan dengan kepentingan-kepentingan ekonomi baru. Suatu perjuangan baru melawan kaum ningrat diperlukan; ia dapat berakhir hanya dengan kemenangan kekuasaan ekonomi baru. Pertama, Undang-Undang Reform diteruskan, kendatipun segala perlawanan, di bawah dorongan Revolusi Perancis 1830. Ia memberikan kepada borjuasi kedudukan yang diakui dan kuat di dalam Parlemen. Kemudian Pencabutan Undang-Undang Gandum[17] yang telah menegakkan, sekali untuk selama-lamanya, kekuasaan tertinggi borjuasi, dan terutama kekuasaan tertinggi dari bagiannya yang paling aktif, tuan-tuan pabrik, di atas kaum ningrat yang bertanah. Ini adalah kemenangan yang paling besar dari borjuasi; akan tetapi ia juga merupakan yang terakhir yang dicapainya untuk kepentingannya sendiri melulu. Kemenangan-kemenangan apapun yang diperolehnya kemudian, ia harus membaginya dengan suatu kekuatan sosial baru, mula-mula sekutunya, tetapi segera kemudian menjadi saingannya.

Revolusi industri telah menciptakan suatu kelas dari kaum kapitalis manufaktur besar, tetapi juga suatu kelas – dan kelas yang jauh lebih besar jumlahnya – kaum buruh manufaktur. Kelas ini berangsur-angsur bertambah besar jumlahnya, dengan makin dikuasainya satu demi satu cabang manufaktur oleh revolusi industri dan seimbang dengan itu ia bertambah kuasa. Kekuasaan ini dibuktikannya sudah dalam tahun 1824, dengan memaksa Parlemen yang enggan mencabut undang-undang yang melarang adanya gabungan-gabungan kaum buruh. Selama agitasi Reform, kaum buruh merupakan saya Radikal dari partai Reform; Undang-Undang 1832 sesudah mengecualikan mereka dari hak pilih, mereka merumuskan tuntutan-tuntutan mereka di dalam Piagam Rakyat (People’s Charter) dan menyusun diri, berlawanan dengan partai borjuis Anti-Undang-Undang Gandum yang besar, menjadi suatu partai yang berdiri sendiri, kaum Cartis, partai kaum buruh yang pertama dari zaman modern.

Kemudian datanglah revolusi-revolusi di Kontinen pada Februari dan Maret 1848, di mana kaum buruh memainkan peranan yang begitu menonjol dan, sekurang-kurangnya di Paris, mengajukan tuntutan-tuntutan yang tentu tak dapat diterima dari sudut pendirian masyarakat kapitalis. Dan lalu datang reaksi umum. Mula-mula kekalahan kaum Cartis pada 10 April 1848, kemudian penindasan pemberontakan kaum buruh Paris dalam bulan Juni tahun itu juga, lantas bencana-bencana pada tahun 1849 di Italia, Hongaria, Jerman Selatan dan akhirnya kemenangan Louis Bonaparte atas Paris, 2 Desember 1851. Sekurang-kurangnya untuk beberapa lamanya momok tuntutan-tuntutan kelas buruh ditindas, tetapi dengan biaya bagaimana! Jika borjuis Inggris sebelumnya telah meyakini akan perlunya memelihara Rakyat biasa tetap dalam suasana-hati keagamaan, betapa bertambahnya dia mesti merasakan perlunya itu sesudah semua pengalaman ini. Tak peduli ejekan-ejekan dari konco-konconya di Kontinen, dia terus mengeluarkan ribuan dan puluhan ribu, dari tahun ke tahun, untuk evangelisasi (penasranian) pangkat-pangkat rendahan; tidak puas dengan mesin-mesin keagamaan dalam negerinya sendiri, dia meminta pertolongan kepada Saudara Jonathan,[18] organisator yang terbesar dalam adanya agama sebagai suatu perdagangan dan mengimpor dari Amerika revivalisme-revivalisme, Moody dan Sankey dan sebangsanya; dan akhirnya dia menerima bantuan yang berbahaya dari Bala Keselamatan, yang menghidupkan kembali propaganda agama Kristen yang awal mula, meminta pertolongan kepada kaum miskin sebagai orang-orang pilihan, melawan kapitalisme secara keagamaan dan dengan begitu memupuk unsur antagonisme kelas Kristen dahulu, yang pada suatu hari bisa menjadi menyusahkan bagi orang-orang kaya yang sekarang mendapatkan uang tunai untuk itu.

