Namanya Hanum…
I
Aku tersaruk kembali disini, di kesenyapan pematang kawah bersebelah Tugu Surono. Khusukku mendengarkan pagi beku serta merta menggigilkan belulangku. Dan kabut yang terhampar rebah di kakiku, sayapnya melebar menjangkau cakrawala menyisakan kemahaluasan semata. Sindoro-Sumbing dan Merapi-Merbabu termenung seperti tafakur, sementara dibelakangnya Lawu samar-samar tersenyum padaku. Aku mendengar embun tempias turun satu-satu tiap detiknya. Detik terakhir penantiannya dia hanya bisa pasrah. Menunggu sunrise di pematang ini aku seperti menunggumu. Kepastiannya dan kemutlakan-Nya. Pertama semburat jingga, kemudian pelan-pelan ufuk Sindoro-Sumbing terbakar memerah darah.
Sunyi ikut-ikutan menggigil seiring merah yang memudar dan matahari laksana dikerek oleh tali raksasa merambat naik. Tepat dicelah Sindoro-Sumbing. Lalu cahaya merunyak benderang, berpendar menghalau kabut dan embun meruap pada kedalaman entah.
Seekor segung melintas, dan seperti biasa meninggalkan kentut yang bahkan bau belerangpun minder padanya. Meloncat beberapa kali dan nyungsep masuk kedalam liangnya sambil mulutnya menjepit keras-keras sebatang kemir.
Aku melihatmu di kaki puncak, melintasi plawangan dan terus naik dengan pasti. Pelan menyusur keatas melalui tepian lembah gunung Malang, mencapai benteng dan berbelok kekanan kearah tranggulasi. Menjauhi tugu Surono di kiri benteng.
II
Dalam keadaan letih dan basah dia sampai di rumahnya dan perubahan besar langsung terjadi. Sejak hari pertama pembebasannya, kulihat pertama kali dia tersenyum. Kemudian senyum-senyum berikutnya selalu mengembang lebar. Benar, memang kebebasan yang di dapat adalah cucuran darah dan air mata putra-putra terbaiknya.
Aku ingat waktu itu ketika jaring-jaring merah menjerat nyaris melumpuhkan kaki-kakimu, membelit dan mengumpankanmu pada laba-laba yang haus darah. Sunguh aku menyesal tak ada disampingnya waktu itu.
Menurutnya, telah banyak orang yang mencintai dan dicintainya saling susul menyusul berangkat mati. Berlubang atau terpotong dan menjadikan cinta hanya kemuskilan yang susah dimengerti dengan bahasa-bahasa awam.
Yulizar Hanum namanya. Fajar dibulan Juli begitu dia mengartikan Yulizarnya dengan manis. Melihat raut wajahnya pasti akan teringat Sabur dan lembahnya di timur tengah, lembah penghasil parfum dari perasan bunga violet, narcissus, palm, iris, myrtle, marjoram, atau lemon. Lembah yang di jaman Saladin, berhasil menunjukan cita-cita indah akan bebauan. Lembah yang melintasi ruang waktunya dengan symbol-symbol warnanya yang melekat pada pelangi. Dia memang lembah itu.
Pertama kali menemuinya beberapa tahun yang lalu, ketika tanah ini tercabik-cabik kemarahan. Semua pohon bunga tumbang, semua rumah rata dengan tanah dan semua hanya menyisakan ratusan ribu nisan tak ternamai.
Ya… hampir semuanya tumbang. Sang Kala berpesta, menari-nari sambil melafalkan kidung kehancuran. Kakinya yang hitam besar menginjak lembahnya. Sementara ketiga tangannya bergentayangan menggerayangi pantai, sungai, hutan dan gunung. Yang akhirnya bersatu menyerah dalam bendera kuning kematian.
Disebuah sudut yang agak rata aku sempatkan menyapa Iskandar, Di Tiro, Umar, Polem, Nyak Arif dan Beureuh yang sedang bergerak dalam Seudati yang heroik.
Dalam gelap, sesekali terbentang ruang-ruang berupa titik, muncul silih berganti ditengah-tengah putaran penanda zamannya. Mereka yang telah lama terlelap bangun. Bangun ketika harapan hampir tak akan bisa tumbuh ditanah yang penuh darah.
Aku menangis keras ketika kurasa Umar dan Beureuh mengahampiriku, memegang tanganku yang berlumpur hitam dan dengan lembut menuntunku menuju mata air. Sehelai daun dipetiknya dan dibuatlah sebuah tampungan air. Tetapi kuurungkan niat meminum mata air itu niat ketika kusadari bahwa semua yang berkumpul di tanah rata ini sedang menahan haus yang sangat.
Aku merasa malu, terutama malu kepadanya yang entah sejak kapan ternyata sudah berada dalam Seudati yang anggun itu.
“Mengapa kau urungkan niatmu untuk minum?” Gugatnya menyentakan kesadaranku.
“Bukankah kalian sudah terbiasa mengambil semuanya hingga tak ada yang tersisa sama sekali buat kami”
“Mengapa tidak kau teruskan, bukankah, telah kauambil kakek, nenek, bapak, ibu, kakak, adik dan saudara-saudara kami menjadi sekedar nama-nama yang bahkan tidak bisa teringatkan lagi?”
“Bukankah kalian telah membongkar gunung-gunung dan meratakan rawa-rawa dan menyerahkan kami pada tangan yang tak terlihat-nya. Tangan yang membawa kepedihan, ketika pasar-pasar kami kalian satukan dan batas-batas kalian kaburkan.”
