P E R S I N G G A H A N

Cara Lain Mengemas Puisi

tinggalkan komentar »

Pada Revolusi Tikus Api, tampilan animasinya juga jauh dari memuaskan.

Puisi adalah bunyi karena dia adalah kata yang dilafalkan. Namun, kekuatan bunyi itu bukan terletak pada lantangnya kata-kata, tapi lebih pada maknanya. Membuat musikalisasi atau visualisasi puisi apapun tujuannya, tak kan berarti apa-apa jika tak memiliki kedalaman makna.

Suara dentam menggelegar mengejutkan, disusul asap yang berpilin-pilin pekat menyamarkan sosok beku yang bersila di atas batu itu. Dia berbusana gelap, panggung gelap, dengan rambut tergerai, juga suara dengung yang mistis dan bebunyian dari perangkat synthesizer itu benar-benar menghadirkan aura mistis. Lalu bait-bait puisi itu mengalir dalam suara berat dan penuh cekat mirip gumam mantra dukun purba…

Ketika zaman musim kelam

orang-orang bungkus hati

Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Desember 13, 2009 at 4:1 pm

Seni yang Berserak di Grand Kemang

tinggalkan komentar »

imajine all the people….., imajine all the people….. begitu terus diulang-ulang. Keren.

Sebuah mesin pemindai yang biasa untuk mendeteksi bawaan pengunjung, terpasang di depan pintu masuk Hotel Grand Kemang. Wajar, karena keberadaan mesin itu dibutuhkan untuk alasan keamanan tentunya. Yang tidak wajar, bentuk mesin itu yang kelewat mini. Walau lengkap dengan pernak-pernik mirip pemindai betulan –lengkap dengan roller hingga monitornya- alat itu terlalu kecil, bahkan untuk sekadar memeriksa dompet sekalipun. Besarnya hanya seukuran koper.

Dan ternyata memang betul-betul koper. Salah satu bagiannya dicoak sedemikian rupa hingga tembus disisi yang lain untuk menempatkan roller. Di bagian depan roller, bayi dalam keranjang kecil pulas tertidur, sementara sebuah peti mati lengkap dengan rangkaian bunganya berada di sisi keluar. Itulah karya instalasi Hardiman Radjab yang diberi tajuk Just a Moment.

Koper dimata Radjab, tak lagi menjadi sekedar barang beku, koper-koper itu oleh Radjab dibongkar maknanya, di kilik habis hingga kadang menghadirkan perih dan ironi. Lihat saja karya Made In Indonesia itu, dia membuka kopernya dan meletakan rumah-rumahan, bagunan, pohon-pohon yang meranggas sampai tiang bendera lengkap dengan merah putihnya di bagian bawah koper itu. Mirip betul sebuah kampung.

Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Desember 13, 2009 at 4:1 pm

Ditulis dalam Seni Budaya Koran Jakarta Minggu

Ditandai dengan ,

Jalan Sunyi Seorang Djoni

tinggalkan komentar »

Daripada dikendalikan lebih baik jalan sendiri

Melewati ambang pintu Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki (TIM) mata langsung diteror. Tepat di depan pintu, bayi merah tergeletak begitu saja sendirian, kedinginan dan mungkin minta disusui. Ya, dia benar-benar sendirian.

Sampaikan pada siapa ibu bapakku, kucari mereka kalau ku besar nanti.

Karena atas debar dada mereka berdua, terlunta aku di jagad nyata.

Biadab, susui aku !

Tentu saja tak benar-benar ada bayi di ambang pintu itu. Ia hanyalah patung dari kayu nangka dan tak benar-benar sendirian. Di sebelahnya ada bayi juga, hanya saja dia tak lagi merah. Dia sedang belajar merangkak, namun mungkin juga tak sepenuhnya merangkak, karena mata dan konsentrasinya terpusat pada sebuah benda di depannya. Bukan mainan atau puting ibunya yang mengalirkan asi. Benda di depannya adalah selembar uang. Ya, uang seribu rupiah itulah yang memikatnya.

Di seberang bayi-bayi itu, agak ke pojok seorang perempuan rebah tertidur, sebelah kakinya dilipat sementara dadanya dibiarkan terbuka dan bayi di pelukannya nampak sekali rakus menghisap putingnya. Melihat ekspresinya, perempuan itu benar-benar lelah sekali tampaknya. Itu adalah  Lelah Siang, Lelah Malam, yang dalam sepotong kertas di bawahnya secarik kalimat mendeskripsikannya, kalau bukan kalian…. ya bapakmu. Bikin aku jadi lelah, sungguh.

Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Desember 6, 2009 at 4:1 pm

Ditulis dalam Seni Budaya Koran Jakarta Minggu

Ditandai dengan

Sebuah Jurus Tanpa Bentuk

tinggalkan komentar »

Benny Hoed menyebut ini fantastik, Jan Cornall mengidentifikasi sebagai realisme magis baru

Ada banyak aliran dalam sastra. Setiap pengarang pun berhak memilih jalan untuk “menemui” pembacanya.  Entah lewat jalur realisme, romantik, mistisisme, hingga fantastik. Semua sah-sah saja, asal jalan tersebut mampu mengantar sampai pada tujuan. Sesuatu yang bisa diserap pembaca, tentunya.

Paris adalah neraka. Iblis manis akan membunuhmu jika kau bermimpi tinggal di kota brengsek itu. Ketahuilah, Zita, sejak salah seorang kepercayaanku mengetahui aku mencintaimu, saat itu pula ia berniat membunuhmu.. .”