Rupa-rupanya suatu hukum perkembangan sejarah bahwa borjuasi di negeri Eropa manapun tak dapat memegang kekuasaan politik – sekurang-kurangnya untuk sesuatu jangka waktu – dengan cara yang sama khasnya seperti kaum ningrat feodal memegang kekuasaan politik itu selama Abad Pertengahan. Bahkan di Perancis, di mana feodalisme dimusnahkan sama sekali, borjuasi, sebagai keseluruhan, telah memegang Pemerintah sepenuhnya hanya selama periode-periode yang sangat pendek. Selama pemerintahan Louis Philippe, 1830-1848, sebagian yang sangat kecil dari borjuasi memerintah kerajaan itu; bagian yang jauh lebih besar dikecualikan dari hak pilih karena syarat yang tinggi. Di bawah Republik kedua, 1848-1851, seluruh borjuasi memerintah, tapi hanya selama tiga tahun saja; ketidaksanggupan mereka menyebabkan terjadinya kerajaan kedua. Barulah sekarang, dalam Republik ketiga, bahwa borjuasi sebagai keseluruhan telah memegang kemudi selama dua puluh tahun lebih; dan mereka sudah menunjukkan dengan hidup tanda-tanda dekadensi (kemerosotan). Suatu pemerintahan yang tahan lama dari borjuasi telah mungkin hanya di negeri-negeri seperti Amerika, di mana feodalisme tidak dikenal dan masyarakat dari sejak mula bertolak dari basis borjuis. Dan bahkan di Perancis dan Amerika pun, pengganti-pengganti borjuasi, kaum buruh, sudah sedang mengetuk pintu.

Di Inggris borjuasi belum pernah memegang kekuasaan yang utuh tak terbagi. Bahkan kemenangan pada tahun 1832 membiarkan kaum ningrat yang bertanah hampir semata-mata memiliki semua jabatan Pemerintah yang terpenting. Kerendahan hati dengan mana kelas-tengah yang kaya menyerah kepada hal ini tetap tak dapat dimengerti bagi saya sampai tuan pabrik besar Liberal, Tuan W.A. Forster, dalam pidato di muka umum memohon dengan sangat kepada orang-orang muda di Bradford supaya belajar bahasa Perancis, sebagai suatu jalan untuk maju di dunia, dan mengemukakan dari pengalamannya sendiri betapa tersipu-sipunya dia kelihatannya ketika dia, sebagai seorang Menteri Kabinet, harus bergerak di dalam pergaulan di mana bahasa Perancis sekurang-kurangnya sama diperlukannya seperti bahasa Inggris! Kenyataannya ialah bahwa kelas-tengah Inggris pada waktu itu biasanya adalah orang-orang kaya baru yang tidak terpelajar sama sekali dan harus menyerahkan kepada kaum ningrat kedudukan-kedudukan pemerintahan yang lebih tinggi di mana diminta syarat-syarat lain kecuali kesempatan insuler serta keangkuhan insuler saja, yang dibumbui dengan kecerdikan dagang.[19] Sekarangpun perdebatan-perdebatan dalam surat kabar yang tak ada putusnya tentang pendidikan kelas-tengah menunjukkan bahwa kelas-tengah Inggris masih memandang dirinya belum cukup baik untuk pendidikan yang terbaik dan mengharapkan sesuatu yang lebih sederhana. Dengan begitu sesudah pencabutan Undang-Undang Gandum pun, tampaknya sebagai hal yang wajar bahwa orang-orang yang telah menang, Cobden-Cobden, Bright-Bright, Foster-Foster, dll., harus tetap disingkirkan dari ambil bagian dalam pemerintahan resmi negeri, sampai dua puluh tahun kemudian. Undang-Undang Reform baru membuka pintu Kabinet bagi mereka. Borjuasi Inggris, hingga sekarang ini, begitu dalam diresapi oleh rasa rendah diri mereka di lapangan sosial sehingga mereka mempertahankan, atas biaya mereka sendiri dan nasion, suatu kasta perhiasan dari lebah-lebah jantan (orang yang tak bekerja, yang hidup atas kerja orang lain, – Red. JP) untuk mewakili nasion dengan patut pada semua fungsi kenegaraan: dan mereka memandang diri mereka sangat dihormati kapan saja salah seorang dari mereka ternyata patut untuk diterima masuk ke dalam badan (kelompok) pilihan dan berhak istimewa ini, yang sebenarnya mereka bikin sendiri.

