P E R S I N G G A H A N

Ronggeng yang Erotis Itu

tinggalkan komentar »

Minggu, 27 Desember 2009
Srintil menjadi seperti mahluk asing yang tersesat gentayangan di kota-kota besar tanpa tujuan. Ia hanya pertunjukan. Tanpa pesan.

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang terkenal itu, diangkat jadi karya monolog yang dimainkan dengan apik oleh Happy Salma, walau tanpa pesan yang berarti.

Perempuan itu tampak kusut. Tubuhnya meringkuk dengan kaus oblong yang compang-camping dan celana kolor yang bahkan penuh najisnya sendiri. Badannya begitu kurus, cekung juga matanya yang mati dan wajah yang lenyap kemanusiaannya. Sesekali dia tawanya meledak, ngikik dan tembang lirih itu mengalun sepanjang waktu, siang dan malam.

Namanya Srintil. Bahkan usianya baru lewat dua puluh, ketika segala sampah, pahit dan getirnya hidup nyaris sudah dicicipinya semua. Menjadi yatim piatu ketika bongkrek menumpas sepertiga penghuni pedukuhan yang papa itu ditahun 1946. Juga ketika kakeknya meyakini indang ronggeng nitis pada tubuhnya yang kemudian merampas masa kecilnya, dilelang perawannya saat bukak klambu, patah hati ditinggal pergi kekasih, hingga dua tahun terbenam dalam penjara militer saat gegeran tahun 65.

Terakhir, ketika mulai berdamai dengan hidupnya dan harapan bertunas seketika juga ia tumpas. Mimpinya punah dan akhirnya terdampar di kerangkeng unit jiwa rumah sakit tentara kota kabupaten. Tentara Rasus yang membawanya. Teman kecil yang ditakdirkan menjadi jodohnya. Ya, Srintil yang ronggeng, Rasus prajurit Diponegoro, dan Dukuh Paruk yang purba berkelindan kait mengkait saling bergantung. Begitulah Ahmad Tohari dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang terkenal itu.

Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Desember 31, 2009 at 10:1 am

Menelusuri Jejak Poster

tinggalkan komentar »

Minggu, 27 Desember 2009
Poster-poster itu seperti merekam sejarah TIM dan segala aktifivasnya

Selain sebagai sarana promosi, di dalam tubuhnya poster pun menyimpan jejak. Dia tak lantas bisa didepak begitu saja jika suatu acara selesai dihelat. Poster-poster itu memiliki nyawa, sebagai penanda.

Lihatlah poster-poster yang memenuhi ruang pameran di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki. Isinya mewartakan berbagai pameran, mulai lukisan, teater, film, sastra, hingga sekadar ceramah budaya. Kegiatan-kegiatan itu telah berlangsung puluhan tahun silam. Beberapa pelaku di dalamnya bahkan mungkin juga sudah almarhum. Tapi, poster-poster itu masih lantang mengabarkan, meski tubuhnya sebagian lapuk dan mulai menguning di makan usia.

Poster-poster itu seperti merekam sejarah TIM dan segala aktifivasnya. Setidaknya, melalui poster itu, geliat TIM sebagai pusat kantong kesenian di Jakarta bisa dijejaki keberadaannya, terutama di masa kejayaannya pada dekade 70-an. Kali ini, poster-poster itulah yang dipamerkan, bukan lagi isi yang diwartakannya.

Tapi, toh memang isi tak lagi penting. Nilai estetika dan historis dari poster itulah yang menjadi nilai seni pada pameran kali ini. Lihatlah poster yang telah menguning itu. Informasinya ditulis besar-besar dengan huruf kapital memenuhi lebih dari separuh halaman. Sementara sisanya diisi ilustrasi sederhana. Beberapa coretan warna sambung-menyambung membentuk lingkaran. Di dalam lingkaran itu, coretan-coretan lain berwarna kuning juga membentuk lingkaran. Sederhana. s
Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Desember 31, 2009 at 10:1 am

Menggali Harta Karun di Galeri Nasional

tinggalkan komentar »

Minggu, 20 Desember 2009

“Orang di luar negeri tak akan percaya bila Galeri Nasional menyimpan karya-karya Kandinski.,”

“Orang di luar negeri tak akan percaya bila Galeri Nasional menyimpan karya-karya Kandinski.,”
Sejumlah karya master piece dari perupa lokal maupun internasional yang tersimpan di Galeri Nasional, dibongkar dan dipamerkan kepada publik hingga 5 Januari mendatang.

Empat figur mirip burung garuda itu tepat berada di pintu masuk ruang pameran. Menempel erat di dinding sementara dari perutnya menjuntai rantai yang mengikat sejenis “binatang” surealis berkaki belakang sepasang roda.