Aku terdiam dan memang lebih baik diam.
Para pahlawan itu menepuk pundakku, membisikan mantra suci yang kemudian selalu terngiang-ngiang tak mau hilang.
“Melawan” Umar menyambung tegas. “Dulu kami melawan siapa saja, Portugis, Belanda dan Jawa. Bukan Potugis-nya, Bukan Belanda-nya dan bukan Jawa-nya. Tetapi kamu melawan tangan-tangan itu”
Percaya, aku sungguh harus percaya bagwa mereka yang telah lelap tidak sia-sia. Mereka menyuburkan lahan agar benih cepat bertunas. Tunas-tunas pemberani yang kelak berteriak tidak pada taring-taring sang Kala.
III
Tengah malah lama berlalu. Dan pelan tetapi yakin detik-demi detik waktu, menggeliat menjemput pagi. Aku sedang setengah terjaga, ketika bayangan Rabi’ah, sang pemandu jalan dari Bashrah, tiba-tiba menyisakan ruang di belantara hasrat-Nya. Waktuku terhenti, tertegun dan sadar aku langsung terpapar dalam pesonamu.
Terngiang kembali sang pemandu itu berkata ;
“Cintaku pada-Nya telah merampas keseluruhan diriku sehingga tak ada ruang, baik untuk mencinta atau membenci selainnya”
Ah.. aku mengeluh diam-diam, merasa sepi. Seandainya sedikit saja untaian mutiara Rabi’ah itu menerangiku mungkin tak perlu lagi ketakutan-ketakutanku ini. Ketakutan yang bahkan tak pernah ku mengerti sama sekali apa maknanya.
Ketakutan yang tiba-tiba saja kusadari di malam terakhir kita.
Seperti belati yang tajam menyadarkanku bahwa ruang dan waktu tetaplah menjadi ruang dan waktu itu sendiri. Mandiri serta terpisah, kemudian menelan semua yang ada di dalamnya. Aku, kamu dan semua ketakutan-ketakutan seperti terhisap dalam pusarannya. Terpusing-pusing hingga kemudian terjajar sadar.
Dari jauh aku mendengarmu berbisik menguatkan.
“Hadapi apa yang kau takutkan, kalahkan dia…kalahkan dia… “
Dikepalaku bayanganmu menari-nari menggerakan ritme sepi yang indah.
“Yang paling mengerti seberapa kuatnya kau hanya engkau, yang paling paham juga kau. Sekarang tinggal tentukan, berapa kekuatan yang mau gunakan untuk mengalahkan ketakutan mu tetapi semua terserah padamu…”(H Ney Me 2/20/2007 3:33:18 AM)
Mendengarmu barusan, aku jadi terkenang Iqbal. Walau taat sebagai murid Rumi dia tetap berbeda.
“Karena nasib kita telah ditentukan di ketiadaan kita, jika bukan engkau tidak merasa puas, maka jangan mengeluh”
Atau “Jika dunia tidak selaras denganmu atau tidak pas denganmu, Engkau selaras dengan dunia”
Tetapi Iqbal sang mistikus itu berteriak lantang;
“Jika dunia tidak selaras denganmu, Bangkit dan tantang ia!”
Tetapi sayangnya, kamu juga tahu bahwa aku bukan Iqbal yang gagah berani. Bahkan karena ketakutanku, aku harus membunuhnya sebelum bisa melihat matanya yang putih. Bila tidak, ia akan merayapi diam-diam, hingga ketika aku merasakan hembusan nafasnya, terlambat sudah. Ya terlambat. Nasi menjadi bubur, bukan saja perih langsung timbul, namun lebih lanjut semua akan tercabik-cabik menjadi serpihan darah, daging dan tulang belaka.
“Apa aku begitu menakutkan?” Sekejap aku merasa ribuan hari denyut jantung berebut menjadi satu dalam momen yang tunggal. Aku terengah, menahan perih yang tiba-tiba terasa.
“Sampai pilihan yang aku berikan pun kau tetap akan meninggalkanku?” (H Ney Me2/20/2007 3:51:33 AM)
“Hanum?” Panggilku nyaris berbisik, tetapi walau tak keras, gemanya memantul dan merambat cepat disetiap aliran darahku.
“Caramu menghadapi masalah bukan berarti dengan meminta masalah itu tidak datang. Tetapi hadapi dengan cucuran usaha itu lebih mulia”
“Tapi semua terserah kamu, aku sering menemui yang seperti ini… Toh, akhirnya aku juga yang kehilangan.”
Dari jantung, setiap partikelnya kemudian melebur dalam dingin. Debar-debarnya adalah bahasa setiap pori-pori kepedihan. Hujan dan gemericik airnya, bumi dan nyanyian malamnya, senandung cinta dan puji-pujiannya, embun dan anai-anai yang terbang berputar, semuanya bersujud dalam hening yang khidmat mengutukku.
Aku lelah duduk disini, disebuah sudut yang membuatku selalu terbatas memandangmu. Memandang wujud yang berkembang, hidup dan menghidupkan. Hanya bisa mengenangmu, menikmatimu lalu berusaha mengejarmu dan tersungkur akhirnya mendekapkan perih sekaligus membuainya.
“Bismillah ya..” Ucapku pelan.
“Iya, Sekarang perih memang menjadi milikku. Tetapi apapun itu aku sepakat denganmu. Bismillahirrahmannirrahim…Dia maha mengetahui yang terbaik bagi hambanya…” (H Ney Me 2/20/2007 4:10:19 AM)
“Amin… “
Ya…. Begitulah pada akhirnya.