Oleh karena itu kelas-tengah industri dan dagang belum berhasil dalam mendesak kaum ningrat yang bertanah sama sekali dari kekuasaan politik ketika saingan lain, kelas buruh, muncul di atas panggung. Reaksi sesudah gerakan Cartis dan revolusi-revolusi di Kontinen, dan juga perluasan yang tiada bandingnya dari perdagangan Inggris dari 1848-1866 (secara vulgar dikatakan disebabkan oleh Perdagangan Bebas saja, tetapi jauh lebih banyak karena perkembangan secara sangat besar-besaran dari jalan-jalan kereta api, kapal-kapal laut dan alat-alat perhubungan pada umumnya), teka mendorong lagi kelas buruh ke dalam ketergantungan kepada partai Liberal, dalam partai mana mereka, seperti dalam masa-masa pra-Cartis, merupakan sayap Radikal. Akan tetapi tuntutan mereka akan hak pilih berangsur-angsur menjadi tidak tertahan; sedang pemimpin-pemimpin Whig dari kaum Liberal “ketakutan”, Disraeli menunjukkan keunggulannya dengan membikin kaum Tory menyergap saat yang menguntungkan itu dan menjalankan hak pilih keluarga di daerah-daerah pemilihan kota, bersama-sama dengan pembagian kembali kursi-kursi. Kemudian menyusul pemungutan suara (secara rahasia); lalu dalam tahun 1884 perluasan hak pilih keluarga sampai pada daerah-daerah propinsi dan pembagian-kembali baru kursi-kursi, menurut mana daerah-daerah pemilihan sampai pada batas tertentu disamakan. Semua tindakan ini banyak menambah kekuatan kelas buruh dalam pemilihan, sebegitu banyak sehingga di sekurang-kurangnya 150 sampai 200 daerah pemilihan kelas itu memberikan mayoritet pemilih. Tetapi pemerintah parlementer adalah merupakan sekolah yang terbaik untuk mengajar rasa hormat kepada tradisi; jika kelas-tengah memandang dengan rasa segan dan takzim kepada apa yang oleh Lord John Manners secara berkelakar dinamakan “kaum ningrat tua kita”, maka massa Rakyat pekerja memandang dengan hormat serta takzim kepada apa yang biasa dinamakan sebagai “orang-orang atasan mereka”, kelas-tengah. Memang, buruh Inggris kira-kira lima belas tahun yang lalu merupakan buruh teladan, yang perhatiannya yang khidmat terhadap kedudukan majikan dan yang kerendah-hatinya yang tahu menahan diri dalam menuntut hak-hak untuk dirinya sendiri menghibur para ahli ekonomi Jerman kita dari aliran Katheder-Sosialis karena kecenderungan-kecenderungan Komunis serta revolusioner yang tak terobati lagi dari kaum buruh Jerman mereka sendiri.

