Archive for Februari 20th, 2007
Namanya Hanum…
I
Aku tersaruk kembali disini, di kesenyapan pematang kawah bersebelah Tugu Surono. Khusukku mendengarkan pagi beku serta merta menggigilkan belulangku. Dan kabut yang terhampar rebah di kakiku, sayapnya melebar menjangkau cakrawala menyisakan kemahaluasan semata. Sindoro-Sumbing dan Merapi-Merbabu termenung seperti tafakur, sementara dibelakangnya Lawu samar-samar tersenyum padaku. Aku mendengar embun tempias turun satu-satu tiap detiknya. Detik terakhir penantiannya dia hanya bisa pasrah. Menunggu sunrise di pematang ini aku seperti menunggumu. Kepastiannya dan kemutlakan-Nya. Pertama semburat jingga, kemudian pelan-pelan ufuk Sindoro-Sumbing terbakar memerah darah.
Sunyi ikut-ikutan menggigil seiring merah yang memudar dan matahari laksana dikerek oleh tali raksasa merambat naik. Tepat dicelah Sindoro-Sumbing. Lalu cahaya merunyak benderang, berpendar menghalau kabut dan embun meruap pada kedalaman entah.
Seekor segung melintas, dan seperti biasa meninggalkan kentut yang bahkan bau belerangpun minder padanya. Meloncat beberapa kali dan nyungsep masuk kedalam liangnya sambil mulutnya menjepit keras-keras sebatang kemir.
Baca entri selengkapnya »
Sosialisme: Utopis dan Ilmiah Engels 1880
Surat Edaran Marx dan Engels
Mula-mula diterbitkan dalam edisi Inggris dari tulisan Engels Socialism: Utopian and Scientific (Sosialisme: Utopis dan Ilmiah) yang terbit di London dalam tahun 1892.
Dicetak bersamaan waktu di Jerman dalam majalah Neue Zeit untuk 1892-1893.
Dicetak menurut naskah edisi Inggris tahun 1892. Ditulis dalam bahasa Inggris.
Introduksi Khusus Pada Edisi Inggris Tahun 1892
Buku kecil ini, semula, adalah sebagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Kira-kira pada tahun 1875, Dr. E. Dühring, privatdocent[1] pada Universitas Berlin, sekonyong-konyong dan dengan agak ramai-ramai mengumumkan pembalikannya kepada Sosialisme, dan menjadikan kepada khalayak-ramai Jerman tidak hanya suatu teori sosialis yang teliti-rapi, tetapi juga suatu rencana praktis yang lengkap untuk mereorganisasi masyarakat. Sudah barang tentu, dia menyerang pendahulu-pendahulunya; di atas segala-galanya dia menghormati Marx dengan melampiaskan kemarahannya kepadanya.
Islam dan Pembebasan
|
|
||
|
|
oleh: Asghar Ali Engineer Asal Usul Islam Suatu agama, baik yang mengaku sebagai agama wahyu maupun tidak, tidak bisa lepas dari pengaruh situasi asal-usulnya yang kompleks. Adanya campur tangan Tuhan sekalipun, tidak bisa terlepas dari pengaruh-pengaruh ini. Teologi Islam, sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qur’an, tidak mengenal konsep campur tangan Tuhan yang semena-mena, bahkan dalam teologi Asy’ariah sekalipun. Pernyataan Al-Qur’an dalam masalah ini sangat jelas. “Kamu tidak akan pernah menemukan perubahan apa pun pada sunnah Allah”.[1] Bahkan pahala dan siksa Tuhan, berbeda dengan teologi Calvinis, bukan atas dasar tindakan Tuhan yang semena-mena. Al-Qur’an menyatakan, “Tidak ada sesuatu pun bagi manusia, kecuali apa yang diupayakan”.[2] Tentu saja, petunjuk Allah (taufiq min Allah) tidak ditolak, tetapi petunjuk Allah itu, sepanjang perhatian teologi Al-Qur’an, tidaklah bersifat semena-mena. Taufiq (petunjuk Allah) dalam teologi Islam sesungguhnya merupakan potensi untuk bertindak yang diciptakan Tuhan, yang masih mempunyai kemungkinan dapat atau tidak dapat diaktualisasikan, karena manusia adalah “agen” yang bebas. |
|
