P E R S I N G G A H A N

Menunggu Di Masyar

with one comment

Setelah bertahun-tahun aku mencari, akhirnya aku akrab dengan wajahNya belakangan ini. Perdebatan panjang para filsafat Yunani ribuan tahun lalu telah finish bagiku. Dan bagiku kini sejarah serta kemunculan agama-agama tak lebih dari tayangan iklan yang sesekali nongol di layar TV buntutku.

WajahNya di negeri mempunyai dan menyimpan banyak sisi. Menyeringai penuh dengan darah di Aceh, Nias dan Jogja. Sementara wajah pemurah serta senyum pemaafNya bergantian tampil mewakili para perampok bangsa ini. Ah tuhan bagiku kau t’lah lama mati ketika keadilaNya tak bisa lagi membumi. Ketika ide hanya menjadi etalase maka bumi tak lebih menjadi panggung bencana.

UtusanMu pernah bilang “tawaqalah, tetapi ikat dulu untamu”. Artinya, kamu memberi kami ruang untuk ikhtiar dan berusaha, tetapi sampai batas mana kewenanganMu boleh di campuri ? Kami telah bendung sungai supaya banjir tak merusak, kami telah tanam pohon-pohon untuk hidup anak cucu kami kelak.

Tetapi tangan-tanganMU yang lain toh merusaknya. Menghabiskan sisa-sisanya seperti rayap yang mengunyah batang pohon lapuk. Selalu yang bisa aku lakukan hanya mencoba mengerti, walau susah.

Ribuan buku mungkin telah kutelan. Jutaan kalimat dan mantra-mantra telah aku selami maknanya. Tetapi mana rahmatan lil alamin yang terus Kau janjikan. Karena sampai kinipun masih kulihat mata-mata haus darah dan siap membunuh atas namaMu.

Ah.. aku pikir Kau kejam sekali. Katanya Kau akan mewariskan dunia ini pada orang-orang seperti aku. Si miskin yang mengetuk-ngetuk kesadaran IlahiMu. Kami mungkin telah berjongkok dan bersujud meratakan dahi di tanahmu jutaan kali. Tetapi mengapa Kau tak tersentuh. Ah .. bahkan Kau meninggalkan kami di belantara yang tak kami ketahui. Ketika Kamu bilang Iqra… ?

Bahkan tak ada waktu bagiku untuk diam dalam gelap. Negeri China telah kami jelajahi untuk menangkap kalamMu. Tetapi, apa yang kami dapat…? Para pewaris dunia ini, kaum papa ini. Dan kami dengan darah dan keringat selalu saja masih mengkais-kais tumpukan sampah peradabanMu.

Muhamad mungkin dulu pernah bersama kami. Ketika berhala-berhala dihancurkan dan dibakar maka masa depan dibayangkan. Dunia baru di bangun atas dasar masyarakat ummah yang setara. Sekarang ketika kami yang berada di waktu yang Kau bayangkan disergap jutaan berhala tak berbentuk.

Memang tak ada lagi Lat, Manat atau Hubal. Berhala-berhala pagan tolol tak bernyawa itu tinggallah sejarah dan terdepak ke musium. Tetapi berhala-berhala baru berbiak seperti amuba mengambil bentuk yang tak kasat mata.

Detik-detik kami di jejali oleh ajakan, rayuan dan bujukan untuk merampok. Engkau terlipat-lipat dan berubah warna menjadi deretan bilangan. Ya… aku yakin kini, Kau telah bersekutu dengan pemilik modal untuk menelantarkan kami.

Lalu kepada siapa kami memandangkan mata dan memasangkan telinga bila nabi-nabi telah lama mati dan kitab suci di tafsirkan orang buta.

Sementara kesetaraan hanya ada di Masyar dan bumi adalah ladang pembantaiannya. Mestikah kemenangan itu di raih di hari perhitungan? Surga-Mu, mestinya membumi dan bisa di nikmati sungai madunya. Bukan harapan yang membuat orang rela membunuh dirinya dengan mengikatkan bom di tubuhnya. Bukan dijanjikan tetapi diwujudkan, toh kita menyembah-MU. Bukan surga-Mu.

Written by persinggahan

Januari 21, 2007 pada 3:1 pm

Ditulis dalam tragedi

Ditandai dengan

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. [...] wajah-Nya menurutmu waktu itu? apakah seperti kata dia? atau kau punya pendapat [...]


Tinggalkan Balasan