Tetapi kelas-tengah Inggris – sebagai orang-orang dagang yang baik – melihat lebih jauh daripada para profesor Jerman. Mereka telah membagi, tapi dengan enggan, kekuasaan mereka dengan kelas buruh. Mereka telah belajar selama tahun-tahun Cartis apa yang sanggup diperbuat oleh puer robustus sed malitiosus, Rakyat, itu. Dan sejak waktu itu mereka telah terpaksa memasukkan bagian terbesar dari Piagam Rakyat ke dalam Undang-Undang Dasar Kerajaan Inggris. Sekarang, jika sewaktu-waktu Rakyat harus diatur dengan jalan moril, maka yang pertama serta terutama dari semua jalan moril untuk mempengaruhi massa adalah dan tetap – agama. Dari sinilah mayoritet-mayoritet pendeta pada Komisi-Komisi Sekolah, dari sinilah meningkatnya pemajakan diri sendiri dari borjuasi untuk menyokong segala macam revivalisme dari ritualisme sampai pada Bala-Keselamatan.

Dan sekarang datang kemenangan kaum terhormat Inggris atas pikiran bebas dan kekenduran keagamaan dari borjuis Kontinen. Kaum buruh Perancis dan Jerman telah menjadi memberontak. Mereka telah dijangkiti sama sekali oleh Sosialisme dan, karena alasan-alasan yang sangat baik, sama sekali tidak pilih-pilih mengenai kesahan jalan untuk memperoleh kekuasaan mereka sendiri. Di sini puer robustus dari hari ke hari menjadi lebih malitiosus. Bagi borjuasi Perancis dan Jerman tiada lagi akal-daya yang terakhir kecuali secara diam-diam melepaskan pikiran bebas mereka, bagaikan seorang anak muda ketika mabuk laut mulai merayap pada dirinya dengan diam-diam menjatuhkan rokok yang masih menyala yang dia bawah dengan lagaknya ke atas kapal; satu demi satu pengejek-pengejek menjadi saleh dalam tingkah laku di luar, dengan rasa hormat berbicara tentang Gereja, dogma-dogma dan upacara-upacaranya, dan bahkan menyesuaikan diri dengan yang tersebut belakangan di mana sebegitu jauh mereka tidak bisa lain. Borjuis Perancis bersantap maigre (tanpa hidangan daging-dagingan dan lemak. – Red JP.) pada hari-hari Jum’at, dan borjuis Jerman pada hari-hari Minggu terus duduk di bangku-bangku gereja mereka sampai selesai mendengarkan khotbah-khotbah Protestan yang lama. Mereka telah gagal dengan materialisme. “Die Religion muss dem Volk erhalten werden” - agama harus dipelihara supaya tetap hidup bagi Rakyat – itulah satu-satunya jalan dan jalan yang terakhir untuk menyelamatkan masyarakat dari keruntuhan sama sekali. Malang bagi mereka sendiri, mereka tidak menemukan hal ini sebelum mereka berusaha sekuat-kuatnya untuk menghancurkan agama untuk selama-lamanya. Dan sekarang gilirannya borjuis Inggris untuk mengejek dan berkata: “Nah bagaimana, kalian tolol, aku telah dapat mengatakan itu kepadamu dua ratus tahun yang lalu!”