Begitulah Khun Sa memperingatkan Zita kekasih tersembunyinya tentang Paris yang tak seromantis cerita-cerita orang, tentang Paris yang penuh ular, juga tentang pembunuh yang akan dikirim orang kepercayaannya untuk menghabisi Zita. Dan Lyon adalah tempat dimana junta, bedil, dan penjara Burma tak mungkin menjangkaunya.

Ketika Khun Sa mati, di kota katredal itu Zita bersama Anjeli –adiknya- menyulap rumah kuno mirip kastil yang dibelikan Khun Sa menjadi hotel sederhana untuk turis-turis miskin. Bedil disimpan, tapi kerling mata, jari lentik dan gairah yang meletup menggantikannya.

Dan Paris kemudian menjadi awal dan akhir bagi cerita. Hadir tokoh Aljir Duarte –kurir heroin keturunan Aljazair-Spanyol- yang berhasil menaklukannya yang menurut Zita, “…bermata nakal, mulai berani meremas pantat dan mengajakku mandi bersama dalam kucuran shower yang sering macet, atau memelukku dari belakang ketika aku sedang berdandan di depan cermin buram, di kamar pribadiku yang berdekatan dengan gudang

Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

Desember 6, 2009 at 4:1 pm

Puisi-Puisi Yang Berteater

tinggalkan komentar »

Kampung tercetak pekat dalam ingatan. Semua merindu pulang.

Kalimat puitis bertaburan di atas panggung, berbaur dengan orang-orang yang berlarian bingung. Komunitas Berkat Yakin (KoBER) dari Lampung, coba mementaskan teater tentang pencarian dalam diri manusia yang tak pernah usai.

Belasan orang di panggung itu seperti ritual mudik menjelang lebaran. Tas besar-besar, ransel, hingga koper-koper itu penandanya. Hanya saja, melihat wajah dan matanya yang hampa, kumpulan itu seperti orang yang putus asa. Menanti yang tak kunjung tiba. Beku, tak bergerak mirip patung-patung terakota. Bagi mereka ruang dan waktu mungkin telah habis terjelajahi, perjalanan telah usai atau mungkin juga belum dimulai sama sekali. Hanya senyap yang meraja.

Tiga orang lagi datang bergabung, juga seorang lagi yang datang belakangan. Tak berubah. Mereka sepertinya malah makin larut dalam senyap yang lama itu, hingga kemudian seperti tersengat jutaan lebah,  kejut menyala dimata mereka mereka. Wajah-wajah menjadi panik dan mereka mulai bergerak serempak tanpa pola dan berlarian acak ke sana kemari. “Mana kapalnya?,” seorang berteriak putus asa. “Mana kapalnya?” sahut seseorang lagi. Panggung benar-benar menjadi mirip pelabuhan dengan tas besar-besar itu.

“Kenapa kita tidak dipanggil-panggil untuk berangkat?,” tanya seseorang  dari kumpulan itu.

“Mungkin kapalnya terlambat merapat,” seorang lainnya menjawab ragu. Dan gelisah mengalir.

“Kapan dia akan datang,” tanyanya lagi.

“Saat purnama dibelah tiga,” jawabnya.

“Kata siapa,” tanya lagi.

“Lebih baik kita naik kapalnya sekarang, itu kapalnya,” pungkasnya.

Panggung lalu kembali bising oleh gedebak-gedebuk orang yang berlarian dan senyap ketika kemudian mereka menghilang di baliknya.

Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

November 28, 2009 at 12:1 pm

Warna-Warni Made Wianta

tinggalkan komentar »

Wianta hanya perlu mengambil sketnya dari rak-rak lama, lalu sreet..memberinya warna

Berjalan menjelajah pameran lukisan Made Wianta di Galeri Nasional kali ini seperti ada yang berbeda. Warna-warna itu sepertinya begitu dominan menenggelamkan “bentuk” yang makin samar-samar. Samar lantaran tak sepenuhnya berjejak. Puluhan lukisan itu begitu meriah, memikat mata karena nyaris semua memakai warna-warna cerah. Seusai tema pameran: Spotlight Wianta. Dan benar, Wianta memang lampu sorot itu. Begitu terang.

Selain menggelar lukisan di Galeri Nasional (25 Nov-6  Des), kali ini Wianta juga meluncurkan sebuah buku  otobiografi seni rupa, Ruang di Bawah Telinga yang dibuat Afrizal Malna yang sekaligus menjadi kurator lukisannya. “Spotlight ini merupakan pembacaan ulang drawing-drawing Wianta,” ujar Afrizal yang ditemui usai pembukaan. Menurutnya, drawing-drawing yang berjumlah ribuan itu mirip laporan.

Melihat karya Wianta kali ini, setidaknya ada yang berbeda bila membandingkan karya-karya dia sebelumnya, khususnya dari periode Karangasem yang kental mengadopsi bentuk-bentuk alam dan budaya Bali itu.  Wianta yang dibesarkan dalam lingkup tradisi desa Apuan tempat tinggalnya sebelum pindah ke Denpasar, tentu akrab melihat bongkahan gunung yang hijau. Sugesti pasti terbentuk. Pun di Denpasar, bertemu dengan para penjual sesaji merupakan pengalaman empiris yang jelas memperkaya Wianta.

Baca entri selengkapnya »

Written by persinggahan

November 28, 2009 at 12:1 pm