Burung garuda itu sendiri tak kalah “khayali”-nya, dadanya di “operasi” untuk mencangkokkan rangkaian elektronik lengkap dengan speaker kecil yang terus menerus mengeluarkan bunyi derit yang aneh.

Sepintas kriet-kriet itu, mirip ranjang tua dari besi, sementara yang lainnya mirip lengking tertahan anak anjing yang kesakitan. Born and Freedom begitu Heri Dono memberi label karya instalasinya.

Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Desember 20, 2009 at 2:1 am

Tafsir Ulang Tembang Usang ala Purwacaraka

tinggalkan komentar »

Tafsir Ulang Tembang Usang ala Purwacaraka

Minggu, 20 Desember 2009

Saking cepatnya pukulan itu, suaranya nyaris tak terputus. Mirip gemuruh air terjun
Di bawah sinar lampu sorot, sesosok pria duduk di depan piano.

Tanpa basa-basi, jemarinya langsung menari lincah. Mirip riak sungai yang deras nada itu mengalun. Kadang cepat dan tinggi, sesekali lambat menyayat. Terdengar asing, namun sepertinya hangat dan akrab.

Tak hanya piano, suara seruling juga meningkahi mengharu-biru, sepintas mirip nomor-nomor sendu milik Kitaro. Lalu simbal dan kemudian kendang yang menghentak-hentak, serta perkusi, bas, dan guitar yang jazzy.

Begitulah MUSIC ['mju:zik] – My Personal Definition oleh Purwacaraka yang tampil di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (15/12) itu dibuka. Musisi asal Bandung yang lebih dikenal sebagai komponis ini, mengaransemen ulang beberapa lagu lama, baik tembang tradisional maupun mancanegara.
Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Desember 20, 2009 at 2:1 am

Ditulis dalam Seni Budaya Koran Jakarta Minggu

Ditandai dengan ,

Cara Lain Mengemas Puisi

tinggalkan komentar »

Pada Revolusi Tikus Api, tampilan animasinya juga jauh dari memuaskan.

Puisi adalah bunyi karena dia adalah kata yang dilafalkan. Namun, kekuatan bunyi itu bukan terletak pada lantangnya kata-kata, tapi lebih pada maknanya. Membuat musikalisasi atau visualisasi puisi apapun tujuannya, tak kan berarti apa-apa jika tak memiliki kedalaman makna.

Suara dentam menggelegar mengejutkan, disusul asap yang berpilin-pilin pekat menyamarkan sosok beku yang bersila di atas batu itu. Dia berbusana gelap, panggung gelap, dengan rambut tergerai, juga suara dengung yang mistis dan bebunyian dari perangkat synthesizer itu benar-benar menghadirkan aura mistis. Lalu bait-bait puisi itu mengalir dalam suara berat dan penuh cekat mirip gumam mantra dukun purba…

Ketika zaman musim kelam

orang-orang bungkus hati

Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Desember 13, 2009 at 4:1 pm

Seni yang Berserak di Grand Kemang

tinggalkan komentar »

imajine all the people….., imajine all the people….. begitu terus diulang-ulang. Keren.

Sebuah mesin pemindai yang biasa untuk mendeteksi bawaan pengunjung, terpasang di depan pintu masuk Hotel Grand Kemang. Wajar, karena keberadaan mesin itu dibutuhkan untuk alasan keamanan tentunya. Yang tidak wajar, bentuk mesin itu yang kelewat mini. Walau lengkap dengan pernak-pernik mirip pemindai betulan –lengkap dengan roller hingga monitornya- alat itu terlalu kecil, bahkan untuk sekadar memeriksa dompet sekalipun. Besarnya hanya seukuran koper.

Dan ternyata memang betul-betul koper. Salah satu bagiannya dicoak sedemikian rupa hingga tembus disisi yang lain untuk menempatkan roller. Di bagian depan roller, bayi dalam keranjang kecil pulas tertidur, sementara sebuah peti mati lengkap dengan rangkaian bunganya berada di sisi keluar. Itulah karya instalasi Hardiman Radjab yang diberi tajuk Just a Moment.

Koper dimata Radjab, tak lagi menjadi sekedar barang beku, koper-koper itu oleh Radjab dibongkar maknanya, di kilik habis hingga kadang menghadirkan perih dan ironi. Lihat saja karya Made In Indonesia itu, dia membuka kopernya dan meletakan rumah-rumahan, bagunan, pohon-pohon yang meranggas sampai tiang bendera lengkap dengan merah putihnya di bagian bawah koper itu. Mirip betul sebuah kampung.

Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Desember 13, 2009 at 4:1 pm

Ditulis dalam Seni Budaya Koran Jakarta Minggu

Ditandai dengan ,