Akan tetapi saya kuatir bahwa baik kelembaman keagamaan dari borjuis Inggris maupun pembalikan post festum (sesudah pesta, Red. JP) dari borjuis Kontinen tidak akan membendung pasang naik proletar. Tradisi merupakan kekuatan penghambat yang besar, merupakan vis inertiae (kekuatan kelembaman, Red. JP) dari sejarah, tetapi karena hanya pasif saja maka pastilah akan dipatahkan; dan dengan begitu agama tidak akan merupakan jaminan yang kekal bagi masyarakat kapitalis. Jika ide-ide hukum, filsafat dan keagamaan kita banyak-sedikitnya merupakan ranting-ranting yang jauh dari hubungan-hubungan ekonomi yang berlaku dalam suatu masyarakat tertentu, maka ide-ide sedemikian itu pada akhirnya tidak dapat menahan akibat-akibat dari perubahan yang sepenuhnya dalam hubungan-hubungan ini. Dan, jika kita tidak percaya kepada wahyu gaib, kita harus mengakui bahwa tak ada dalil-dalil agama yang akan cukup untuk menyangga suatu masyarakat yang goyah.

Sebenarnya, di Inggris pun kaum buruh telah mulai bergerak lagi. Mereka itu tiada ragu lagi dibelenggu oleh berbagai macam tradisi. Tradisi-tradisi borjuis, seperti kepercayaan yang tersebar luas bahwa hanya bisa ada dua partai, yaitu kaum Konservatif dan kaum Liberal, dan bahwa kelas buruh harus melaksanakan penyelamatannya dengan dan melalui Partai Liberal yang besar. Tradisi-tradisi kaum buruh, diwarisi dari usaha-usaha percobaan mereka yang pertama untuk beraksi secara bebas, seperti tidak diizinkannya semua pelamar yang belum menjalani masa-belajar yang tetap masuk Serikat-Serikat buruh lama yang sangat banyak itu; yang berarti pengembangbiakan, oleh setiap serikat buruh sedemikian itu, penjilat-penjilatnya sendiri. Tetapi kendatipun demikian kelas buruh Inggris sedang bergerak, seperti oleh Profesor Brentano pun dengan sedih sekali telah terpaksa harus dilaporkan kepada saudaranya kaum Katheder-Sosialis. Ia bergerak, seperti segala-galanya di Inggris, dengan langkah pelan-pelan dan teratur, dengan keragu-raguan di sini, dengan usaha-usaha coba-coba yang sedikit atau banyak tidak membawa hasil di sana; ia kadang-kadang bergerak dengan kecurigaan yang terlalu berhati-hati terhadap nama Sosialisme, sementara ia berangsur-angsur menyerap hakekatnya; dan gerakan itu meluas serta menguasai satu demi satu lapisan buruh. Ia sekarang telah mengebaskan kaum buruh yang tak ahli di East End London dari kelembaman mereka dan kita semuanya tahu betapa bagusnya dorongan yang pada gilirannya diberikan oleh kekuatan-kekuatan baru ini kepada gerakan. Dan jika kecepatan dari gerakan itu tidak mengimbangi ketidaksabaran sementara orang, maka janganlah hendaknya mereka lupa bahwa kelas buruhlah yang memelihara tetap hidupnya kualitet-kualitet yang terbaik dari watak Inggris dan bahwa jika sekali suatu langkah maju dicapai di Inggris, maka biasanya ia tak akan pernah hilang kemudian. Jika putra-putra kaum Cartis lama, karena alasan-alasan seperti diterangkan di atas, tidak memenuhi sama sekali tuntutan-tuntutan, maka cucu-cucunya menjanjikan kepada nenek mereka akan menjadi patut sebagai cucu mereka.

Tetapi kemenangan kelas buruh Eropa tidaklah bergantung pada Inggris saja. Ia bisa diperoleh hanya dengan kerjasama sekurang-kurangnya antara Inggris, Perancis dan Jerman. Di kedua negeri yang tersebut belakangan itu gerakan kelas buruh lebih maju daripada di Inggris. Di Jerman bahkan jarak kesuksesnya sudah dapat diukur. Kemajuan yang diperolehnya di sana selama dua puluh lima tahun yang terakhir tiada taranya. Ia maju dengan kecepatan yang senantiasa semakin meningkat. Jika kelas-tengah Jerman telah memperlihatkan sendiri kekurangannya yang menyedihkan dalam kemampuan politik, disiplin, keberanian, energi serta ketekunan, maka kelas buruh Jerman telah memberikan bukti yang luas dari semua kualitet ini. Selama seratus tahun yang lalu, Jerman merupakan titik pangkal dari pergolakan pertama kelas-tengah Eropa; sebagaimana keadaannya sekarang, apakah di luar batas-batas kemungkinan bahwa Jerman akan menjadi panggung pula dari kemenangan besar pertama proletariat Eropa?

20 April, 1892
F. Engels


Catatan

1 Dosen partikulir. – Red. JP.

2 Kaum Lassalean dan kaum Eisenacher: Dua partai di dalam gerakan kelas buruh Jerman dalam tahun 60-an dan awal 70-an abad ke-19.

Kaum Lasallean, pengikut-pengikut Ferdinand Lasalle, yang membentuk Perserikatan Umum Buruh Jerman dalam thn. 1863.

Kaum Eisenacher, penganut-penganut Marxisme; mereka berada di bawah pengaruh ideologi Karl Marx dan Friedrich Engels. Dipimpin oleh Wilhelm Liebknecht dan August Babel, mereka mendirikan Partai Sosial-Demokratis Jerman pada Kongres Eisenach dalam tahun 1869.

Kemajuan gerakan kelas buruh mendorong kedua partai itu untuk bergabung. Penggabungan itu dilaksanakan pada Kongres Gotha dalam tahun 1875, dibentuk satu Partai Buruh Sosialis Jerman di mana kaum Lasallean mewakili sayap oportunis – Red.

3 Vorwärts: organ sentral Sosial-Demokrasi Jerman sesudah Kongres Persatuan Gotha. Ia terbit di Leipzig dalam tahun 1876-’78. – Red.

4 Mark: persekutuan-hidup desa Jerman kuno. Di bawah judul ini Engels secara singkat menceritakan, dalam lampiran pada edisi Jerman yang pertama dan edisi Inggris yang pertama dari Sosialisme: Utopis dan llmiah, sejarah kaum tani Jerman dimulai dengan zaman purbakala – Red.

5 Sub judice: dalam pertimbangan – Red.

6 Agnostisisme (dari awalan Yunani a - tidak, dan gnosis – pengetahuan): Ajaran filsafat yang atau mengingkari adanya dunia materiil, menyatakan bahwa kita tak dapat mengetahui apakah ada sesuatu di luar sensasi-sensasi kita (ahli filsafat Inggris Hume), atau mengingkari kemungkinan mengetahui dunia materiil (ahli filsafat Jerman Kant). – Red.

7 Nominalisme berasal dari kata Latin nomen - nama dan merupakan suatu aliran filsafat abad pertengahan yang penganut-penganutnya mempertahankan bahwa konsepsi-konsepsi generik hanyalah nama-nama dari obyek-obyek yang analog. – Red.

8 “Qual” adalah suatu permainan kata-kata filsafat. Qual menurut arti katanya berarti siksaan, rasa sakit yang mendorong berbuat sesuatu macam aksi; bersamaan itu Böhme yang mistik itu menerjemahkan dalam kata Jerman sebagai sesuatu yang berarti qualitas dalam bahasa Latin; “qual”-nya dia adalah prinsip yang mengaktifkan yang timbul dari, dan pada gilirannya melancarkan, perkembangan spontan dari hal-ihwal, hubungan, atau orang yang terkena olehnya, bertentangan dengan rasa sakit yang ditimpakan dari luar. (Catatan Engels pada edisi bahasa Inggris).

9 Teistis: Bertalian dengan teisme, ajaran filsafat-religius di mana diakui adanya dewata perseorangan, pencipta alam-dunia. – Red.

10 Deisme: Suatu aliran filsafat-religius yang menolak ide dewata perseorangan tetapi mengakui ide ke-Tuhanan sebagai Sebab Pertama yang tidak bersifat perseorangan dari dunia. – Red.

11 Marx dan Engels, Die Heilige Familie, Frankfort a.M. 1845, hal. 201-204. (Catatan Engels).

Judul selengkapnya dari buku Marx dan Engels ini adalah: Die Heilige Familie oder Kritik der kritischen Kritik. Gegen Bruno Bauer und Konsorten. (Keluarga Suci, atau Kritik terhadap Kritik yang Kritis. Menentang Bruno Bauer dkk.) – Red.

12 P. S. Laplace, Traite de mécanique céleste (Uraian tentang Mekanisme Kesurgaan) Jilid I-V, Paris 1799-1825. – Red.

13 “Saya tidak memerlukan hipotese ini”. – Red.

14 Pada mulanya adalah perbuatan. Dari Faust Goethe. – Red.

15 Anak laki-laki yang kuat tapi jail – Red.

16 Kalian menulis London dan kalian ucapkan Konstantinopel. – Red. JP.

17 Undang-Undang Gandum: Perjuangan melawan pembatasan-pembatasan impor gandum di Inggris berakhir dalam tahun 1846 dengan diterimanya undang-undang yang menentukan penghapusan tarif-tarif gandum dalam tiga tahun. Dalam tahun 1849 sesuai dengan itu tarif-tarif itu dihapuskan. – Red.

18 Saudara Jonathan: nama-julukan dulu untuk Uncle Sam (Amerika Serikat). – Red.

19 Dan bahkan dalam soal-soal dagang pun, keangkuhan dari sovinisme nasional hanyalah merupakan penasehat yang buruk. Sampai baru-baru ini saja, tuan pabrik Inggris rata-rata memandang sebagai merendahkan bagi seorang Inggris berbicara dengan sesuatu bahasa lain kecuali bahasanya sendiri, dan lebih merasa bangga daripada sebaliknya akan kenyataan bahwa “orang-orang malang”, yaitu orang-orang asing, menetap tinggal di Inggris dan merebut dari tangan dia usaha untuk menjual barang-barang hasilnya ke luar negeri. Dia tidak pernah memperhatikan bahwa orang-orang asing ini, kebanyakan orang-orang Jerman, dengan begitu menguasai sebagian yang sangat besar dari perdagangan luar negeri Inggris, impor dan ekspor, dan bahwa perdagangan luar negeri yang langsung dari orang-orang Inggris menjadi terbatas hampir sama sekali pada tanah-tanah jajahan, Tiongkok, Amerika Serika dan Amerika Selatan. Juga dia tidak memperhatikan bahwa orang-orang Jerman ini berdagang dengan orang-orang Jerman lainnya di luar negeri, yang secara berangsur-angsur mengorganisasi suatu jaringan yang lengkap dari koloni-koloni dagang di seluruh dunia. Tetapi ketika Jerman, kira-kira empat puluh tahun yang lalu, mulai dengan serius membuat barang-barang pabrik untuk ekspor, jaringan ini secara mengagumkan membantu dalam mengubahnya, dalam tempo yang begitu pendek, dari sebuah negeri yang mengekspor gandum menjadi sebuah negeri pabrik kelas satu. Kemudian, kira-kira sepuluh tahun yang lalu, tuan pabrik Inggris menjadi ketakutan dan bertanya kepada para duta besar serta konsulnya bagaimana sampai dia tidak dapat lagi mempertahankan para langganannya. Jawabannya yang bulat: (1) Kau tidak mempelajari bahasa langgananmu tetapi mengharapkan dia berbicara dengan bahasamu sendiri; (2) Kau bahkan tidak berusaha menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan, kebiasaan-kebiasaan serta cita rasa-cita rasa langgananmu, tapi mengharapkan dia menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan, kebiasaan-kebiasaan serta cita rasa-cita rasa Inggrismu. (Catatan Engels).

Written by persinggahan

Februari 20, 2007 pada 7:1 am

Ditulis dalam tragedi